Bos Freeport: Nilai Tambah Hilirisasi Tembaga Tak Sebesar Nikel

DIREKTUR Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas menjelaskan hilirisasi industri pertambangan tembaga tidaklah semudah nikel, dalam hal nilai tambah yang sanggup dihasilkan dari investasi pabrik pengolahan atau smelter.

Menurut Tony, di industri pertambangan tembaga, nilai tambah terbesar dapat diperoleh dari investasi smelter untuk mengolah bijih tembaga menjadi konsentrat tembaga. Akan tetapi, nilai tambah dari menghilirkan konsentrat ke tahap selanjutnya menjadi katoda tembaga justru sangat kecil.

Produksi konsentrat tembaga itulah yang selama ini menjadi tulang punggung penambang besar di Indonesia, seperti Freeport atau PT Amman Mineral International Tbk (AMMN); sebelum pemerintah menggaungkan kebijakan hilirisasi industri tambang yang memaksa perusahaan pertambangan tembaga untuk berinvestasi ke smelter katoda.

Berbeda dengan nikel, kata Tony, bijih tembaga memang tidak lagi jika dijual dalam bentuk mentah seperti nickel ore.  

“Kalau nickel ore masih banyak yang mau beli, bauxite ore masih banyak yang mau beli, tetapi copper ore tidak ada yang mau beli. Nah, tetapi dia [tembaga] nilai tambahnya paling besar dari [penghiliran ke level] konsentrat,” kata Tony dalam agenda Indonesia Mining Summit, belum lama ini.

Dia menjelaskan nilai tambah yang dihasilkan dari penghiliran bijih tembaga ke konsentrat mencapai 95%. “Tetapi dari konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga, itu cuma 5% nilai tambahnya,” ujarnya.

Kondisi tersebut terbalik dari komoditas nikel, di mana makin hilir produk turunan bijih yang dihasilkan, nilai tambahnya akan makin tinggi.

Makanya kalau dilihat angka-angka [ekspor nikel] dari US$2 miliar atau US$3 miliar lalu naik menjadi US$34 miliar, itu karena memang nilai tambahnya besar sekali. Mungkin sekitar 70%, yaitu dari proses smelter-nya,” terang Tony.

“Kalau di tembaga ini terbalik, di proses smelter-nya, nilai tambahnya kecil, tetapi di konsentrat, nilai tambahnya besar.”

Bagaimanapun, Tony mengaku Freeport tetap mendukung upaya hilirisasi industri pertambangan tembaga yang digalakkan pemerintah, sesuai dengan ketentuan Undang-undang No. 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba).

Walakin, dia memberi catatan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan bersama antara pemerintah dan pelaku agar misi hilirisasi industri pertambangan dapat lebih maksimal ke depannya.

Salah satunya adalah jaminan stabilitas politik, serta kepastian serapan pasar terhadap produk hilir yang dihasilkan dari investasi hilirisasi yang nilainya tidak sedikit.

“Pelaku usaha itu mau investasi di sektor apapun itu, memerlukan jaminan stabilitas politik. […] Tinggal perlu mungkin fasilitasi, seperti tax holiday. Itu satu hal, tetapi fasilitas nonfiskal lainnya barangkali itu juga perlu ditingkatkan; seperti kemudahan berbisnis.”

Pemerintah sebelumnya memetakan 28 komoditas untuk dipacu proses penghiliran atau hilirisasinya, guna mendatangkan potensi pendapatan negara dari investasi senilai US$618,1 miliar (sekira Rp9,79 kuadriliun) setidaknya sampai dengan 2040.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Edy Junaedi mengatakan peta jalan untuk hilirisasi 28 komoditas itu sudah dimatangkan.

Selain investasi, hilirisasi 28 komoditas itu digadang-gadang bisa mendatangkan devisa ekspor US$857,9 miliar (sekitar Rp13,59 kuadriliun), produk domestik bruto (PDB) US$235,9 miliar (sekitar Rp3,73 kuadriliun), serta serapan tenaga kerja sebanyak 3,01 juta orang.

“Kita sudah identifikasi, ada 28 produk unggulan yang secara sumber daya kita unggul. Bila ini bisa kita kelola dengan baik, ini potensinya Rp9.000 triliun,” ujarnya, medio bulan lalu.

Target investasi hilirisasi senilai Rp9,79 kuadriliun tersebut bahkan diharapkan dapat tercapai sekitar 50% dalam 5 tahun ke depan. Adapun, secara kumulatif, target investasi pada era pemerintahan Presiden Prabowo pada 2025-2029 mencapai Rp13.528 triliun.

“Saat ini, kontribusi [investasi hilirisasi terhadap] realisasi investasi baru 20%-22% dari Rp272,91 triliun. Itu dari [hilirisasi sektor] mineral, pertanian, kehutanan, migas, dan ekosistem EV [electric vehicle/kendaraan listrik],” terangnya. (wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 9 Desember 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top