4 BUMN Tambang Gencar Investasi, Saham Apa yang Paling Layak Dibeli?

Empat emiten pertambangan milik pemerintah gencar ekspansi tahun ini. Lalu, manakah perusahaan tambang badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki prospek investasi paling bagus?

Anggota holding pertambangan MIND ID yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), terus menggeber ekspansi bisnis.

Di tengah kebutuhan investasi yang besar, keempat emiten tambang pelat merah tersebut juga masih menjadi perhatian investor, terutama karena prospek harga komoditas dan potensi pembagian dividen.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO), misalnya, memperkirakan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai hingga US$ 1,1 miliar pada 2027. Nilai tersebut menjadi puncak kebutuhan investasi perseroan dalam periode ekspansi Indonesia Growth Project (IGP).

IGP mencakup tiga proyek utama, yakni IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan pengembangan Blok Sorowako. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan tambang dan fasilitas pengolahan nikel, termasuk smelter berbasis teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).

Direktur Vale Indonesia Rizky Andhika Putra mengatakan, kebutuhan capex INCO pada 2026 diperkirakan hampir US$ 700 juta. Belanja modal tersebut antara lain digunakan untuk pengembangan tambang, proyek HPAL, dan sustaining capex.

Menurut Rizky, kebutuhan investasi akan mencapai puncaknya pada 2027 dengan nilai hingga US$ 1,1 miliar. Besarnya capex terutama dipengaruhi investasi pada smelter-smelter baru berbasis HPAL.

Setelah mencapai puncak pada 2027, kebutuhan capex INCO diperkirakan masih tinggi pada 2028. Perseroan menyiapkan sekitar US$ 800 juta, terutama untuk mendukung pengembangan proyek HPAL di Sorowako.

Di sisi lain, INCO masih memprioritaskan penyelesaian proyek pertumbuhan tersebut. Besarnya kebutuhan investasi membuat ruang pembagian dividen perlu mempertimbangkan kebutuhan pendanaan ekspansi.

Antam Genjot Hilirisasi

Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mengalokasikan belanja modal untuk memperkuat bisnis emas dan nikel, termasuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Pada bisnis emas, Antam mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik. Fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas produksi logam mulia dan memenuhi permintaan pasar domestik.

Di sektor nikel, Antam mengembangkan sejumlah proyek hilirisasi, termasuk smelter berbasis HPAL serta proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan Feni Haltim (FHT), Halmahera Timur.

Proyek RKEF tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$ 1,4 miliar dengan kapasitas sekitar 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun. Antam memiliki 40% kepemilikan pada proyek tersebut dan menargetkan operasional pada 2027.

Untuk proyek HPAL, Antam bersama mitranya mengembangkan fasilitas yang dirancang menghasilkan 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Proyek tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Aneka Tambang Arini Kasmira mengatakan, setiap investasi perseroan tetap dievaluasi berdasarkan arus kas, penciptaan nilai, dan tingkat pengembalian investasi.

Dengan demikian, ekspansi Antam tidak hanya mengejar pertumbuhan skala bisnis, tetapi juga mempertimbangkan tingkat return bagi pemegang saham.

PTBA Kejar Diversifikasi Bisnis

Berbeda dengan INCO dan ANTM yang agresif memperluas bisnis nikel, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai memperbesar sumber pertumbuhan dari bisnis non-batubara dan produk turunan batubara.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto mengatakan, perusahaan menargetkan bisnis non-batubara dan produk turunan batubara dapat menyumbang sekitar 20% terhadap total pendapatan dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

Untuk mengejar target tersebut, PTBA menyiapkan sejumlah proyek hilirisasi. Beberapa di antaranya adalah coal to dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), kalium humat, dan artificial graphite.

PTBA juga mengembangkan bisnis energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk pemanfaatan lahan pascatambang.

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap penjualan batubara mentah sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru dalam jangka panjang.

ANTM Jadi Pilihan Utama

Di antara empat saham anggota MIND ID tersebut, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menempatkan ANTM sebagai pilihan utama.

Menurut Elandry, kombinasi eksposur Antam terhadap emas dan nikel memberikan diversifikasi sumber pertumbuhan bagi perseroan.

Harga emas yang masih tinggi dinilai dapat menjadi bantalan kinerja ANTM. Sementara itu, bisnis nikel memberikan peluang pertumbuhan apabila keseimbangan permintaan dan pasokan komoditas tersebut mulai membaik.

Setelah ANTM, Elandry menempatkan TINS sebagai pilihan kedua. Prospek harga timah masih menjadi katalis bagi kinerja PT Timah, terutama karena permintaan dari industri elektronik dan semikonduktor.

TINS sebelumnya juga mencatat pemulihan produksi yang signifikan pada semester I-2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75% secara tahunan. Prospek harga timah turut didukung kebutuhan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

INCO berada di urutan ketiga. Menurut Elandry, cerita investasi Vale Indonesia lebih sesuai bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang.

Besarnya ekspansi hilirisasi memberikan peluang pertumbuhan, tetapi investor perlu mencermati risiko eksekusi proyek serta sensitivitas kinerja terhadap pergerakan harga nikel.

Sementara itu, PTBA berada di urutan terakhir. Elandry menilai saham PTBA masih menarik bagi investor yang mengejar arus kas dan dividend yield. Namun, potensi pertumbuhan struktural batubara dinilai lebih terbatas dibandingkan komoditas logam.

Elandry merekomendasikan beli atau akumulasi ANTM dengan target harga Rp 4.300-Rp 4.700. Untuk TINS, ia merekomendasikan buy on weakness dengan target Rp 4.700-Rp 5.000.

INCO dinilai menarik untuk diakumulasi dengan target harga Rp 6.200-Rp 7.000. Adapun PTBA dinilai layak untuk hold atau buy on weakness bagi investor yang mengejar dividen, dengan target harga Rp 3.200-Rp 3.400.

Rekomendasi tersebut tetap perlu dilihat sebagai pandangan analis, bukan kepastian kinerja saham. Investor juga perlu mempertimbangkan perkembangan harga komoditas, realisasi proyek, kebutuhan belanja modal, valuasi, serta kebijakan dividen masing-masing emiten.

Sumber:

– 11/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Laba Antam Tembus Rp 6,91 Triliun, Naik 34,4 Persen

baca selengkapnya

Strategi TINS Optimalkan Operasi dan Produksi Timah Sepanjang 2026

baca selengkapnya

Vale (INCO) Kejar Proyek HPAL Pomalaa Full Produksi pada 2027

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top