Kebijakan pemangkasan produksi hingga 70 persen membuat ekspor spot tersendat dan memicu kekhawatiran krisis pasokan di pasar Asia.
Gelombang kegelisahan melanda pasar energi Asia. Para penambang Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai pemasok batu bara terbesar dunia, mendadak menghentikan ekspor batu bara spot setelah pemerintah mengusulkan pemangkasan produksi secara besar-besaran. Akibatnya, para pembeli di berbagai negara kini kesulitan mengamankan pasokan.
Para pejabat industri, mengungkapkan kebijakan baru pemerintah membuat aktivitas pengiriman batu bara menjadi terbatas. Indonesia pada bulan lalu mengeluarkan kuota produksi kepada perusahaan tambang besar dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibanding tahun 2025. Pemangkasan itu berkisar antara 40 persen hingga 70 persen.
Langkah tersebut merupakan bagian dari rencana pemerintah memangkas total produksi hampir seperempat demi mendongkrak harga batu bara di pasar global. Namun kebijakan ini langsung mendapat perlawanan dari asosiasi industri utama. Mereka memperingatkan pemotongan drastis itu berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja dan bahkan penutupan tambang.
“Produksi masih berjalan tetapi belum dalam kapasitas penuh, dan pengiriman batu bara akan dibatasi sampai ada keputusan final mengenai kuota pemerintah,” kata Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia, H. Kristiono, dikutip dari Reuters, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menambahkan, saat ini tidak ada kargo batu bara spot yang ditawarkan ke pasar. Meski begitu, kontrak jangka panjang masih tetap dipenuhi oleh perusahaan tambang. Namun Kristiono mengakui beberapa penambang mulai mempertimbangkan pembatalan kontrak dengan alasan keadaan tak terduga.
Usulan pembatasan produksi ini menjadi gangguan pasokan terbaru yang dipicu kebijakan pemerintah Indonesia. Tujuannya jelas, meningkatkan penerimaan negara di tengah permintaan yang melemah dari dua pembeli terbesar, China dan India. Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat membuat harga batu bara melonjak tajam.
Data dari Kpler menunjukkan Indonesia menyumbang setengah dari total 960 juta metrik ton batu bara untuk pembangkit listrik yang diekspor secara global pada 2025. Kini pemerintah sedang mempertimbangkan pemotongan produksi sebesar 24 persen menjadi sekitar 600 juta ton, padahal ekspor tahun lalu saja sudah menembus lebih dari 510 juta ton.
Para pedagang memperkirakan rencana pembatasan ini bakal mendorong harga batu bara naik dan membuat pasokan semakin ketat. Seorang pedagang India mengungkapkan dalam konferensi Coaltrans India di New Delhi bahwa kargo batu bara spot dari Indonesia bahkan tidak dijual meskipun ada penawaran premi USD1 hingga USD2 per ton, setara sekitar Rp16.850 hingga Rp33.700 per ton, di atas harga pasar saat ini.
Seorang pedagang yang berbasis di Singapura juga menyebutkan bahwa pengiriman spot kemungkinan tidak akan kembali normal pada kuartal ini kecuali Indonesia melonggarkan kebijakan pemangkasan produksi. Kedua pedagang tersebut menolak disebutkan namanya karena tidak memiliki kewenangan berbicara kepada media.
Dampak Kebijakan Mulai Terasa
Guncangan kebijakan ini sudah terasa di pasar. Harga batu bara Indonesia berkalori rendah 4.200 kcal per kilogram tercatat naik sekitar 7 persen sepanjang Januari, menurut data pedagang batu bara asal India, I-Energy Natural Resources. Kenaikan itu terjadi setelah laporan rencana pemotongan produksi muncul pada minggu pertama bulan tersebut.
Batu bara berkalori rendah memang mendominasi ekspor Indonesia. Perusahaan perdagangan komoditas yang berbasis di London, DBX Commodities, memprediksi bahwa harga batu bara jenis ini bisa melonjak 40 persen hingga 70 persen jika produksi benar-benar dipangkas 20 persen. Sementara itu, batu bara berkalori tinggi diperkirakan hanya naik sekitar 10 persen hingga 20 persen.
“Guncangan pasokan dari Indonesia mendorong premi batu bara dari negara lain ikut naik. Penawaran dari Jepang, China dan Korea meningkat karena mereka mencari pasokan yang lebih stabil,” kata seorang pedagang batu bara dari perusahaan utilitas besar di Asia.
Namun tidak semua pihak yakin lonjakan harga akan terjadi terlalu ekstrem. Beberapa pelaku industri menilai preferensi pembeli yang kini lebih condong ke batu bara berkualitas tinggi dari pemasok lain, ditambah permintaan yang masih lemah dari China dan India, bisa menahan kenaikan harga agar tidak terlalu tajam.
“Pembalikan kebijakan akibat tekanan tenaga kerja atau fiskal, perlambatan ekonomi China yang lebih parah dari perkiraan, serta harga gas yang tetap rendah bisa meredam kenaikan harga batu bara yang diinginkan,” ujar CEO DBX Commodities, Alexandre Claude.
Direktur I-Energy Natural Resources, Vasudev Pamnani, juga memprediksi adanya guncangan pasokan dan harga dalam jangka pendek bagi pembeli dari India. Namun menurutnya, India masih memiliki opsi lain jika situasi berlarut-larut.
“Tetapi jika pemangkasan terus berlanjut, India punya pilihan untuk melakukan diversifikasi dan mengimpor dari Rusia, Afrika Selatan, dan Mozambik,” katanya.
