Ekspor Batu Bara Sepanjang 2025 Anjlok 19,7%, Susut ke Rp411 T

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 minus 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).

Torehan kinerja ekspor komoditas emas hitam itu terpaut lebar dari capaian sepanjang periode yang sama tahun sebelumnya di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan koreksi nilai ekspor batu bara itu ikut dibarengi dengan susutnya pengiriman batu bara secara volume sepanjang tahun lalu.

“Nilai ekspor batu bara ini turun 19,70% secara kumulatif,” kata Ateng saat konferensi pers secara daring, Senin (2/2/2026).

Adapun, kinerja ekspor batu bara secara volume terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari-Desember 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 405,76 juta ton.

Pelemahan kinerja ekspor batu bara itu sejalan dengan koreksi ekspor bahan bakar mineral (HS 27) ke China dan India.

Pertumbuhan kapasitas pembangkit batu bara China./dok. Bloomberg

 

Adapun, ekspor bahan bakar mineral ke China anjlok 24,59% menjadi US$10,47 miliar dan ekspor ke India susut 23,25% ke level US$5,35 miliar.

“Nilai ekspor nonmigas China sebesar US$64,82 miliar didominasi besi dan baja dengan shares 27,65%,” kata Pudji.

Kendati demikian, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan Indonesia lainnya seperti besi dan baja serta CPO dan turunannya kompak mencatatkan penguatan.

Ekspor besi dan baja lompat 8,41% ke level US$27,97 miliar dari posisi tahun sebelumnya di angka US$25,80 miliar.

Selain itu, kinerja ekspor CPO dan turunannya melonjak 21,83% ke level US$24,42 miliar, dari posisi periode tahun sebelumnya di angka US$20,05 miliar.

“Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 21,83% secara kumulatif,” tuturnya.

Surplus Neraca

Secara keseluruhan, BPS mencatat peningkatan net surplus transaksi perdagangan sepanjang tahun 2025 sebesar US$9,72 miliar (setara Rp163,15 triliun).

Menurut BPS, surplus neraca sepanjang 2025 sekitar US$41,05 miliar (setara Rp689 triliun) relatif tinggi jika melihat catatan periode yang sama di 2024 yaitu sekitar US$31,33 miliar (setara US$525,87 triliun).

“Surplus sepanjang Januari hingga Desember 2025 terutama ditopang oleh surplus komoditi non migas sebesar US$60,75 miliar,” kata Ateng.

Sebagai catatan pada data full year 2024 neraca dagang Indonesia hanya meraih surplus US$51,73 miliar.

“Sementara komoditi migas masih mengalami defisit sebesar US$19,7 miliar,” tambah Ateng. Pada posisi 2024 defisit perdagangan migas tercatat US$20,4 miliar. (naw)

Sumber:

– 02/02/2026

Temukan Informasi Terkini

Harga Batu Bara Acuan Naik menjadi US$ 106 per Ton, Imbas Pemangkasan Produksi

baca selengkapnya

HPE Konsentrat Tembaga Naik, Kinerja Emiten Tambang Diprediksi Meningkat

baca selengkapnya

Ramai RKAB Batu Bara Dipangkas 40%-70%, PTBA Ikut Terimbas?

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top