HARGA batu bara dunia masih dalam fase bearish. Namun, saham di sektor ini justru diprediksi menjadi salah satu yang paling menguntungkan sepanjang tahun ini.
Sektor batu bara tengah menanti setidaknya dua sentimen, yakni penerapan mitra instansi pengelola (MIP) dan penurunan tarif royalti batu bara.
Skema MIP dirancang untuk menstabilkan harga batu bara domestik. Harga untuk sektor kelistrikan dipatok pada US$70/ton, dan US$90 per ton untuk sektor non-kelistrikan.
Selain itu, MIP juga bertujuan untuk memastikan pasokan batu bara yang cukup bagi kebutuhan sektor kelistrikan, pupuk, dan semen, yang selama ini diatur melalui kebijakan domestic market obligation (DMO). Dengan adanya skema ini, industri batu bara domestik diharapkan dapat lebih stabil menghadapi fluktuasi harga global.
Sampai saat ini, belum ada kejelasan terkait kebijakan MIP batu bara. Namun, kabarnya kebijakan ini hanya tinggal menanti paraf Kementerian Keuangan.
“Jika kebijakan itu diimplementasikan, emiten batu bara dengan penjualan domestik yang besar seperti PTBA, INDY dan BUMI, menjadi yang paling diuntungkan,” ujar analis Verdhana Sekuritas Michael Edward dalam riset, dikutip Rabu (15/1/2025).
Jika MIP direalisasikan tahun ini, Michael memprediksi laba setelah pajak PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bisa naik hingga 59%. Kemudian, Laba PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bisa naik masing-masing 65% dan 52%.
Kemudian, soal penurunan tarif royalti batu bara. Menurut Michael, jika kebijakan ini terealisasi akan menguntungkan pemegang lisensi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indika Energy Tbk (INDY) dan BUMI.
Jika royalti batu bara turun, laba setelah pajak ADRO bisa naik 20% tahun ini. Kemudian, laba INDY dan BUMI masing-masing diprediksi naik 135% dan 44%. (dhf)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 15 Januari 2025
