PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang 2025. Di tengah tekanan harga nikel, Vale berupaya untuk memperkuat fondasi ekspansi dan menjaga optimisme menghadapi 2026.
Melansir laporan keuangan 2026, Vale membukukan pendapatan senilai US$990,19 juta sepanjang 2025. Realisasi itu mencerminkan kenaikan dibandingkan US$950,38 juta pada periode yang sama 2024.
Pada sisi bottom line, Vale membukukan laba bersih sebesar US$76,1 juta atau setara Rp1,27 triliun (kurs jisdor Rp16.720 per dolar AS) sepanjang 2025, meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya.
Manajemen Vale menerangkan, kinerja solid tersebut ditopang oleh peningkatan produksi serta efisiensi biaya yang mampu menjaga profitabilitas, meskipun pasar komoditas masih menghadapi tekanan.
Sepanjang 2025, produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 metrik ton, naik dari 71.311 ton pada 2024. Secara triwulan, produksi kuartal IV/2025 tercatat sebesar 17.052 metrik ton, turun 12% dibandingkan kuartal III/2025 sebesar 19.391 ton.
Penurunan ini disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnance 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan rampung pada Mei 2026. Sementara dibandingkan kuartal IV/2024, kendati produksi lebih rendah, tetapi keseluruhan produksi sepanjang tahun mencatatkan peningkatan.
Selain itu, pengiriman nikel matte juga meningkat menjadi 73.093 ton dibandingkan 72.625 ton pada tahun sebelumnya. Kinerja ini turut menopang EBITDA yang tercatat sebesar US$228,2 juta sepanjang 2025.
Di tengah harga nikel matte yang melemah, dengan rata-rata realisasi turun 7% menjadi US$12.157 per ton, perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Total pendapatan naik 4% menjadi US$990,19 juta dari US$950,4 juta pada 2024.
Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan volume penjualan serta perbaikan skema payability nikel matte yang mulai berlaku sejak pertengahan tahun lalu.
Di sisi bottom line, laba bersih perseroan melonjak 32% menjadi US$76,1 juta sepanjang 2025. Peningkatan ini sejalan dengan disiplin pengendalian biaya, tercermin dari penurunan unit biaya kas penjualan menjadi US$9.339 per ton.
Selain bisnis utama, Vale mulai memperluas sumber pendapatan melalui penjualan bijih nikel saprolit. Sepanjang 2025, volume penjualan mencapai 2,31 juta wet metric ton, dengan kontribusi terbesar berasal dari Blok Bahodopi.
Langkah ini menjadi salah satu strategi diversifikasi pendapatan di tengah fluktuasi harga nikel global.
Meski demikian, perseroan menghadapi sejumlah tantangan sepanjang tahun, mulai dari gangguan operasional pada awal tahun hingga insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025. Tekanan harga nikel yang berlanjut juga turut memengaruhi kinerja keuangan.
Untuk menjaga kesinambungan bisnis, Vale meningkatkan belanja modal pada 2025 menjadi US$485,9 juta, naik 46% secara tahunan, terutama untuk proyek pengembangan. Hingga akhir 2025, posisi kas tercatat sebesar US$376,3 juta.
”Lebih dari sekadar tantangan teknis atau operasional, peristiwa ini menjadi momen yang menguji integritas, kredibilitas, serta tanggung jawab kami terhadap alam dan masyarakat. Di sinilah prinsip keunggulan dan ketangguhan Perseroan benar-benar diterapkan dalam praktik,” kata manajemen dalam rilisnya, dikutip Selasa (7/4/2026).
Memasuki 2026, perseroan bakal mempercepat pengembangan proyek hilirisasi, termasuk proyek di Pomalaa yang telah mencapai sekitar 60% progres serta proyek HPAL yang berada di kisaran 50% tahap konstruksi. Proyek ini ditargetkan rampung pada kuartal III/2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Ibad Durrohman
