Babak Baru Tambang Dairi Prima Mineral, Anak Usaha BRMS Grup Bakrie

PT Dairi Prima Mineral (DPM) memasuki babak baru pengembangan tambang timah hitam dan seng di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Setelah persetujuan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sempat dibatalkan Mahkamah Agung pada 2024, perusahaan kini membawa desain tambang yang berbeda.

Fokus kongsi anak usaha Grup Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd. (NFC China) tersebut tidak lagi hanya mengejar produksi mineral, tetapi membangun operasi tambang bawah tanah dengan jejak lingkungan yang jauh lebih kecil melalui sistem backfill tanpa bendungan tailing.

Perubahan tersebut menjadi titik balik perjalanan proyek yang telah berlangsung hampir tiga dekade. Sejak Kontrak Karya diteken pada 1998, DPM melewati serangkaian tahapan eksplorasi, penyusunan studi kelayakan, revisi desain tambang, hingga menghadapi gugatan masyarakat yang berujung pada pembatalan adendum AMDAL.

Kini, setelah revisi studi kelayakan dan dokumen lingkungan kembali memperoleh persetujuan pada 2026, perusahaan menilai pendekatan teknologi menjadi fondasi utama untuk menjawab kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.

Technical Manager DPM, Widianto mengatakan bahwa perubahan terbesar dalam rancangan proyek berada pada sistem pengelolaan tailing. Berbeda dengan praktik tambang konvensional yang menempatkan limbah hasil pengolahan di bendungan tailing atau tailing storage facility (TSF), DPM memilih mengembalikan material tersebut ke dalam lubang bekas tambang sebagai material pengisi atau backfill.

“Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan di permukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan. Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai backfill material,” ujarnya dalam sebuah diskusi, Senin (27/7/2026).

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan menyatakan tidak lagi menggunakan bendungan tailing selama operasi produksi berlangsung. Menurut Widianto, pemanfaatan tailing sebagai material backfill juga telah memperoleh persetujuan teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian dari dokumen AMDAL yang disetujui.

Perubahan konsep pengelolaan limbah itu sejalan dengan perubahan metode penambangan. DPM memilih sistem tambang bawah tanah menggunakan kombinasi longhole stoping dan cut and fill yang dinilai mampu meminimalkan pembukaan lahan di permukaan sekaligus menjaga kestabilan batuan bawah tanah.

Strategi tersebut akan diterapkan pada pengembangan tahap pertama di prospek Anjing Hitam yang memiliki cadangan 7,7 juta ton dengan kadar seng 12,5% dan timah hitam 7,3%.

Sementara itu, untuk prospek Lae Jehe yang memiliki cadangan sekitar 10 juta ton masih akan menjalani pengeboran lanjutan guna meningkatkan tingkat keyakinan data geologi sebelum memasuki tahap pengembangan.

Pada tahap awal operasi, DPM merancang fasilitas pengolahan berkapasitas satu juta ton bijih kering per tahun. Produksi nantinya akan menghasilkan konsentrat seng, konsentrat timah hitam, serta konsentrat sulfur yang dipasarkan ke fasilitas pemurnian.

Selama umur tambang, perusahaan memperkirakan mampu memproduksi sekitar 2,43 juta ton konsentrat kering dengan kandungan logam sekitar 821.150 ton seng dan 473.895 ton timah hitam.

Babak Baru Tambang Dairi Prima Mineral, Anak Usaha BRMS Grup Bakrie

Konsep Tambang Bawah Tanah Modern

Namun, bagi DPM, perubahan terbesar justru bukan berada pada kapasitas produksi, melainkan pada pendekatan pengelolaan lingkungan.

Pakar LAPI Institut Teknologi Bandung Irwan Iskandar menilai, konsep tambang bawah tanah modern memberikan gangguan yang jauh lebih kecil terhadap kawasan di permukaan dibandingkan tambang terbuka.

“Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint kerusakan atau footprint gangguan di permukaan itu kecil. Di mana kita membutuhkan space di permukaan untuk tempat tinggal, pertanian, dan aktivitas lainnya, gangguannya menjadi jauh lebih kecil. Ini langkah positif yang bisa disebut sebagai tambang bawah tanah modern,” ujarnya.

Menurut Irwan, perubahan paling mendasar dalam desain DPM justru terletak pada keputusan meninggalkan sistem tailing dump.

Dia mengungkapkan bahwa banyak kegagalan bendungan tailing di berbagai negara menjadi pelajaran penting bagi industri pertambangan global untuk mengembangkan teknologi yang lebih aman.

“Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump. Tailing dump memiliki risiko karena setelah tambang selesai, material itu tetap berada di sana sepanjang waktu. Kita belajar dari berbagai mining disaster di dunia, termasuk yang terjadi di Brasil pada 2019,” katanya.

Irwan menjelaskan bahwa sistem backfill juga memberikan manfaat tambahan karena DPM lebih dahulu memisahkan sekitar 32% kandungan sulfur dari bijih.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi potensi terbentuknya air asam tambang yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam operasi pertambangan logam.

Sisa sulfur yang masih terdapat dalam material kemudian dicampur dengan semen dan kapur sebelum dipompa kembali ke dalam ruang bekas tambang sehingga potensi oksidasi dapat ditekan.

Menurut dia, perhatian utama tambang bawah tanah modern bukan lagi sekadar bagaimana membuang tailing, melainkan bagaimana menjaga kualitas air tanah dan air permukaan selama umur tambang.

“Tambang juga punya dampak. Harus dipahami dampaknya, tetapi dampak itu harus bisa kita kelola. Salah satu yang paling penting adalah persoalan air, baik air permukaan maupun air tanah,” ujarnya.

Irwan menilai perubahan teknologi yang diterapkan DPM sejalan dengan kecenderungan industri pertambangan global yang mulai meninggalkan bendungan tailing konvensional menuju sistem dry stack maupun backfill. P

ilihan tersebut memang membutuhkan investasi teknologi yang lebih besar. Namun, konsekuensinya adalah jejak lahan yang lebih kecil, tingkat keselamatan yang lebih tinggi, serta pengurangan risiko lingkungan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, proyek Dairi kini tidak hanya menghadapi tantangan membangun tambang bawah tanah, tetapi juga membuktikan bahwa perubahan desain dan teknologi benar-benar mampu menjawab kekhawatiran lingkungan yang selama ini membayangi pengembangannya. Keberhasilan proyek ini pada akhirnya akan ditentukan bukan hanya oleh besarnya cadangan mineral yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menjaga kepercayaan publik melalui praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab. Editor : Nurbaiti

Sumber:

– 27/07/2026

Temukan Informasi Terkini

Tuntaskan Pembangunan Smelter Tembaga, Begini Rekomendasi Saham AMMN

baca selengkapnya

BRMS Hingga MDKA Menggali Cuan dari Tambang Bawah Tanah, Begini Progres Proyeknya

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Rontok, Biang Keroknya Ternyata Rumit

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top