Bertumbuhnya laba bersih PT Petrosea Tbk (PTRO) sepanjang 2025, yang ditopang oleh pertumbuhan pendapatan hingga ekspansi strategis, mempertegas potensi emiten afiliasi Prajogo Pangestu ini pada 2026. Sejumlah analis mempertahankan rekomendasi bullish.
Konsensus Bloomberg menghasilkan target harga saham PTRO dapat mencapai Rp16.000/saham untuk 12 bulan ke depan. Sedang, harga saham tengah berada di level Rp4.900/saham. Artinya, masih ada peluang cuan mencapai tiga digit dari posisi saat ini.
Target paling potensial datang dari analis KSI Research atau Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas yang menaikkan target harga saham pada riset laporannya. Alatas menyematkan target harga saham PTRO di harga Rp8.325/saham, dari sebelumnya Rp6.000/saham.
Analis Henan Sekuritas, Dennis Tay turut mengerek rekomendasi dan meninggikan target harga saham PTRO. Target harga darinya mencapai Rp16.000/saham, di mana sebelumnya ia juga menyematkan target Rp13.100/saham.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Oktavianus Harahap juga menegaskan rekomendasi beli saham PTRO. Ia mempertahankan target harga amat optimistis mencapai Rp17.000/saham.
Sepanjang tahun penuh 2025, PTRO berhasil mencatat pertumbuhan positif pendapatan bersih (net income) mencapai US$886,46 juta atau Rp14,8 triliun, menguat 281,4% dibanding dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year–on–year/yoy), dari US$690,81 juta atau Rp11,1 triliun pada 2024.
Kenaikan tersebut seiringan dengan meningkatnya aktivitas proyek dan jasa penunjang pertambangan yang menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.
Giat strategis PTRO menghasilkan torehan laba bersih mencapai sebesar US$28,81 juta atau Rp483,3 miliar (asumsi Rp16.778/US$), bertambah signifikan 197% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya US$9,7 juta atau Rp156,7 miliar (asumsi Rp16.155/US$).
Emiten Prajogo Pangestu, Petrosea juga gencar melangsungkan ekspansi bisnis melalui akuisisi. Anak Usaha perusahaan, PT Petrosea Engineering Procurement Construction (PEPC), mengakuisisi 51% saham PT Hafar Daya Konstruksi dan PT Hafar Daya Samudera beserta entitas anaknya pada 31 Agustus 2025 dengan nilai transaksi sekitar US$24,45 juta.
Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas portofolio bisnis konstruksi dan layanan energi.
Terlebih lagi, PTRO berhasil memperoleh sejumlah kontrak jangka panjang pada tahun 2025 yang memperkuat visibilitas pendapatan ke depan. Perusahaan mengantongi kontrak senilai Rp235,46 miliar dari PT Freeport Indonesia yang berlaku hingga 2028, serta kontrak sebesar Rp4,03 triliun dari PT Bara Prima Mandiri hingga 2032.
Dengan tren yang positif, Alatas menegaskan rekomendasi buy dengan target harga Rp8.325/saham.
Ditambah lagi, PTRO juga memperpanjang kontrak senilai Rp16 triliun dengan PT Vale Indonesia Tbk hingga 2034, serta memperoleh kontrak baru senilai Rp3,5 triliun dari PT Barasentosa Lestari yang berlaku hingga 2029.
“Serangkaian kontrak jangka panjang tersebut memperkuat visibilitas backlog perusahaan sekaligus mendukung keberlanjutan pendapatan (earnings sustainability) dalam beberapa tahun mendatang.”
Prospek positif tahun 2026 sangat terlihat bagi PTRO. Pendapatan dan laba diproyeksikan kembali meningkat, didukung oleh kontribusi akuisisi serta basis pendapatan yang semakin terdiversifikasi.
“Kami melihat peluang pertumbuhan yang didukung oleh transformasi berkelanjutan perusahaan pasca akuisisi HBS dan Hafar, yang memperluas eksposur segmen bisnis, meningkatkan kontribusi proyek luar negeri, serta memperkuat visibilitas pendapatan melalui komposisi pendapatan yang lebih terdiversifikasi,” jelas Alatas dalam riset terbarunya, mengutip Kamis. (fad)
