Bijih Besi Turun di Bawah US$90, Pertama Kalinya Sejak Akhir 2022

HARGA bijih besi mencapai titik terendah dalam 22 bulan — anjlok di bawah ambang batas US$90 per ton — akibat turunnya permintaan di pembeli terbesar China yang memicu kerugian.

Harga berjangka telah turun lebih dari sepertiga tahun ini, drop hampir 10% pekan lalu saja, dengan tekanan meningkat karena konsumsi baja yang lesu menghantam pabrik-pabrik China yang merugi. Namun, pembelian baja biasanya meningkat setelah musim panas, yang dapat memberikan kelegaan bagi produsen jika itu terjadi.

Konsumsi baja di China melemah karena perlambatan sektor real estat yang berkepanjangan di negara itu, dengan produsen baja terbesar di dunia, China Baowu Steel Group Corp, mengatakan industri itu bisa menghadapi krisis yang lebih buruk daripada kemerosotan pada 2008 dan 2015.

Sementara ekspor dan pertumbuhan di sektor lain melunakkan pukulan, pemotongan produksi baja telah membuat pasar bijih besi terbebani dengan kelebihan pasokan.

 

Pada Jumat, mantan Gubernur People’s Bank of  China (PBoC) Yi Gang mengatakan negaranya harus fokus untuk mengakhiri deflasi, dalam pengakuan langka oleh seorang tokoh terkemuka di China bahwa jatuhnya harga mengancam prospek pertumbuhan negara itu.

Bijih besi turun sebanyak 2,3% menjadi $89,60 per ton di Singapura, dan diperdagangkan pada US$89,95 pada pukul 8:12 pagi waktu setempat. Material itu juga turun di Dalian, bersama dengan kontrak baja di Shanghai.â§«

Sumber: bloombergtechnoz.com, 9 September 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top