Daftar Lengkap Emiten Nikel di BEI: Dari ANTM, NCKL hingga NICL

Pemerintah memangkas kuota produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 260 juta–270 juta ton, lebih rendah dibandingkan kuota 2025 yang mencapai 379 juta ton.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menyesuaikan pasokan bijih nikel dengan kebutuhan industri pengolahan sekaligus menghindari kelebihan pasokan yang dapat menekan harga komoditas.

Pemerintah juga menegaskan bahwa perubahan RKAB tidak dapat dilakukan secara otomatis. Setiap pengajuan harus dievaluasi dengan mempertimbangkan kebutuhan industri, kondisi pasar, kapasitas produksi, dan keseimbangan rantai pasok.

Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor dalam menilai prospek emiten yang memiliki eksposur terhadap industri nikel. Namun, dampaknya terhadap setiap perusahaan dapat berbeda, bergantung pada model bisnis, kapasitas produksi, struktur biaya, dan kontribusi nikel terhadap pendapatan.

Sebagian emiten menjalankan pertambangan bijih nikel secara langsung, sedangkan perusahaan lainnya mengandalkan pengolahan nikel menjadi produk bernilai tambah, seperti nickel pig iron (NPI), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate (MHP). Ada pula emiten yang memperoleh pendapatan dari perdagangan bijih nikel.

Berikut daftar 11 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki eksposur terhadap industri nikel berdasarkan laporan keuangan semester I/2026 dan informasi kegiatan usaha masing-masing perusahaan.

  1. Aneka Tambang (ANTM)

PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) merupakan salah satu emiten dengan eksposur nikel yang ditopang oleh kegiatan pertambangan dan pengolahan. Meski demikian, bisnis perseroan juga mencakup komoditas emas, bauksit, dan alumina.

Pada semester I/2026, ANTM membukukan penjualan bersih sebesar Rp62,71 triliun, meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat laba periode berjalan sebesar Rp6,91 triliun, naik 34% secara tahunan.

Dari segmen nikel, ANTM mencatat penjualan sebesar Rp10,41 triliun, meningkat 32% dibandingkan Rp7,87 triliun pada semester I/2025. Kontribusinya mencapai sekitar 17% dari total penjualan perseroan.

ANTM juga mencatat produksi bijih nikel sebesar 7,78 juta wet metric ton (wmt) dan volume penjualan mencapai 6,77 juta wmt pada semester I/2026. Seluruh penjualan bijih nikel pada periode tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Kegiatan pertambangan nikel ANTM antara lain berada di sejumlah wilayah izin usaha pertambangan (IUP) di Sulawesi Tenggara, yakni Lasolo, Konawe Utara, seluas 6.213 hektare; Asera dan Molawe seluas 16.920 hektare; Pomalaa, Kolaka, seluas 1.954 hektare; serta Batu Kilat, Kolaka, seluas 878 hektare.

Berdasarkan rincian tersebut, total luas keempat wilayah mencapai sekitar 25.965 hektare. Luas itu belum tentu mencakup seluruh eksposur pertambangan nikel dalam grup ANTM.

  1. Merdeka Copper Gold (MDKA)

PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) memiliki eksposur terhadap emas, tembaga, dan nikel. Kontribusi bisnis nikel perseroan antara lain berasal dari PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), yang berada dalam grup Merdeka.

Pada semester I/2026, MDKA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar US$1,40 miliar, meningkat 64% dibandingkan US$855 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dikonversikan menggunakan kurs JISDOR akhir Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS, pendapatan tersebut setara dengan sekitar Rp25,06 triliun.

MDKA juga mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$102 juta, berbalik dari rugi US$16 juta pada semester I/2025.

Dalam struktur bisnis grup, MBMA menjadi salah satu kontributor utama kinerja MDKA. Pada semester I/2026, MBMA menjadi kontributor terbesar terhadap EBITDA MDKA, didukung peningkatan volume penjualan dan harga bijih nikel serta kontribusi produk NPI dan nickel matte.

Selain melalui MBMA, eksposur nikel grup juga berkaitan dengan PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Perusahaan tersebut memiliki IUP operasi produksi nikel seluas 21.100 hektare di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, yang berlaku hingga 2037.

Dengan demikian, eksposur nikel MDKA perlu dilihat dalam konteks kontribusi entitas anak dan kegiatan usaha grup, bukan hanya dari aktivitas pertambangan yang dilakukan secara langsung oleh induk perusahaan.

  1. Harum Energy (HRUM)

PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menjadi salah satu emiten yang mengalami pergeseran fokus bisnis dari batu bara menuju nikel. Pada semester I/2026, nikel telah menjadi kontributor utama pendapatan perseroan.

