Fokus PT Petrosea Tbk (PTRO) tahun ini akan tertuju pada perluasan basis klien, terutama di sektor pertambangan dan engineering, procurement, and construction (EPC). Melalui strategi fokus tersebut, PTRO meyakini akan menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan.
Manajemen PTRO memproyeksikan perseroan akan tumbuh secara berkelanjutan pada tahun buku 2026 dengan didukung oleh kombinasi antara ekspansi organik dan perolehan kontrak strategis baru.
“Strategi ini difokuskan pada perluasan basis klien, khususnya di sektor pertambangan dan EPC, yang diharapkan dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan sekaligus memperkuat posisi perusahaan di industri,” tulis manajemen dalam laporan keberlanjutan dan ESG yang dipublikasikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip, Minggu (29/3/2026).
Selain memperluas basis pelanggan, manajemen PTRO menyebut pertumbuhan perseroan pada 2026 juga akan didorong oleh kontribusi anak usaha baru, termasuk Grup HBS, Hafar, dan Scan-Bilt yang diyakini bakal membawa basis klien tambahan serta membuka peluang ekspansi ke segmen pasar dan sektor yang lebih luas bagi PTRO.
Karena itu, melalui kehadiran anak-anak usaha tersebut, emiten Prajogo Pangestu ini berharap, dapat memperkuat diversifikasi sumber pendapatan sekaligus meningkatkan skala bisnis perusahaan. Hal ini sebagai bentuk komitmen perseroan untuk terus meningkatkan profitabilitas lewat penguatan ekspansi operasional dan implementasi manajemen biaya yang disiplin.
“Melalui berbagai langkah tersebut, PTRO menargetkan laba bersih pada 2026 tumbuh, didukung oleh peningkatan kinerja operasional dan pengelolaan margin yang lebih optimal,” sambung manajemen.
Lebih jauh dari itu, emiten kontraktor pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu ini juga akan terus mengoptimalkan sinergi dalam pengelolaan sumber daya manusia serta berbagai fungsi pendukung bisnis lainnya.
“Didukung tenaga kerja yang kompeten serta pengembangan sistem manajemen berbasis digital, PTRO optimistis dapat meningkatkan kinerja operasional maupun finansial secara berkelanjutan,” papar manajemen.
Terlebih, dilihat dari prospek usaha, industri energi dan pertambangan di Indonesia dipandang masih cukup menjanjikan dalam jangka menengah, menyusul tumbuhnya permintaan energi secara global dan kebijakan pemerintah yang berupaya menjaga keberlanjutan pasokan domestik.
Di sektor batu bara, permintaan global terhadap emas hitam tersebut masih kompetitif sekaligus berperan vital dalam sistem kelistrikan dunia, khususnya di Asia dan Asia Tenggara.
Badan Energi Internasional (IEA) mengestimasikan permintaan batu bara global akan mencapai sekitar 8,8 miliar ton pada 2025 dan stabil pada 2026 berkat katalis dari permintaan China dan India. Angka tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan global pada batu bara, terutama untuk pembangkit listrik dan industri logam.
Paralel dengan prospek permintaan batu bara yang masih solid hingga 2026, PTRO meyakini industri batu bara nasional prospektif dalam jangka menengah, terutama untuk segmen batu bara termal berkalori tinggi dan batu bara metalurgi bagi industri baja. Editor: Muawwan Daelami
