PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) melaporkan kinerja keuangan dan operasional konsolidasi yang telah diaudit untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Dalam keterangan resmi, dikutip pada Sabtu (28/3/2026), BUMA International Group menyampaikan, kinerja tahun 2025 terdampak signifikan oleh gangguan operasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, kondisi cuaca buruk, serta ramp-down dan penyelesaian kontrak di Indonesia dan Australia.
Selain itu, kinerja juga dipengaruhi oleh biaya non-operasional, termasuk penyisihan piutang usaha dan penurunan nilai aset di operasional Australia dan Amerika Serikat (AS).
Kondisi tersebut sebagian diimbangi oleh keuntungan nilai wajar sebesar 41 juta dollar AS dari investasi Grup di 29Metals.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Grup mencatat pemulihan operasional yang berlangsung konsisten sepanjang tahun, ditopang oleh perbaikan struktural pada produktivitas dan penurunan biaya per unit.
Produksi dan pendapatan menurun
Secara operasional, volume overburden removal turun 19 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 439 juta bank cubic meters (MBCM). Sementara itu, produksi batu bara turun 6 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 84 juta ton.
Penurunan tersebut mencerminkan gangguan pada kuartal I 2025, kendala cuaca, serta berkurangnya kontribusi dari sejumlah site yang mengalami ramp-down dan telah menyelesaikan operasi.
Sejalan dengan penurunan volume, pendapatan Grup turun 16 persen (YoY) menjadi 1,48 miliar dollar AS. Average Selling Price (ASP) kontraktor tambang relatif stabil dengan penurunan tipis 1 persen (YoY), didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi.
EBITDA tercatat sebesar 175 juta dollar AS dengan margin 14 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh volume yang lebih rendah, biaya pesangon yang lebih tinggi, serta kenaikan biaya bahan bakar.
Namun, jika biaya pesangon tidak diperhitungkan, EBITDA tercatat sebesar 207 juta dollar AS dengan margin 17 persen.
Grup juga membukukan rugi bersih sebesar 128 juta dollar AS. Kerugian ini dipicu oleh penurunan EBITDA, penyisihan piutang usaha dari kontrak di Australia yang telah berakhir, serta penurunan nilai aset di Australia dan AS.
Sejumlah faktor memberikan penopang terhadap kinerja tersebut, antara lain keuntungan nilai wajar dari investasi di 29Metals sebesar 41 juta dollar AS, keuntungan selisih kurs sebesar 36 juta dollar AS, serta pembalikan pencadangan piutang di Australia setelah putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia.
Penyelesaian keuangan dari putusan tersebut diharapkan terealisasi pada 2026.
Arus kas dan efisiensi membaik
BUMA International Group mencatat arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar 8 juta dollar AS pada 2025, berbalik dari posisi negatif sebesar 60 juta dollar AS pada 2024.
Khusus pada kuartal IV 2025, arus kas bebas mencapai 57 juta dollar AS, yang menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun.
Belanja modal (capital expenditure) tercatat sebesar 179 juta dollar AS, relatif stabil secara tahunan, dengan alokasi yang seimbang antara kebutuhan pemeliharaan dan pertumbuhan.
Perbaikan operasional juga terlihat dari peningkatan kinerja sepanjang tahun. Overburden removal meningkat dari 76 MBCM pada kuartal pertama menjadi 79 MBCM pada kuartal IV 2025.
Peningkatan ini didorong oleh perbaikan pada perencanaan, pelaksanaan shift yang lebih disiplin, pelaksanaan maintenance, serta penyelesaian hambatan operasional.
Dalam periode Januari 2025 hingga Januari 2026, jam kerja alat meningkat 6 persen, downtime berkurang 31 persen, jam non-produktif turun 17 persen, dan cycle time membaik 3 persen.
Perbaikan tersebut berdampak pada penurunan biaya unit, dari 2,22 dollar AS per BCM pada kuartal I menjadi 1,83 dollar AS per BCM pada kuartal IV 2025.
Di tingkat Grup, EBITDA meningkat secara bertahap dari 14 juta dollar AS pada kuartal pertama menjadi 48 juta dollar AS pada kuartal keempat, mencerminkan perbaikan kinerja yang berkelanjutan sepanjang tahun.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi perusahaan.
“FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat. Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan,” ujar dia.
“Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026,” imbuh Iwan.
Perkuat likuiditas dan struktur utang
Sepanjang 2025, Grup juga memperkuat likuiditas dan memperpanjang profil jatuh tempo utang melalui sejumlah inisiatif pendanaan.
Pada Februari, PT Bank Central Asia Tbk bergabung dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi sebesar 1 miliar dollar AS.
Selanjutnya pada Maret, Grup menerbitkan Sukuk Ijarah sebesar 2 triliun rupiah atau setara 121,7 juta dollar AS. Instrumen ini disebut sebagai Sukuk Ijarah Korporasi Syariah Berperingkat A+ terbesar dalam satu kali penerbitan di Indonesia.
Pada Oktober, Grup kembali menerbitkan Obligasi III BUMA Tahun 2025 sebesar 884 miliar rupiah atau setara 53,8 juta dollar AS.
Kemudian pada November, Grup melakukan pelunasan lebih awal Senior Notes senilai 212 juta dollar AS sebelum jatuh tempo.
Langkah-langkah tersebut dinilai meningkatkan likuiditas serta fleksibilitas struktur permodalan, sekaligus menghasilkan profil jatuh tempo utang yang lebih seimbang.
Amankan kontrak dan lanjutkan diversifikasi
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, Grup mengamankan tiga kontrak signifikan di Indonesia dan Australia.
BUMA Australia memperoleh perpanjangan kontrak sekitar 740 juta dollar Australia di Blackwater Mine hingga Juni 2030, serta perpanjangan kontrak di Goonyella Riverside Mine hingga September 2027.
Setelah penutupan tahun buku, Grup juga mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia di Tambang Tutupan Selatan hingga Desember 2030, yang mencakup sekitar 239 MBCM overburden removal dan 44 juta ton produksi batu bara.
Di luar jasa pertambangan, strategi diversifikasi juga terus didorong. Grup memiliki 22,60 persen saham di 29Metals, perusahaan tambang yang berfokus pada tembaga dengan eksposur tambahan terhadap seng, emas, dan perak.
Selain itu, Atlantic Carbon Group Inc., yang 71 persen sahamnya dimiliki Grup, menunjukkan peningkatan stabilitas dan kinerja operasional. Perusahaan ini merupakan produsen antrasit ultra-high-grade dengan tiga tambang aktif di Pennsylvania, Amerika Serikat.
Grup juga memiliki 44,15 persen saham di Asiamet Resources Limited, pemilik proyek BKM Copper Project di Indonesia.
“Kami memasuki tahun 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin. Prioritas kami jelas: mendorong keunggulan operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, memperkuat pengelolaan kas, serta mewujudkan pemulihan menjadi kinerja keuangan yang konsisten, sembari terus mengejar pertumbuhan baik secara organik maupun anorganik,” terang Iwan.
