PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam mengungkapkan kinerja volume penjualan 2025, seperti dikutip Stockbit Sekuritas, Senin (2/2/2026).
Antam (ANTM) mencatatkan penjualan emas sebanyak 3,33 ton pada kuartal IV-2025, terpangkas 30% qoq atau anjlok 78% yoy. Dengan demikian, total penjualan emas Antam sepanjang 2025 mencapai 37,4 ton atau turun 15% yoy.
Sedangkan penjualan bijih nikel emiten berkode saham ANTM tersebut sebesar 3,35 juta wmt pada kuartal IV-2025, meningkat 10% qoq atau naik 27% yoy. Alhasil, total penjualan bijih nikel ANTM selama 2025 mencapai 14,58 juta wmt atau melonjak 75% yoy.
Selanjutnya, penjualan feronikel sebanyak 2.346 ton pada kuartal IV-2025, turun 3% qoq atau terpangkas 70% yoy. Totalnya pada 2025 mencapai 10.528 ton atau anjlok 46% yoy.
Penjualan bauksit ANTM sebesar 0,79 juta wmt pada kuartal IV-2025, melesat 914% qoq atau meningkat 23% yoy. Totalnya selama 2025 mencapai 1,89 juta wmt atau melejit 157% yoy.
Terakhir, penjualan alumina sebanyak 45.453 ton pada kuartal IV-2025, tumbuh 4% qoq atau naik 3% yoy. Total penjualan alumina sepanjang 2025 mencapai 180.221 ton atau naik 2% yoy.
Sementara itu, di lantai bursa, harga saham ANTM – hingga berita ini ditayangkan – ambles 13% ke level Rp 3.660.
Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, harga emas di pasar spot sempat ambrol sekitar 15% dalam 2 hari perdagangan terakhir dari level US$ 5.375/oz pada pembukaan Jumat (30/1) ke US$ 4.586/oz pada Senin pagi (2/2), sebelum bergerak di kisaran US$ 4.600-4.700/oz.
Adapun Bloomberg melaporkan bahwa penurunan harga emas didorong oleh efek squeeze akibat aksi profit taking dan penguatan dolar AS, seiring penunjukkan mantan anggota gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai kepala The Fed setelah jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei 2026.
Warsh dikenal kritis terhadap neraca The Fed yang terlalu besar, sehingga pasar mulai mengantisipasi kebijakan pengetatan neraca dan penurunan peran The Fed dalam pasar keuangan untuk memulihkan kredibilitas kebijakan moneter. Editor: Jauhari Mahardhika