HRUM membukukan pendapatan sebesar US$1,079 miliar pada semester I/2026, meningkat 67% secara tahunan. Dalam laporan kinerja perusahaan, bisnis nikel menyumbang sekitar 97% dari total pendapatan pada periode tersebut.

Penjualan nikel HRUM mencakup sejumlah produk, antara lain MHP, nickel matte, feronikel, dan bijih nikel. Volume penjualan nikel meningkat 69% secara tahunan menjadi 56.371 ton, sedangkan harga jual rata-rata naik 32% menjadi US$15.958 per ton.

Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar US$264,5 juta dan laba bersih konsolidasian sebesar US$129,3 juta pada semester I/2026. Kinerja tersebut mencerminkan meningkatnya kontribusi bisnis pengolahan nikel, termasuk setelah peningkatan produksi fasilitas hilir.

Di sisi pertambangan, HRUM memiliki kegiatan penambangan nikel melalui entitas anak PT Position (POS) di Halmahera Timur, Maluku Utara. Wilayah konsesi tersebut memiliki luas 4.017 hektare dan berjarak sekitar 40 kilometer dari kawasan industri Weda Bay.

Selain pertambangan, HRUM mengembangkan bisnis pengolahan melalui sejumlah entitas, termasuk PT Infei Metal Industry (IMI), PT Westrong Metal Industry (WMI), PT Blue Sparking Energy (BSE), PT Harum Nickel Perkasa (HNP), dan PT Nickel Cobalt Asia (NCA).

Ekspansi tersebut memperluas keterlibatan HRUM dalam rantai nilai nikel, dari pertambangan hingga pengolahan produk antara.

  1. Merdeka Battery Materials (MBMA)

Berbeda dari MDKA yang memiliki portofolio emas dan tembaga, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) memiliki eksposur lebih langsung terhadap rantai bisnis nikel dan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Pada semester I/2026, MBMA membukukan pendapatan sebesar US$1,05 miliar atau setara dengan sekitar Rp18,75 triliun menggunakan kurs JISDOR akhir Juni 2026. Perseroan juga mencatat laba bersih sekitar US$54,43 juta.

Berdasarkan rincian penjualan produk yang tercantum dalam laporan keuangan, pendapatan MBMA antara lain berasal dari NPI sebesar US$458,25 juta, nickel matte sebesar US$288,99 juta, dan bijih nikel limonit sebesar US$184,36 juta.

Ketiga produk tersebut menyumbang pendapatan sekitar US$931,60 juta. Angka ini merupakan penjumlahan dari tiga produk yang dirinci, bukan keseluruhan pendapatan perseroan.

MBMA juga memiliki eksposur pertambangan melalui PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), yang mengoperasikan wilayah pertambangan nikel seluas 21.100 hektare di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. IUP operasi produksi tersebut berlaku hingga 14 September 2037.

Keterlibatan dalam pertambangan dan pengolahan membuat MBMA memiliki eksposur terhadap perubahan pasokan bijih nikel, harga produk olahan, serta permintaan dari industri baja nirkarat dan rantai pasok baterai.

  1. Trimegah Bangun Persada (NCKL)

PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), yang dikenal melalui bisnis Harita Nickel, menjalankan kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Pada semester I/2026, NCKL membukukan pendapatan sebesar Rp17,10 triliun. Laba bersih periode berjalan mencapai Rp6,32 triliun.

Dalam laporan segmentasi, pendapatan dari pengolahan nikel mencapai sekitar Rp10,43 triliun, sedangkan pendapatan dari penambangan nikel tercatat sekitar Rp6,67 triliun sebelum eliminasi antarsegmen.

Kedua segmen tersebut menunjukkan keterlibatan NCKL dalam dua tahapan rantai bisnis nikel. Namun, pendapatan segmentasi sebelum eliminasi tidak dapat langsung dijumlahkan sebagai pendapatan konsolidasian karena terdapat transaksi antarsegmen.

NCKL juga memiliki sejumlah wilayah IUP di Pulau Obi. Laporan perusahaan mencantumkan wilayah Kawasi seluas 4.247 hektare, Loji seluas 1.276,99 hektare, serta Fluk dan Gambaru seluas 2.314 hektare.

Berdasarkan rincian tersebut, total luas ketiga wilayah mencapai sekitar 7.837,99 hektare.

Dari sisi operasional, produksi bijih nikel NCKL mencapai 13,47 juta wmt hingga semester I/2026, meningkat dibandingkan 10,88 juta wmt pada periode yang sama tahun sebelumnya.

