Bersiap Konsumsi Batu Bara Anjlok hingga 2026, Harga Ikut Drop?

BANK Dunia atau World Bank (WB) mengestimasikan penurunan konsumsi batu bara bakal terjadi pada 2025 dan makin parah pada 2026, menyusul proyeksi kemerosotan permintaan dari China, Eropa, dan Amerika Serikat (AS).

Dalam laporan Commodity Markets Outlook terbarunya, Bank Dunia melandasi proyeksi penurunan permintaan batu bara di China, Eropa, dan AS pada 2026 dengan faktor makin banyaknya pembangkit listrik dari energi terbarukan (EBT) dan gas alam untuk menggantikan pembangkit berbasis batu bara.

Bank Dunia menggarisbawahi peningkatan permintaan batu bara masih terjadi pada tahun ini, seiring dengan konsumsi yang cukup besar dari India serta China yang digadang-gadang mampu mengompensasi penurunan permintaan dari Eropa. 

Namun, konsumsi batu bara global diperkirakan mulai menyusut pada 2025, di mana permintaan dari China menurun dan pertumbuhan permintaan India diproyeksikan melambat.

“Jika perkiraan ini terbukti akurat, konsumsi batu bara global akan mencapai puncaknya pada 2024, menandai tonggak penting dalam transisi energi global,” tulis Bank Dunia dalam laporannya, dikutip Selasa (12/11/2024). 

Mencuplik data Statista, negara yang menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia adalah China, dengan kapasitas 91,94 exajoules pada 2023. Sementara itu, konsumen kedua terbesar adalah India sebesar 21,98 exajoules dan AS sebesar 8,2 exajoules.

Produksi dan Harga

Sejalan dengan permintaan yang menurun, produksi batu bara global diperkirakan menurun, terutama di China dan AS. Produksi juga diperkirakan turun di Indonesia, sejalan dengan target yang diumumkan oleh pemerintah.

Di antara produsen utama, hanya India yang diperkirakan masih mencatatkan pertumbuhan produksi batu bara dalam dua tahun ke depan untuk memenuhi permintaan domestik.

“Harga batu bara Australia diperkirakan turun sekitar 12% pada 2025 dan 2026 secara anual, melanjutkan penurunan tahunan yang diperkirakan sebesar 21% pada 2024,” tulis tim peneliti Bank Dunia.

Di lain sisi, harga batu bara Australia berada dalam tren peningkatan sepanjang 2024. Bank Dunia mencatat harga batu bara Australia meningkat dari US$126,9/ton pada Januari-Maret 2024 menjadi US$140,8/mt pada Juli-September 2024.

Di tingkat global, harga batu bara naik pada perdagangan akhir pekan lalu. Namun, harga si batu hitam masih terjebak dalam tren negatif. Pada Jumat (8/11/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini ditutup di US 142,2/ton. Naik 0,78% dibandingkan hari sebelumnya.

Akan tetapi, sepanjang pekan lalu, harga komoditas ini masih membukukan koreksi 1,28%. Dalam sebulan terakhir, harga terpangkas 5,7%. Bagi Indonesia, koreksi harga batu bara bukan hal yang menggembirakan. Pasalnya, batu bara adalah komoditas utama ekspor Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor bahan bakar mineral (yang didominasi batu bara) mencapai US$29,06 miliar sepanjang Januari-September 2024. Nilainya adalah 16,04% dari total ekspor nonmigas Tanah Air.

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS juga dinilai bisa membawa dampak bagi industri batu bara ke depannya. Pada masa pemerintahan pertamanya, Trump dikenal dengan kebijakan luar negeri yang agresif. Salah satunya adalah perang dagang dengan China, di mana AS menaikkan tarif bea masuk bagi produk-produk asal Negeri Panda.

“Kalau ekonomi China sampai memburuk karena kebijakan perang dagang, maka Indonesia akan terkena dampaknya. Ekspor komoditas utama seperti batu bara akan terpengaruh seiring pelemahan permintaan dari China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia,” papar riset Moody’s Analytics. (wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 12 November 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top