Banyak Kabar Baik Tapi Kok Harga Batu Bara Tetap Ambruk 4 Hari?

Harga batu bara ambruk dalam empat hari beruntun. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (24/2/2026) ada di posisi US$ 118 atau anjlok 1,17%.

Penurunan tersebut memperpanjang derita harga batu bara dengan ambruk 3,3% dalam empat hari beruntun.

Harga batu bara justru melemah di tengah banyaknya kabar positif.

Sxcoal melaporkan pasar batu bara kokas China menunjukkan pemulihan bertahap setelah libur Tahun Baru Imlek, tetapi laju pemulihannya masih lambat karena permintaan industri baja belum kuat.

Aktivitas pasar mulai meningkat seiring kembalinya operasi tambang dan pabrik baja setelah libur. Namun permintaan dari pabrik baja masih terbatas, sehingga kenaikan harga dan transaksi berlangsung hati-hati.

Persediaan di beberapa pabrik dan pelabuhan masih cukup, membuat pembeli tidak terburu-buru menambah stok. Sebagian produsen menyesuaikan harga secara terbatas, mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah namun stabil.

Pelaku pasar menunggu pemulihan produksi baja dan konsumsi hilir untuk memastikan tren kenaikan yang lebih kuat.

Gangguan pasokan batu bara dari Indonesia juga mendorong kenaikan harga batu bara termal global, yang pada gilirannya memberi dukungan pada harga batu bara domestik China.

Pasokan ekspor Indonesia menyusut akibat faktor seperti cuaca, kendala logistik, atau pembatasan produksi, sehingga pasokan global mengetat.

Harga batu bara internasional naik, membuat impor menjadi lebih mahal bagi pembeli China.

Kondisi ini mengurangi tekanan pada harga batu bara domestik China, karena batu bara lokal menjadi relatif lebih kompetitif. Produsen dan pasar domestik China mendapat dukungan harga, meskipun permintaan internal belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, Thailand dilaporkan mengimpor 1,97 juta ton batu bara pada Januari 2026. Jumlah ini mencatat kenaikan signifikan 16,4% secara tahunan (year-on-year). Impor Januari juga melonjak tajam dibandingkan 958.500 ton yang diimpor pada Desember.

Batu bara termal termasuk bituminous, sub-bituminous, dan lignit menyumbang hampir seluruh volume impor. Sementara itu, impor antrasit hanya mencapai 6.125 ton dan briket 1.022 ton, berdasarkan data Bea Cukai.

Untuk sepanjang tahun 2025, Thailand mengimpor 17,74 juta ton batu bara, turun 3,4% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data Bea Cukai sebelumnya. CNBC INDONESIA RESEARCH (mae/mae)

Sumber:

– 25/02/2026

Temukan Informasi Terkini

Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis

baca selengkapnya

BUMA Internasional (DOID) Serap Capex US$170 Juta Sepanjang 2025

baca selengkapnya

Intip Rekomendasi Saham Petrosea (PTRO) Usai Restrukturisasi Internal

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top