  1. Vale Indonesia (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memiliki kegiatan usaha yang berfokus pada pertambangan dan pengolahan nikel. Perseroan mengoperasikan fasilitas pengolahan di Sorowako, Sulawesi Selatan, yang menghasilkan nickel matte untuk kebutuhan industri.

Pada semester I/2026, INCO membukukan pendapatan sebesar US$543,07 juta atau setara dengan sekitar Rp9,72 triliun menggunakan kurs JISDOR akhir Juni 2026. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$104,38 juta.

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan perseroan berasal dari penjualan nickel matte sebesar US$400,81 juta dan bijih nikel sebesar US$142,26 juta. Kedua produk tersebut menyumbang keseluruhan pendapatan yang dilaporkan pada periode tersebut.

INCO mengoperasikan wilayah pertambangan berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dengan total luas 118.017 hektare yang berlaku hingga 2035.

Wilayah operasinya mencakup Sorowako seluas 70.566 hektare, Bahodopi seluas 22.699 hektare, serta Pomalaa dan Sua-Sua dengan luas gabungan 24.752 hektare.

Selain mempertahankan operasi Sorowako, INCO mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa dan Bahodopi untuk memperluas kapasitas pengolahan serta memperkuat keterlibatannya dalam rantai pasok nikel.

  1. Sumber Mineral Global Abadi (SMGA)

PT Sumber Mineral Global Abadi Tbk. (SMGA) memiliki model bisnis yang berbeda dari emiten pertambangan nikel. Perseroan menjalankan perdagangan sejumlah komoditas, termasuk batu bara, nikel, batu kapur, dan pasir.

Pada semester I/2026, SMGA membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,58 triliun, meningkat 73,33% dibandingkan Rp913,05 miliar pada semester I/2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp67,08 miliar.

Dari total penjualan tersebut, pendapatan dari komoditas nikel tercatat sebesar Rp284,29 miliar, turun dibandingkan Rp592,76 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, batu bara menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan SMGA, dengan penjualan mencapai sekitar Rp1,23 triliun.

Dengan komposisi tersebut, eksposur SMGA terhadap industri nikel terutama berasal dari aktivitas perdagangan komoditas, sehingga berbeda dari perusahaan yang mengoperasikan tambang atau fasilitas pengolahan sendiri.

Perseroan juga pernah mengumumkan rencana ekspansi ke bisnis pengolahan nikel melalui kerja sama dengan Hengsheng New Energy Material Indonesia. Rencana tersebut perlu dibedakan dari kontribusi pendapatan yang sudah terealisasi.

  1. Adhi Kartiko Pratama (NICE)

PT Adhi Kartiko Pratama Tbk. (NICE) merupakan emiten yang menjalankan kegiatan usaha pertambangan bijih nikel di Sulawesi Tenggara.

Pada semester I/2026, NICE membukukan pendapatan sebesar Rp1,01 triliun dan laba bersih sebesar Rp170,14 miliar. Pendapatan perseroan berasal dari penjualan bijih nikel dan jasa dermaga.

Wilayah operasi utama NICE berada di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan prospektus perseroan, wilayah IUP operasi produksi nikel tersebut memiliki luas 1.975 hektare dan berlaku hingga 2030.

Dengan kegiatan usaha yang berhubungan langsung dengan penambangan dan penjualan bijih nikel, kinerja NICE dapat dipengaruhi oleh volume produksi, permintaan dari smelter, harga jual bijih, serta kebijakan pemerintah mengenai kuota produksi.

  1. Central Omega Resources (DKFT)

PT Central Omega Resources Tbk. (DKFT) memiliki bisnis pertambangan, pengolahan mineral, dan perdagangan hasil tambang melalui sejumlah entitas anak.

Pada semester I/2026, DKFT mencatat pendapatan sebesar Rp1,01 triliun dan laba bersih sebesar Rp406,24 miliar. Angka tersebut perlu dicocokkan kembali dengan laporan keuangan konsolidasian untuk memastikan basis laba dan pertumbuhan tahunannya.

Eksposur nikel DKFT antara lain berasal dari PT Mulia Pacific Resources (MPR), PT Itamatra Nusantara, dan PT Bumi Konawe Abadi.

Berdasarkan informasi perusahaan, MPR memiliki IUP nikel di Petasia, Morowali Utara, seluas 4.780 hektare. Itamatra Nusantara memiliki IUP seluas 974 hektare, sedangkan Bumi Konawe Abadi memiliki IUP di Sawa, Konawe Utara, seluas 438,6 hektare.

Jika dijumlahkan, luas ketiga wilayah tersebut mencapai sekitar 6.192,6 hektare.

Besarnya eksposur pertambangan DKFT perlu dinilai bersama dengan kinerja operasional masing-masing entitas anak, realisasi produksi, dan kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasian.

