Antam (ANTM) Blak-blakan, Ada Target Ambisius di Emas

PT Antam Tbk (ANTM) telah menggelar earnings call bersama para pelaku pasar, yang mana diskusinya berfokus pada beberapa isu, antara lain pasokan emas, peluang peningkatan kuota produksi dari revisi RKAB nikel, dan progres ekspansi.

Antam (ANTM) bakal mendorong pengadaan pasokan emas dari lokal dan menargetkan volume penjualan emas 2026 menyamai all time high 2024.

ANTM membidik peningkatan pasokan emas dari domestik menjadi 50-60% pada 2026, seiring ramp-up dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), dan Freeport. Sepanjang tahun lalu, pasokan emas Antam dari domestik sekitar 40%, sisanya 60% dari impor.

ANTM optimistis volume penjualan emas pada 2026 dapat menyamai atau bahkan melebihi all time high pada 2024 yang mencapai 1,4 juta oz.

Run rate volume penjualan hingga Maret 2026 on track dari target tersebut, meski harga emas fluktuatif,” tulis Stockbit Sekuritas dalam catatan hasil ANTM Earnings Call, yang dikutip pada Senin (13/4/2026).

ANTM mencatatkan penurunan volume penjualan emas pada 2025 menjadi 37,4 ton dibandingkan 2024 yang mencapai 43,8 ton. Hal itu akibat disrupsi Freeport Indonesia menyusul force majeure di tambang Grasberg.

Sementara itu, mengenai nikel, ANTM mengamankan kuota penuh dalam RKAB. ANTM mendapatkan kuota produksi bijih secara penuh dalam RKAB 2026 sebesar 18,1 juta wmt dibandingkan RKAB 2025 yang sebanyak 16,4 juta wmt.

ANTM menargetkan biaya tunai (cash cost) selama 2026 berkisar US$ 21-24/wmt dibandingkan 2025 yang sebesar US$ 21,5/wmt – termasuk royalti baru.

Manajemen ANTM, menurut Stockbit Sekuritas, menilai bahwa peluang revisi naik RKAB di industri nikel nasional pada pertengahan 2026 tidak akan menggeser supply demand dan harga secara signifikan.

“ANTM tidak agresif meningkatkan kuota dalam window revisi RKAB, mengingat perseroan sudah dapat kuota penuh,” sebut Stockbit Sekuritas.

Menanggapi wacana pemerintah untuk menaikkan harga patokan mineral (HPM) nikel, manajemen ANTM memperkirakan dampaknya terhadap harga jual akan terbatas, dengan perubahan akan lebih terasa pada kombinasi premium dan baseline HPM.

Adapun soal wacana pemerintah untuk menerapkan bea ekspor nikel olahan, manajemen ANTM tidak membahas secara spesifik terkait dampaknya. Pemerintah hingga kini masih membahas tarif bea ekspor nikel olahan tersebut.

Untuk bauksit dan alumina, Antam (ANTM) memperoleh kuota produksi bauksit sebanyak 4,8 juta wmt dalam RKAB 2026, dengan kuota sebesar 3 juta wmt akan dialokasikan untuk tambang Tayan dan sisanya untuk tambang Mempawah.

SGAR Mempawah, yang secara efektif dimiliki 40% oleh ANTM, telah melaksanakan commissioning tahap pertama pada kuartal I-2026, dengan kualitas output sesuai standar Inalum dan ekspor.

“Manajemen ANTM menjelaskan bahwa diskusi dengan Inalum dan MIND ID untuk tambahan kapasitas SGAR sebesar 1 juta ton masih dalam tahap feasibility study,” ungkap Stockbit.

Kas Menumpuk, Bagaimana Dividen? 

Manajemen Antam (ANTM) tidak memberikan indikasi jumlah dividen untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut akan mutlak bergantung pada pemegang saham.

Meski demikian, ANTM memiliki likuiditas yang solid dengan kas Rp 8 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 2,5-3 triliun untuk working capital gold.

ANTM mengalokasikan capex Rp 7 triliun atau US$ 400 juta selama 2026. Sebanyak Rp 3,3 triliun di antaranya untuk membiayai Project Dragon. Sisanya untuk fasilitas precious metal refinery Gresik dan commissioning PT Feni Haltim.

Merespons kenaikan harga minyak terhadap cash cost sensitivity, manajemen ANTM menegaskan bahwa jika harga minyak Brent mencapai US$ 130/barel, maka cash cost akan naik sekitar 12% menjadi US$ 24/wmt. Dampak terhadap laba bersih berkisar 2-3% atau sekitar Rp 2 triliun. Ini menunjukkan buffer margin tebal.

ANTM membukukan laba bersih Rp 1,2 triliun pada kuartal IV-2025, turun 3% qoq atau terpangkas 15% yoy. Dengan begitu, total laba bersih selama 2025 mencapai Rp 7,2 triliun atau melejit 98% yoy. Namun, menurut Stockbit, perolehan tersebut di bawah ekspektasi, yakni 94% dari estimasi konsensus 2025.

Hasil tersebut dipengaruhi oleh one off items yang mencatatkan beban secara net sebesar Rp 750 miliar pada kuartal IV-2025.

Stockbit yakin pencapaian kinerja positif ANTM selama 2025 akan berlanjut pada 2026. Saham ANTM pun memiliki beberapa katalis positif.

Pertama, volume penjualan emas yang sempat terganggu selama semester II-2025 telah menunjukkan arah perbaikan dan berpotensi menyamai atau bahkan melampaui level all time high 2024 di 1,4 juta oz. Ini bakal ditopang oleh kepastian pasokan domestik serta tren permintaan yang tetap resilient meski harga emas melandai.

Kedua, ANTM mendapatkan kuota RKAB nikel secara penuh, dengan indikasi harga jual bijih yang membaik secara kuartalan.

“Selain itu, penjelasan manajemen ANTM atas beberapa one off items yang sudah dibukukan pada 2025 memperkecil risiko terjadinya impairment lanjutan pada 2026,” pungkas Stockbit. Editor: Jauhari Mahardhika

Sumber:

– 13/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Selasa, 14 April 2026

baca selengkapnya

MIND ID Bukukan Laba Bersih Rp29 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Dinilai Ganggu Iklim Usaha, IMA Minta Tinjau Ulang Wacana Penghentian Restitusi Pajak

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top