Di tengah sengitnya rivalitas geopolitik global, dua raksasa ekonomi terbesar dunia yakni Amerika Serikat (AS) dan China mencapai terobosan penting dalam meredakan perang dagang kedua negara. Gedung Putih mengumumkan bahwa China telah sepakat untuk mengimpor sedikitnya 10 juta metrik ton batubara dari AS pada tahun 2027, dan mengulangi komitmen volume yang sama pada tahun 2028.
Kesepakatan bernilai strategis ini dicapai di bawah payung US-China Board of Trade yang baru saja beroperasi secara resmi. Kabar baik ini menandai babak baru dinamika perdagangan antar kedua negara super power tersebut.
Selain komitmen pembelian batubara dalam skala masif, kedua negara sepakat untuk memberlakukan tarif impor yang jauh lebih menguntungkan atas komoditas non-sensitif senilai USD30 miliar atau setara Rp530,2 triliun (dengan kurs Rp17.674 per USD).
Sektor-sektor unggulan yang mendapatkan prioritas tarif preferensial meliputi Produk pertanian, hasil laut (seafood), kayu (timber), produk kosmetik, hingga peralatan medis. Sementara untuk ekspor China meliputi barang konsumen harian seperti peralatan rumah tangga kecil, mainan anak-anak, dekorasi liburan, hingga kursi keselamatan anak (car seats).
Guna memperlancar implementasinya, Washington dan Beijing membentuk Pokja Akses Pasar Pertanian guna mengurai berbagai hambatan regulasi yang selama ini menyulitkan para eksportir. Diplomasi tingkat tinggi ini juga melahirkan pembentukan Board of Investment yang berfokus memperluas peluang investasi serta menyelesaikan kendala regulasi penanaman modal di kedua negara.
Beberapa poin krusial lain yang masuk dalam agenda kesepakatan bersama, seperti rantai pasok mineral kritis. AS dan China melanjutkan dialog intensif untuk mengatasi kerentanan rantai pasok logam tanah jarang (rare earths) dan mineral strategis lainnya.
Selanjutnya demi stabilitas pasokan minyak, Presiden Trump mendesak Xi Jinping untuk meningkatkan kapasitas produksi produk minyak olahan China demi menstabilkan harga dan pasokan energi global. Selain itu ada kecerdasan buatan (AI), dimana kedua pemimpin sepakat melanjutkan pertukaran gagasan mengenai teknologi masa depan, dengan dialog AI lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada bulan November mendatang. (akr)
