Danantara Indonesia membuka peluang kerja sama dengan mitra strategis dari berbagai negara untuk mengembangkan industri hilir nikel di dalam negeri. Kemitraan tersebut menyasar investor yang memiliki keahlian dalam pembangunan fasilitas produksi sekaligus kemampuan berinvestasi bersama untuk memperkuat rantai industri nasional.
Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan, pihaknya melalui Danantara Investment Management (DIM) dapat mencari mitra global yang memiliki kemampuan mengembangkan fasilitas industri. Ia mencontohkan langkah MIND ID Group yang telah menjalin kemitraan dengan investor asing dalam menjalankan program hilirisasi.
“Contoh lain adalah yang dilakukan oleh teman-teman di tempatnya MIND ID. Karena kan ini ada Inalum, ada Antam, ada IBC. Mereka dalam hal ini melakukan upaya hilirisasi bermitra dengan calon investor lain atau investor lain yang berasal dari negara lain juga,” kata Pahala dalam BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, beberapa hari lalu, dikutip Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan industri hilir nikel membutuhkan keterlibatan investor pada sejumlah tahapan produksi. Proses tersebut mencakup pengolahan nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat, bahan katoda, sel baterai, hingga paket baterai kendaraan listrik.
Menurut Pahala, setiap tahapan produksi membutuhkan fasilitas industri yang saling terhubung. Karena itu, kemitraan dengan investor strategis menjadi salah satu pendekatan untuk membangun rantai nilai nikel secara terintegrasi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di Indonesia.
Dalam pengembangan tersebut, MIND ID melibatkan sejumlah entitas usahanya, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Antam berperan dalam kegiatan pertambangan nikel, sedangkan IBC terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Di sisi lain, Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengingatkan kebutuhan modal menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri hilir. Menurut dia, investasi pada fasilitas pengolahan dan produksi lanjutan membutuhkan dana berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan kegiatan di sektor hulu.
“Jadi hulu itu merupakan basis jaminan atau kenyamanan untuk orang melakukan hilirisasi. Kita tahu bahwa investasi di hilirisasi itu berkali-kali lipat besarnya dibandingkan investasi di sektor hulu ya,” ujar Seto.
DEN menilai keterkaitan antara sektor hulu dan hilir menjadi faktor fundamental bagi investor sebelum menanamkan modal. Kepastian pasokan bahan baku diperlukan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan produksi sekaligus memastikan investasi yang telah dikeluarkan memberikan manfaat sesuai perencanaan.
Salah satu bentuk kemitraan dalam pengembangan industri baterai di Indonesia melibatkan Antam, IBC, dan perusahaan asal China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL). Perusahaan tersebut merupakan usaha patungan yang melibatkan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend.
Proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi tersebut memiliki nilai investasi mencapai 5,9 miliar dolar AS atau setara Rp96,04 triliun. Kolaborasi ini menjadi bagian dari pengembangan rantai industri baterai di Indonesia, mulai dari pengolahan bahan baku nikel hingga produksi komponen baterai bernilai tambah.
