China vs Amerika Tiba-Tiba Mesra, Harga Batu Bara Langsung Terbang

Harga batu bara melonjak ke posisi tertinggi dalam 10 hari. Kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan China serta kembali memanasnya harga minyak menjadi pemicu.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 147,35 per ton pada perdagangan Senin (28/9/2026) atau menguat 1,27%.

Penguatan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 2,6% dalam dua hari beruntun. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 14 September 2026.

Salah satu penopang adalah kembali memanasnya harga minyak, di mana brent sudah menyentuh lagi level US$ 105 pada Senin.

Batu bara dan minyak adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

China Impor 10 Juta Ton Batu Bara AS per Tahun

China akan mengimpor 10 juta ton batu bara dari Amerika Serikat (AS) setiap tahun pada 2027 dan 2028, sebagai bagian dari kesepakatan dagang kedua negara.

Berdasarkan lembar fakta Gedung Putih, total impor batu bara China dari AS diperkirakan mencapai 20 juta ton selama dua tahun tersebut. Volume ini setara sekitar 2% dari total impor batu bara China setiap tahunnya.

Kementerian Perdagangan China menyebut impor batu bara AS dapat menjadi tambahan pasokan bagi pasar domestik sekaligus memberikan pendapatan dan lapangan kerja bagi industri batu bara AS.

Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan lalu.

Selain batu bara, kedua negara sepakat mengusulkan pemangkasan tarif atas produk perdagangan senilai masing-masing US$30 miliar. Namun, besaran penurunan tarif dan waktu penerapannya belum diumumkan.

Kedua negara turut memperpanjang gencatan dagang hingga 10 Januari 2027 untuk memberikan ruang bagi negosiasi lanjutan.

Meski demikian, minyak dan gas alam cair (LNG) tidak masuk dalam daftar komoditas yang menjadi bagian dari kesepakatan impor tersebut.

Kabar ini memperkuat sentiment positif dari china.

Sebelumnya juga dilaporkan jika harga listrik di Guangdong, China, melonjak pada pekan ketiga September 2026. Cuaca panas berkepanjangan dan kenaikan biaya gas mendorong harga listrik spot semakin tinggi, sementara kebutuhan batu bara untuk menjaga pasokan listrik ikut menjadi perhatian.

Suhu di sejumlah wilayah Guangdong bertahan di sekitar 35 derajat Celsius, membuat konsumsi listrik untuk pendingin ruangan tetap tinggi.

Dalam kondisi tersebut, batu bara tetap menjadi salah satu sumber energi penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik, khususnya ketika kebutuhan listrik melonjak akibat cuaca ekstrem.

Namun, data dalam laporan ini belum merinci perubahan konsumsi batu bara, volume pembangkitan PLTU, maupun stok batu bara di pembangkit Guangdong. Karena itu, besarnya tambahan permintaan batu bara akibat kenaikan harga listrik tersebut belum dapat dipastikan.

Permintaan Listrik India Turun

Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah India dalam beberapa hari terakhir membuat permintaan listrik puncak menurun dari level tinggi yang tercatat selama sebagian besar September. Kondisi ini sedikit meredakan tekanan terhadap jaringan listrik nasional.

Permintaan listrik puncak turun menjadi 218,8 gigawatt (GW) pada Minggu, dari 222,6 GW pada Jumat dan 224,7 GW pada Sabtu.

Namun, pada Senin kemarin, permintaan listrik puncak kembali meningkat menjadi 236,34 GW. Angka tersebut masih berada di bawah level puncak sebesar 240-269 GW yang tercatat pada periode 1-23 September.

Produksi listrik tenaga angin kembali meningkat setelah mengalami penurunan sejak 11 September, mencapai 603 juta unit pada 26 September.

Untuk pekan ini, Departemen Meteorologi India memperkirakan hujan dengan intensitas tersebar hingga lebat akan mengguyur sejumlah wilayah di India bagian selatan.

Sementara itu, wilayah India barat laut dan tengah yang menerima hujan lebat dalam beberapa hari terakhir diperkirakan mengalami penurunan aktivitas hujan.

Konsumsi listrik India telah tumbuh lebih dari 14% sepanjang September. Peningkatan ini didorong oleh kebutuhan pendinginan dan irigasi, di tengah curah hujan monsun yang berada di bawah normal.

Stok batu bara di pembangkit listrik mengalami penurunan tajam karena hujan di wilayah penghasil batu bara mengganggu transportasi bahan bakar tersebut.

Stok batu bara di pembangkit listrik yang menggunakan batu bara produksi domestik tercatat sebesar 19,2 juta ton pada Minggu.

Sementara itu, stok di pembangkit yang menggunakan batu bara impor mencapai 2,55 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar delapan hingga sembilan hari.

Dari total 190 pembangkit listrik berbasis batu bara, sekitar 80 unit memiliki tingkat persediaan bahan bakar yang kritis.

Artinya, stok batu bara di pembangkit-pembangkit tersebut berada di bawah 25% dari stok normatif, yakni jumlah persediaan yang wajib tersedia di lokasi pembangkit listrik tenaga termal untuk memastikan produksi listrik tidak terputus. (mae/mae)

Sumber:

– 29/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Manfaatkan DHE SDA, Bukit Asam (PTBA) Amankan Kredit Rp6 Triliun dari Himbara

baca selengkapnya

Bahlil Terbitkan Aturan Baru, Pelibatan Anak Usaha Tambang Diperketat

baca selengkapnya

Permintaan Domestik Kuat, Antam Optimistis Tetap Tumbuh Hingga Akhir 2026

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top