Amman Mineral (AMMN) Beberkan Kinerja, Target, hingga Capex Bernilai Jumbo

PT AMMAN Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 252,14 juta atau setara Rp 3,99 triliun pada 2023, turun 76,94% dibanding tahun sebelumnya US$ 1,09 miliar.

Manajemen Amman Mineral menegaskan, perusahaan akan bangkit dengan lebih kuat, yang bakal didukung beroperasinya smelter tembaga perseroan pada tahun ini. Momentum rebound emiten berkode saham AMMN tersebut mulai terlihat pada kuartal IV-2023 yang mencatatkan laba bersih Rp 2,9 triliun dibanding kuartal III-2023 yang menelan rugi bersih Rp 811 miliar.

“Pada 2024, kami akan memaksimalkan produksi tambang, menyelesaikan proyek smelter tepat waktu, dan kami terus bernegosiasi dengan pemerintah untuk memberikan relaksasi kebijakan pelarangan ekspor. Kami optimistis pemerintah akan memberikan relaksasi, sehingga pada Mei 2024 kami bisa tetap ekspor yang akan membuat laporan keuangan perusahaan kuat pada tahun ini,” kata Presiden Direktur Amman Mineral, Alexander Ramlie dalam paparan kinerja keuangan di Jakarta, Rabu (27/3/2024).

Alex mengungkapkan, pihaknya me-nargetkan produksi tembaga akan naik 46,15% pada tahun ini menjadi 456 juta pon dibanding tahun lalu 312 juta pon. Produksi emas bakal melonjak 

117,92% menjadi 1.009 kilo ons dibanding 2023 yang sebanyak 463 kilo ons. Produksi emas pada tahun ini juga akan melebihi 2022 yang sebanyak 731 kilo ons.

Kinerja AMMN tahun ini juga akan di-dorong rampungnya proyek pembangunan smelter tembaga dan pemurnian logam mulia (precious metals refinery/PMR) senilai US$ 1 miliar. Smelter berkapasitas 900 ribu ton konsentrat tembaga per tahun ini, nantinya menghasilkan 220 ribu ton per tahun katoda tembaga dengan kemurnian 99,99% dan 830 ribu ton per tahun asam sulfat dengan kemurnian 98,5%. Katoda tembaga banyak digunakan oleh industri otomotif, elektronik, dan lainnya. Sementara asam sulfat dipakai sebagai bahan baku pupuk.

Dan, untuk PMR, pabrik pemurnian ini nantinya mampu mengolah 970 ton anoda slime per tahun menjadi 18 ton emas batangan dengan kemurnian 99,99%, 55 ton perak batangan dengan kemurnian 98,95%, dan 70 ton selenium dengan kemurnian 99,9%.

“Pembangunan smelter akan berjalan sesuai jadwal, dengan target penyelesaian mekanis pada akhir Mei 2024 sesuai ketentuan pemerintah. Setelah penye-lesaian mekanis smelter, kami akan fokus pada komisioning smelter dan peningkatan produksi selama 4-5 bulan untuk meng-hasilkan katoda tembaga pertama,” jelas Direktur Bisnis dan Komersial Amman Mineral, Naveen Chandralal.

Capex Jumbo 

Direktur Keuangan Amman Mineral, Arief Sidarto menambahkan bahwa perseroan telah menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga US$ 2 miliar atau setara Rp 31,7 triliun pada tahun ini untuk mendukung berbagai rencana ekspansi perusahaan.

Belanja modal AMMN tersebut naik 31,9% dibanding tahun lalu US$ 1,52 miliar.

Rinciannya, capex sebesar US$ 415 juta untuk penyelesaian smelter &PMR, US$ 438 juta untuk pembangunan PLTGU, LNG, dan fasilitas T&D, US$ 530 juta untuk ekspansi pabrik konsentrator, US$ 205 juta untuk infrastruktur pendukung, US$ 114 juta untuk desain ulang ekspansi pabrik konsentrator, serta sisanya US$ 303 juta untuk sustaining capex.

Pada 2023, emiten pemilik tambang emas Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat ini mencatatkan penjualan sebesar US$ 2,03 miliar, turun 28,16% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 2,83 miliar. Sebanyak 56,45% dari total penjualan atau sekitar US$ 1,15 miliar dikontribusi dari penjualan tembaga, dan sisanya 43,54% disumbang dari penjualan emas.

Penurunan penjualan AMMN tersebut sejalan dengan berkurangnya produksi emas dan tembaga perseroan. Tahun lalu, perseroan menghadapi berbagai tan-tangan, seperti cuaca buruk, perubahan peraturan yang berdampak negatif, dan peningkatan biaya kepatuhan.

Hal itu mendorong laba bersih perseroan terpangkas hingga 76,94% menjadi US$ 252,14 juta dari sebelumnya US$ 1,09 miliar. Manajemen AMMN menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan laba bersih perusahaan adalah adanya penurunan penjualan yang menyebabkan profitabilitas rendah, biaya depresiasi dan amortisasi yang lebih tinggi, kenaikan bea ekspor menjadi 10% dari sebelumnya 0%, serta kewajiban bagi hasil (IUPK NBP) 10% dari total laba bersih PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

 

Sumber : Investor.id, 28 Maret 2024