China Gelontorkan Dana Rp376 Triliun, Ubah Proyek Jalur Sutra ke Asia Tengah

Investasi China dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) melonjak signifikan pada paruh pertama 2025, dengan fokus besar dialihkan ke proyek logam dan pertambangan di Asia Tengah. Pergeseran ini dinilai sebagai strategi Beijing mengamankan pasokan sumber daya alam penting di tengah ketegangan perdagangan yang meningkat dengan Amerika Serikat.

Data yang dihimpun organisasi riset China-Global South Project menunjukkan, 150 negara peserta BRI menerima total investasi dan kontrak konstruksi senilai USD124 miliar atau setara Rp1.984 triliun pada Januari–Juni 2025. Angka ini melampaui nilai investasi USD122 miliar pada periode yang sama tahun 2024.

Laporan tersebut, yang mengutip analisis Griffith Asia Institute di Australia, mencatat adanya “konsentrasi dana yang tidak biasa tinggi” di Asia Tengah. Investor China disebut sangat agresif membiayai proyek pertambangan di kawasan ini, terutama untuk komoditas aluminium dan tembaga yang semakin strategis bagi industri global.

Kazakhstan menjadi penerima investasi terbesar dengan aliran modal mencapai USD23 miliar atau sekitar Rp376 triliun pada semester pertama tahun ini. Dari jumlah tersebut, proyek terbesar adalah pembangunan kompleks aluminium senilai USD12 miliar yang dipimpin oleh konglomerat China East Hope Group.

“Keputusan China untuk menanamkan modal besar di sektor aluminium Kazakhstan mencerminkan tekanan ekonomi domestik dan perubahan peta perdagangan global,” tulis laporan China-Global South Project dilansir dari SCMP, Kamis (28/8).

Sejak diluncurkan 12 tahun lalu, proyek Jalur Sutra berfokus pada pembangunan infrastruktur transportasi, pelabuhan, bandara, dan pembangkit listrik yang umumnya dimanfaatkan negara tuan rumah untuk kebutuhan lokal. Namun, tren terbaru menunjukkan fokus investasi bergeser ke sektor mineral dan logam strategis di Asia Tengah.

“Pergeseran ini logis karena infrastruktur transportasi di kawasan tersebut sudah terbangun melalui proyek-proyek BRI sebelumnya. Mineral yang diekstraksi bisa langsung dikirim ke China lewat jalur kereta api,” kata ekonom independen asal China, Andy Xie.

Ketegangan dagang dengan AS disebut menjadi salah satu pemicu langkah ini. Jayant Menon, peneliti senior di ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura, menilai Beijing khawatir Washington berupaya menguasai mineral berharga di Asia Tengah. “China ingin menjadi pelopor dan mengamankan keunggulan strategis sebelum hubungan dagang semakin memburuk,” ujarnya.

Kazakhstan diketahui memiliki cadangan 15 unsur tanah jarang serta sejumlah logam penting untuk industri teknologi dan otomotif. Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev bersama empat pemimpin negara Asia Tengah lainnya dijadwalkan menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, China, akhir pekan ini.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mulai meningkatkan ketertarikannya terhadap kawasan ini. Pada Februari lalu, Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menyatakan keinginan Washington menjajaki investasi mineral kritis di Uzbekistan sebagai peluang kerja sama yang saling menguntungkan.

Ketegangan antara AS dan China sepanjang 2025 mencakup kenaikan tarif, pembatasan ekspor, hingga perbedaan sikap dalam isu geopolitik. Menurut Christoph Nedopil Wang, Direktur Green Finance & Development Centre di Shanghai, kondisi ini mendorong Beijing mempercepat pengembangan proyek-proyek BRI di Asia Tengah meski prosesnya membutuhkan waktu panjang. (nng)

Sumber:

– 28/08/2025

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Jumat, 29 Agustus 2025

baca selengkapnya

Saham Emiten Nikel Mengilap Tersengat Rumor IPO & Manuver Danantara

baca selengkapnya

Thiess Raih Perpanjangan Kontrak dari Wahana Baratama Mining

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top