Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia akan melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking serentak untuk 6 proyek hilirisasi strategis pada pekan depan, Jumat (13/2/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi yang dikawal Danantara guna menggeser basis pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari ketergantungan pada sumber daya alam mentah menuju negara berbasis industri.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan bahwa proyek yang akan segera dimulai itu mencakup sektor industri baja, aluminium, hingga energi hijau. Langkah ini menjadi jawaban atas keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat struktur industri nasional.
“Minggu depan, kurang lebih hari Jumat, kami akan melakukan 6 groundbreaking. Ini artinya Indonesia sudah siap menjadi negara berbasis industri,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Salah satu proyek utama yang akan dimulai adalah pembangunan pabrik slab (baja hulu) di Cilegon, Banten. Dony menyampaikan bahwa proyek ini merupakan investasi mandiri Danantara melalui PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) untuk memutus ketergantungan impor bahan baku baja.
Selain baja, Danantara juga akan memulai pembangunan pabrik alumina Ekspansi tersebut bertujuan melengkapi rantai pasok industri aluminium domestik yang selama ini masih memiliki celah di sisi pengolahan menengah.
Enam proyek strategis itu juga menyentuh sektor energi terbarukan. Danantara dijadwalkan memulai pembangunan fasilitas produksi bioetanol dan bio-avtur.
Dony menjelaskan pendanaan dan eksekusi proyek-proyek ini dilakukan secara mandiri oleh Danantara guna mengejar kecepatan pembangunan industrialisasi.
Strategi ini, lanjutnya, juga diharapkan dapat meningkatkan know-how tenaga kerja lokal serta memperkuat ekosistem industri di bawah naungan BUMN strategis lainnya seperti PT PAL dan PT INKA.
“Kita siapkan ekosistemnya. Industri perkapalan akan kita besarkan lewat merger, industri kereta api melalui INKA, dan industri baja di hulu. Semua ini terintegrasi dalam rencana hilirisasi Danantara,” pungkas Dony.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pemerintah telah menetapkan 18 proyek hilirisasi prioritas pada 2026 dengan total nilai investasi mencapai Rp618 triliun, sekaligus menciptakan sekitar 276.800 lapangan kerja baru.
Dia menegaskan agenda hilirisasi industri akan dijalankan secara agresif dengan dukungan instrumen pembiayaan nasional, salah satunya melalui Danantara. Skema ini memungkinkan Indonesia mengundang mitra investasi dengan posisi setara, tanpa bergantung pada pencarian modal ke luar negeri.
“Kita tidak keluar negeri minta-minta investasi. Kita mengajak, dan kita punya kemampuan sekarang,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
Adapun 18 proyek mencakup berbagai sektor. Di antaranya pembangunan smelter aluminium, stainless steel slab, oleoresin, fillet ikan tilapia, modul surya terintegrasi, gasifikasi batu bara, serta industri copper rod, wire, and tube.
Pemerintah juga akan mengembangkan industri oleofood kelapa sawit, karaginan berbasis rumput laut, avtur dari jelantah kelapa sawit, aspal, besi baja, nata de coco MCT, hingga tepung kelapa.
Di sektor energi dan kimia, proyek yang digarap adalah kilang minyak, mangan sulfat, chemical grade alumina, chlor-alkali plant, serta fasilitas oil storage tanks.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Dwi Nicken Tari
