ESDM Beri Kesempatan Vale (INCO) Ajukan Revisi RKAB 2026

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dapat mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pengajuan permohonan revisi RKAB itu dapat diajukan ke Kementerian ESDM pada April hingga Juli 2026.

Enggak, kan mereka ada kesempatan juga untuk melakukan revisi April paling telat 31 Juli,” kata Tri kepada awak media di DPR, Jakarta, dikutip Selasa (20/1/2026).

Sebelumnya, Direktur Utama INCO Bernadus Irmanto meminta dukungan tambahan kuota produksi bijih nikel kepada Komisi XII DPR RI, meski perusahaan itu telah memperoleh persetujuan RKAB dari otoritas mineral dan batu bara.

Bernadus mengatakan kuota produksi yang diberikan dalam RKAB saat ini hanya 30% dari volume yang diajukan.

Angka tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi komitmen pasokan ke sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian (smelter) yang tengah dikembangkan INCO bersama mitra strategisnya.

Bagaimanapun, dia tidak menyebutkan berapa persisnya volume produksi bijih yang diajukan INCO dalam RKAB 2026 ke Kementerian ESDM.

“Jadi yang kemudian menjadi permohonan dukungan kami adalah terkait dengan kuota penambangan atau produksi ore dari tambang kami di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako,” kata Bernadus dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/1/2026).

“Saat ini kami sudah memperoleh approval atau persetujuan atau pengesahan RKAB. Namun demikian, kuota yang diberikan kepada Vale sekitar 30%,” kata Bernardus.

Menurut Bernadus, yang biasa disapa Anto, keterbatasan kuota berisiko mengganggu jadwal pasokan bahan baku ke mitra industri sekaligus berdampak terhadap komitmen perusahaan kepada para pemegang saham.

Untuk itu, INCO berharap pemerintah membuka ruang revisi RKAB agar volume produksi bisa disesuaikan dengan kebutuhan riil proyek hilirisasi yang sudah berjalan.

“Jadi mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk menganjurkan revisi RKAB dan juga mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan juga komitmen terhadap pemegang saham kami,” harapnya.

Untuk diketahui, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas smelter.

Tambang Bahodopi menjadi salah satu proyek strategis perseroan dalam diversifikasi produk. Dengan masuknya Bahodopi ke tahap produksi, INCO bisa meningkatkan eksposur penjualan saprolit, yang sebelumnya bertumpu pada nickel matte.

Penjualan saprolit dari tambang Bahodopi dilakukan pada Juli 2025, dengan total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah per September 2025.

Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II-2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi tambang Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.

Dalam pengembangan lini hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd. (Huayou) dan Ford Motor Co dalam pembangunan smelter.

Untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM Hong Kong International Co. Ltd., serta Danantara. Sementara itu, di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.

— Dengan asistensi Pramesti Regita Cindy (azr/naw)

Sumber:

– 20/01/2026

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Jumat, 20 Februari 2026

baca selengkapnya

Freeport Teken Nota Kesepahaman Perpanjangan Izin Tambang Grasberg Seumur Cadangan

baca selengkapnya

Proyek DME Muara Enim Segera Dimulai, PTBA Tunggu Finalisasi Danantara

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top