Antam Buka Progres Smelter Buat Proyek Baterai CATL, Belum Beres?

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam mengungkapkan hingga saat ini pabrik pengolahan atau smelter nikel pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Proyek Dragon masih belum rampung dibangun.

Dalam bahan paparan Direktur utama Antam Untung Budiharto yang ditampilkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, terungkap bahwa smelter RKEF di kawasan industri Feni Haltim (FHT) masih dalam proses pembangunan.

Sementara smelter HPAL perseroan yang digarap bersama Hong Kong CBL Limited, PT Nickel Cobalt Halmahera (NCH) hingga saat ini masih dilakukan evaluasi kelayakan desain dasar dan rencana investasi.

Dua tahapan tersebut bakal dilakukan sebelum akhirnya persiapan keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) diputuskan.

“Saat ini kami tengah mengembangkan dua proyek strategis yakni proyek Dragon di wilayah PT Sumberdaya Arindo dan proyek Titan di wilayah PT Nusa Karya Arindo yang menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem baterai nasional,” kata Untung dalam RDP di Komisi XII DPR, dikutip Selasa (14/4/2026).

Usaha Patungan Proyek Dragon (Bloomberg Technoz)

 

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Antam Wisnu Danandi Haryanto mengungkapkan pasokan produk olahan nikel ke pabrik baterai terintegrasi garapan konsorsium CBL yang dipimpin Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) bakal dipasok dari sejumlah mitra perusahaan pada tahap awal.

Alasannya, pembangunan smelter hidrometalurgi dan pirometalurgi Antam masih belum rampung sehingga belum dapat memasok olahan nikel ke pabrik baterai yang dikenal dengan nama Proyek Dragon tersebut.

“Untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku pabrik baterai di Karawang, pada tahap awal akan dipenuhi melalui skema multi source,” kata Wisnu kepada Bloomberg Technoz, Rabu (21/1/2026).

“Ke depan, Antam dan para mitra akan mengupayakan pemenuhan pasokan dari fasilitas midstream domestik, termasuk dari proyek HPAL, guna membentuk rantai ekosistem baterai EV yang terintegrasi di dalam negeri,” lanjut dia.

Wisnu menambahkan proyek pabrik baterai tersebut ditargetkan rampung dibangun pada akhir semester I-2026 dan direncanakan mulai beroperasi pada semester II-2026.

Dia mengklaim pembangunan proyek pabrik baterai tersebut berjalan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan.

“Pabrik baterai di Karawang direncanakan dapat beroperasi lebih dahulu mengingat fasilitas tersebut telah memiliki kontrak pasokan dengan produsen kendaraan listrik, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap dia.

Adapun, Wisnu mengungkapkan FID proyek smelter hidrometalurgi berbasis HPAL di Buli, Halmahera Timur hingga saat ini masih dalam tahap finalisasi.

Wisnu menyatakan proses konstruksi smelter HPAL perusahaan bakal dilakukan usai FID diperoleh. Akan tetapi, dia tak mengungkapkan kapan target FID dirampungkan.

Sementara itu, konstruksi smelter nikel pirometalurgi berbasis RKEF di kawasan industri Feni Haltim masih berlangsung usai dimulai pada semester II-2025.

Dua pabrik pemurnian nikel itu menjadi bagian dari investasi Antam bersama dengan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai China, CATL.

“Proyek RKEF saat ini masih berada pada tahap konstruksi, dan Proyek HPAL masih dalam tahap persetujuan investasi,” ujar Wisnu.

Sekadar catatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium yang dipimpin CATL beroperasi pada semester I-2026.

“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester I-2026 itu sudah kita resmikan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (8/1/2026). (azr/wdh)

Sumber:

– 14/04/2026

Temukan Informasi Terkini

ESDM Ubah Harga Patokan Nikel dan Bauksit, Berlaku 15 April 2026

baca selengkapnya

Dharma Henwa (DEWA) Beberkan Rencana IPO Anak Usaha Gayo Mineral Resources

baca selengkapnya

Adaro (AADI) Jual Tambang Batu Bara Kestrel Australia Rp41 Triliun

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top