Batu Bara RI Masih Akan Laris 2025, Beda dari Ramalan Bank Dunia

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berpendapat, berdasarkan hasil analisis internalnya, permintaan batu bara Indonesia tidak akan turun terlalu signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Adapun, pernyataan ini dilontarkan untuk menanggapi laporan dari Bank Dunia atau World Bank (WB) yang mengestimasikan penurunan konsumsi batu bara bakal terjadi pada 2025 dan makin parah pada 2026, menyusul proyeksi kemerosotan permintaan dari China, Eropa, dan Amerika Serikat (AS).

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq mengatakan proyeksi Bank Dunia tersebut justru menjadi salah satu peluang, sekaligus tantangan, bagi Indonesia dalam pengelolaan batu bara ke arah yang lebih strategis.

Apalagi, produksi batu bara Indonesia memang akan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, terutama terkait dengan ketahanan energi, yang permintaannya mengalami peningkatan dari sektor kelistrikan, industri smelter, serta bahan baku untuk hilirisasi batu bara.

“Sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang No. 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara [UU Minerba] dan sesuai dengan visi misi Presiden [Prabowo Subianto], produksi batu bara Indonesia akan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, kelebihan produksi akan dialokasikan untuk ekspor,” ujar Julian kepada Bloomberg Technoz, dikutip Senin (18/11/2024).

Produksi Nasional

Pada 2024, kata Julian, Kementerian ESDM merencanakan produksi batu bara nasional sebanyak 710 juta ton dan realisasi sampai akhir tahun ini diperkirakan mencapai 800 juta ton.

Sementara itu, untuk 2025, produksi batu bara Indonesia ditargetkan mencapai 740 juta ton, dengan porsi 240 juta ton untuk domestik dan 500 juta ton untuk ekspor.

Sementara itu, pada 2026, produksi batu bara diproyeksikan mengalami penurunan menjadi sejumlah 728 juta ton, dengan porsi ekspor menurun menjadi 480 juta ton dan domestik meningkat menjadi 248 juta ton.

Dalam laporan Commodity Markets Outlook terbarunya, Bank Dunia melandasi proyeksi penurunan permintaan batu bara di China, Eropa, dan AS pada 2026 dengan faktor makin banyaknya pembangkit listrik dari energi terbarukan (EBT) dan gas alam untuk menggantikan pembangkit berbasis batu bara.

Bank Dunia menggarisbawahi peningkatan permintaan batu bara masih terjadi pada tahun ini, seiring dengan konsumsi yang cukup besar dari India serta China yang digadang-gadang mampu mengompensasi penurunan permintaan dari Eropa. 

Namun, konsumsi batu bara global diperkirakan mulai menyusut pada 2025, di mana permintaan dari China menurun dan pertumbuhan permintaan India diproyeksikan melambat.

“Jika perkiraan ini terbukti akurat, konsumsi batu bara global akan mencapai puncaknya pada 2024, menandai tonggak penting dalam transisi energi global,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Mencuplik data Statista, negara yang menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia adalah China, dengan kapasitas 91,94 exajoules pada 2023. Sementara itu, konsumen kedua terbesar adalah India sebesar 21,98 exajoules dan AS sebesar 8,2 exajoules. (dov/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 18 November 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top