Balik Arah, Outlook Tembaga 2025 Bearish Lagi Gegara Tarif Trump

PASAR tembaga tampaknya akan mengalami kesulitan di tengah rencana tambahan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) dari pemerintahan presiden terpilih Donald Trump, serta risiko ekonomi di China yang membebani konsumsi dan harga komoditas tahun depan.

Tembaga —yang secara luas dianggap sebagai barometer ekonomi global— diperkirakan akan mencapai rata-rata US$8.750 per ton pada 2025, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar US$10.250, tulis analis Citigroup Inc yang dipimpin oleh Max Layton dalam sebuah catatan, dikutip Bloomberg.

Lingkungan moneter yang ketat di negara-negara maju, serta pelonggaran dukungan kebijakan untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), juga akan menunda pemulihan aktivitas manufaktur global setelah 2025, kata mereka.

Tembaga telah kehilangan sekitar seperlima nilainya sejak mencapai rekor pada Mei karena kekhawatiran atas permintaan China dan dolar AS yang lebih kuat.

 

Trump telah mengancam akan mengenakan tarif 60% pada impor dari China, serta pungutan yang lebih kecil pada barang-barang dari tempat lain, yang menggelapkan prospek logam tersebut bahkan ketika para pedagang mengharapkan lebih banyak stimulus fiskal di ekonomi terbesar di Asia tersebut.

Akan ada “pasar tembaga olahan yang seimbang tahun depan,” kata para analis, melihat konsumsi datar dari segmen permintaan siklus dan pertumbuhan penggunaan dekarbonisasi yang secara luas diimbangi oleh pertumbuhan pasokan tambang di bawah tren tahun ini.

Harga mungkin naik menjadi US$10.000 pada 2026 karena aktivitas manufaktur global akhirnya merespons pelonggaran moneter, mereka menambahkan.

Citi juga memangkas perkiraan untuk logam lainnya, dengan prospek aluminium pada 2025 berkurang sekitar 4% menjadi US$2.640 per ton dan seng berkurang sekitar 5% menjadi US$2.800.

Harga tembaga bertengger di US$9.232/ton di London Metal Exchange (LME) pagi ini, menguat 1,2% dari hari sebelumnya.

Bank Dunia atau World Bank sebelumnya memproyeksikan harga tembaga turun 9% secara anual pada 2026 karena pertumbuhan pasokan yang lebih kuat.

Bank Dunia atau World Bank (WB) dalam laporan Commodity Market Outlok teranyarnya memaparkan penurunan harga bakal terjadi setelah proyeksi kenaikan 9% pada 2024 dan proyeksi pertumbuhan tipis 1% pada 2025, didukung oleh pertumbuhan permintaan yang stabil.

“Pada 2026, harga tembaga diproyeksikan turun sebesar 9% karena pertumbuhan pasokan yang lebih kuat. Namun, harga diperkirakan tetap lebih tinggi 50% di atas rata-rata periode 2015-2019 selama dua tahun ke depan,” tulis tim peneliti Bank Dunia dalam laporannya, medio bulan lalu.

Bank Dunia mencatat rerata harga tembaga berada di level US$8.444/ton pada Januari-Maret 2024. Harganya sempat menguat ke level US$9.751/ton pada April-Juni 2024 dan melemah ke level US$9.198/ton pada Juli-September 2024. 

Menurut Bank Dunia, harga tembaga turun 6% secara quarter to quarter (qtq) pada kuartal III-2024 karena tanda-tanda perlambatan aktivitas industri di beberapa negara ekonomi utama, dengan kenaikan harga baru-baru ini yang didukung oleh langkah-langkah stimulus di China juga terbukti berumur pendek.

Kekhawatiran pasokan, termasuk reli spekulatif pada akhir Mei yang mendorong harga mendekati level tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal II-2024, telah mereda karena peningkatan produksi dari produsen utama termasuk Cile, menyusul penyelesaian perselisihan perburuhan di tambang tembaga terbesar di dunia. (wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 10 Desember 2024

 

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top