Freeport Akui Investasi Smelter Rp60 T, Nilai Tambahnya Cuma 3,5%

PT FREEPORT Indonesia (PTFI) melaporkan bahwa proses penghiliran atau hilirisasi dari konsentrat menjadi katoda tembaga, melalui investasi smelter, hanya menghasilkan nilai tambah pada rentang 3,5% hingga 5%.

VP Government Relation Freeport Indonesia Harry Pancasakti mengatakan perseroan padahal sudah menggelontorkan investasi hampir Rp60 triliun untuk membangun pabrik pemurnian atau smelter katoda tembaga terbaru di Manyar, Gresik, Jawa Timur.

“Untuk hilirisasi tembaga, margin nilai tambah yang bisa kita dapatkan dengan kita memproses produk dari hasil penambangan dan pengolahan berupa konsentrat tembaga menjadi suatu tembaga murni. Nilai tambahnya hanya 3,5% sampai 5%. Sementara itu, investasi yang diperlukan seperti yang kita sudah selesaikan di Gresik, itu hampir Rp60 triliun. Jadi margin ini sangat kecil apabila dibandingkan dengan nilai tambah yang akan didapatkan,” ujar Harry dalma agenda Leaders Forum, Selasa (17/9/2024). 

Menurut Harry, tantangan selanjutnya bagi Indonesia adalah menentukan tahapan hilirisasi dari tembaga. Terlebih, produk yang akan dihasilkan dari katoda tembaga memiliki nilai tambah yang jauh lebih besar.

Sementara itu, kata Harry, selama ini hanya 50% dari produk katoda tembaga yang dihasilkan oleh smelter PT Smelting yang dapat diserap dalam negeri dan sisanya terpaksa diekspor. Smelter itu padahal sudah berproduksi sejak 1998.

Sekadar catatan, 65% saham PT Smelting dipegang oleh PTFI. PT Smelting mampu memurnikan dan mengolah 1 juta ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.

Selanjutnya, Harry mengatakan, sejauh ini komitmen menyerap atau offtaker produk katoda tembaga dari smelter terbaru di Manyar, Gresik baru sekitar 100.000 ton/tahun dari pabrik foil tembaga di KEK JIIPE, Gresik, Jawa Timur.

“Sisa 500.000 ton kalau memang tidak ada konsumen dalam negeri, ya otomatis terpaksa harus kita ekspor dan ekspornya tidak jauh-jauh, di Asia Tenggara, [ada] dari Vietnam, Thailand dan juga Malaysia,” ujarnya.

Dengan demikian, Harry mengatakan, negara-negara tetangga Indonesia yang justru bakal menikmati nilai tambah yang lebih besar karena mampu menghasilkan produk turunan dari katoda tembaga.

PTFI melaporkan nilai investasi dari pabrik pemurnian atau smelter katoda tembaga terbaru di Manyar, Gresik, Jawa Timur, mencapai US$3,7 miliar atau Rp58 triliun.

Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan smelter tersebut, dalam kapasitas penuh, bakal memiliki kemampuan untuk mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga yang bakal menghasilkan 600-700 ton katoda tembaga. (dov/wdh)

Sumber: bloombergtechnoz.com, 17 September 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top