  1. Ifishdeco (IFSH)

PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) merupakan emiten pertambangan nikel yang memperoleh pendapatan dari penjualan bijih nikel.

Pada semester I/2026, IFSH membukukan pendapatan sebesar Rp634,30 miliar. Pendapatan yang berasal dari bisnis nikel mencapai sekitar Rp540,20 miliar.

Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp841,18 juta, turun sekitar 1,20% dibandingkan Rp851,42 juta pada semester I/2025. Angka laba ini menggunakan satuan juta rupiah, bukan miliar rupiah.

IFSH memiliki sejumlah wilayah IUP yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan nikel. Wilayah Ngapaaha di Tinanggea, Sulawesi Tenggara, memiliki luas 920,2 hektare. Selain itu, PT Patrindo Jaya Makmur memiliki wilayah seluas 500 hektare di Kolaka Utara, sedangkan PT Hangtian Nur Cahaya memiliki wilayah seluas 47,7 hektare di Konawe Selatan.

Berdasarkan rincian tersebut, total luas ketiga wilayah mencapai sekitar 1.467,9 hektare.

Eksposur IFSH terhadap industri nikel terutama berasal dari penjualan bijih, sehingga kinerjanya berkaitan dengan volume produksi, kualitas bijih, harga jual, serta permintaan dari perusahaan pengolahan.

  1. PAM Mineral (NICL)

PT PAM Mineral Tbk. (NICL) merupakan salah satu emiten yang pendapatannya berfokus pada penjualan bijih nikel.

Pada semester I/2026, NICL mencatat penjualan sebesar Rp474,41 miliar. Laba neto periode berjalan mencapai sekitar Rp121,60 miliar, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian perseroan.

NICL memiliki wilayah pertambangan nikel di Desa Buleleng dan Laroenai, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan luas 198 hektare.

Selain itu, melalui anak usaha PT Indrabakti Mustika (IBM), perseroan memiliki wilayah pertambangan di Lameruru, Langgikima, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, seluas 576 hektare.

Dengan demikian, total luas kedua wilayah yang disebutkan mencapai sekitar 774 hektare.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan penjualan bijih nikel, kinerja NICL perlu dicermati bersama dengan realisasi produksi, volume penjualan, harga jual, serta kebijakan kuota produksi bijih nikel yang ditetapkan pemerintah.

Daftar Emiten dengan Exposure di Industri Nikel (2026)

No Kode Emiten Market Cap (Rp) Pendapatan S1 2026 YoY (%) Laba S1 2026 YoY (%)
1 ANTM ANTAM (Persero) Tbk. 76,9 Rp62,71 T 6,26% Rp6,39 T 36,03%
2 DKFT Central Omega Resources Tbk. 3,64 Rp1,01 T 5,91% Rp406,24 M 30,99%
3 HRUM Harum Energy Tbk. 11,49 US$1,08 M 67,36% US$36,50 Jt 22,64%
4 IFSH Ifishdeco Tbk. 3,23 Rp634,30 M 88,57% Rp841,18 M -1,20%
5 INCO Vale Indonesia Tbk. 44,48 US$543,07 Jt 27,26% US$104,38 Jt 313,41%
6 MBMA Merdeka Battery Materials Tbk. 52,49 US$1,05 M 66,92% US$54,43 Jt 830,12%
7 MDKA Merdeka Copper Gold Tbk. 70,48 US$1,40 M 64,10% US$101,56 Jt
8 NCKL Trimegah Bangun Persada Tbk. 54,9 Rp17,10 T 21,30% Rp5,81 T 41,73%
9 NICE Adhi Kartiko Pratama Tbk. 2,03 Rp1,01 T 111,32% Rp170,14 M 80,80%
10 NICL PAM Mineral Tbk. 3,89 Rp474,41 M -55,10% Rp121,20 M -66,10%
11 SMGA Sumber Mineral Global Abadi Tbk. 0,75 Rp1,58 T 73,33% Rp67,08 M 93,00%

Sumber : BEI,Laporan Keterbukaan Perusahaan

Visualisasi : Dyah Ayu Kusuma Wardhani

Made with Flourish • Create a table

 

Sumber:

– 10/10/2026

Temukan Informasi Terkini

PT Vale dorong pertumbuhan ekonomi lokal lewat penguatan koperasi dan UMKM

baca selengkapnya

Rumor Akuisisi Kideco oleh Bumi Resources (BUMI), Nilainya Ditaksir Rp 18 Triliun

baca selengkapnya

Harga Batubara Berpotensi Tinggi Lebih Lama, Tapi Ada Risiko dari Aturan Ekspor DSI

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top