Harga batu bara semakin jatuh.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (5/8//2026) ditutup di posisi US$ 129,3 per ton atau jatuh 1,3%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif dengan ambruk 3,68% dalam dua hari terakhir.
Harga batu bara melemah dipicu semakin anjloknya harga minyak serta permintaan.
Harga minyak semakin turun dan kini berada di level US$ 79 per barel, posisi terendahnya sejak 15 Juli 2026. Minyak dan batu bara adalah dua komoditas yang saling memengaruhi.
Harga minyak yang lebih murah mengurangi insentif negara-negara pengimpor energi untuk beralih ke batu bara sebagai alternatif bahan bakar, terutama di Eropa dan Asia.
Penurunan harga batu bara juga dipicu oleh lonjakan produksi batu bara India sebesar 7,51% (yoy) menjadi 69,75 juta ton pada Juli 2026, sehingga pasokan domestik meningkat dan kebutuhan impor berkurang.
Selain produksi yang naik, distribusi batu bara ke pembangkit listrik dan konsumen industri juga meningkat signifikan. Pengiriman batu bara India melonjak 17,34% dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, permintaan batu bara di China mulai membaik seiring cuaca yang semakin panas dan meningkatnya penggunaan pendingin udara, sehingga konsumsi listrik naik. Faktor ini membantu menahan penurunan harga yang lebih dalam.
Harga batu bara di pelabuhan utara China terus menguat ditopang pasokan yang lebih ketat dan meningkatnya kebutuhan listrik selama musim panas. Namun, reli harga mulai kehilangan tenaga karena permintaan riil belum menunjukkan penguatan yang signifikan.
Cuaca yang tidak sepanas perkiraan di sejumlah wilayah China membuat konsumsi listrik dan pembelian batu bara spot oleh pembangkit listrik tidak setinggi ekspektasi pasar.
Di saat yang sama, aktivitas pengapalan masih lesu, tercermin dari berkurangnya jumlah kapal yang mengantre muatan di pelabuhan-pelabuhan utama China utara.
Tekanan juga datang dari melimpahnya stok batu bara. Persediaan di pelabuhan selatan seperti Guangzhou terus meningkat, sementara stok di pembangkit listrik masih berada pada level tinggi. Kondisi ini membuat perusahaan utilitas belum terdorong untuk melakukan pembelian tambahan secara agresif.
Sementara itu, dari Amerika Serikat (AS) dolaporkan pada kuartal II-2026, volume pengangkutan batu bara oleh dua perusahaan kereta api besar di wilayah timur AS, CSX dan Norfolk Southern, masing-masing meningkat 5% dan 4%.
Namun, pengiriman batu bara untuk pasar domestik justru turun 2% dan 8%, sementara volume ekspor melonjak 12% dan 25%.
Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pengangkutan batu bara AS lebih banyak didorong oleh permintaan dari luar negeri dibandingkan konsumsi sektor kelistrikan domestik.
Pemerintah AS telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung industri batu bara, termasuk melonggarkan regulasi dan berupaya menunda penutupan PLTU batu bara.
Namun, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik sepanjang Januari hingga Mei tetap lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena gas alam dan energi surya terus menggantikan peran batu bara dalam bauran pembangkit listrik.
Lemahnya permintaan domestik diperkirakan akan membatasi potensi kenaikan harga batu bara termal di AS.
Di sisi lain, meningkatnya ekspor dapat menopang harga batu bara termal dan metalurgi dari wilayah Appalachia. Namun, bertambahnya pasokan ekspor dari AS juga berpotensi membatasi kenaikan harga batu bara di pasar internasional. (mae/mae)
