ESDM: Industri Baja China Krisis, RI Kebut Hilirisasi Nikel ke EV

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Indonesia akan mengakselerasi proses penghiliran atau hilirisasi nikel ke arah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), di tengah risiko kebangkrutan industri baja China.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Julian Ambassadur Shiddiq mengatakan fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada hilirisasi nikel untuk menghasilkan bahan baku baja nirkarat atau stainless steel yang selama ini menjadi andalan ekspor, tetapi juga pada pengembangan ekosistem baterai EV. 

“Pemerintah menyadari permintaan nikel dari industri baja [China terhadap nikel Indonesia] memang besar, tetapi sektor baterai EV adalah game changer yang bisa menggeser arah pasar,” ujar Julian kepada Bloomberg Technoz, Kamis (26/9/2024).

Dengan adanya kebijakan global menuju dekarbonisasi dan percepatan transisi energi, kata Julian, permintaan nikel untuk bahan baku baterai EV pun diproyeksikan meningkat signifikan. 

Untuk itu, lanjutnya, Pemerintah Indonesia telah bersiap dengan strategi mitigasi melalui pengembangan pasar-pasar hilir baru dan mendorong hilirisasi nikel sampai end product seperti pengolahan nikel untuk baterai EV.

Julian mengatakan nikel adalah salah satu komponen kunci dalam pembuatan baterai litium-ion yang digunakan pada EV, dan pasar EV global diprediksi akan terus tumbuh pesat dalam beberapa dekade mendatang.

“Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir dampak ketergantungan Indonesia pada pasar baja China dan mendorong diversifikasi produk hilir nikel,” ujarnya.

Dalam konteks pengelolaan hilirisasi nikel ke depannya, kata Julian, pemerintah akan fokus pada pengembangan industri pendukung dari industri sel baterai seperti anoda, elektrolit, separator dan lain-lain.

Sekadar catatan, sebanyak 84,74% produk hilirisasi nikel Indonesia seperti nickel pig iron (NPI) atau ferronickel (Fe-Ni), nickel matte, stainless steel HRC, dan ni-scrap diekspor ke China pada 2023. 

Dengan demikian, permintaan nikel dari Indonesia ke China dapat mengalami penurunan dan menyebabkan oversupply nikel bila industri baja di China melemah atau bahkan tumbang.

“Sehingga harga nikel global turun yang tentunya dapat berimbas negatif pada industri nikel di Indonesia serta berkurangnya volume ekspor nikel Indonesia yang berpengaruh kepada neraca perdagangan Indonesia serta menurunnya pendapatan negara dari ekspor nikel,” ujar Julian.

Menyitir London Metal Exchange (LME), harga nikel menguat 0,51% menjadi US$16.796/ton pada penutupan perdagangan Rabu (25/9/2024).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor salah satu komoditas andalan Indonesia dalam hilirisasi, yakni nikel sebesar US$4,94 miliar pada periode Januari hingga Agustus 2024.

Deputi Kepala Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan, ekspor nikel dan barang daripadanya (HS75) pada Januari hingga Agustus 2024 tumbuh 8,83% secara year on year (yoy).

“Jadi angka ini naik 8,83% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023,” tutur Pudji dalam konferensi pers kinerja Ekspor-Impor Agustus 2024 di kantornya, Selasa (17/9/2024).

Adapun, Kementerian ESDM mencatat realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor ESDM pada 2023 mencapai Rp300,3 triliun atau 116% dari target yang ditetapkan sebesar Rp259,2 triliun.

PNBP dari mineral dan batu bara (minerba) mencapai Rp173 triliun atau 58% dari total PNBP sektor ESDM, alias yang menjadi kontributor paling besar.

Krisis baja China tengah menuju gelombang kebangkrutan dan mempercepat konsolidasi industri yang sangat dibutuhkan, menurut Bloomberg Intelligence (BI).

Hampir tiga perempat dari produsen baja di negara itu mengalami kerugian di paruh pertama dan kebangkrutan kemungkinan besar akan terjadi pada banyak di antaranya, Michelle Leung, analis senior di BI, mengatakan dalam catatan.

Xinjiang Ba Yi Iron & Steel Co, Gansu Jiu Steel Group dan Anyang Iron & Steel Group Co menghadapi risiko tertinggi, dan dapat menjadi target akuisisi potensial.

Gelombang konsolidasi akan membantu Beijing mendorong lebih banyak konsentrasi pada industri bajanya, ujar BI. Pemerintah ingin lima perusahaan teratas menguasai 40% pasar pada tahun 2025 dan 10 perusahaan teratas menguasai 60%.

Target-target ini terlihat “dapat dicapai,” meskipun China masih akan berada jauh di belakang Korea Selatan dan Jepang dalam hal ini, kata Leung. (dov/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 26 September 2024

 

 

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top