Gambaran Performa Timah (TINS) dan Harita Nickel (NCKL), plus Target Sahamnya

HARGA mayoritas logam dasar turun sepanjang kuartal III-2024 karena pelemahan aktivitas industri dan manufaktur di China. Lantas, bagaimana dengan emiten di sektor pertambangan logam, seperti PT Timah Tbk (TINS), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, termasuk saham-sahamnya?

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus mengungkapkan, harga nikel LME sepanjang kuartal III-2024 turun 12% qoq, sedangkan harga nickel pig iron (NPI) naik 3% qoq. Karena itu, pihaknya mengantisipasi kuartal yang penuh tantangan di sektor pertambangan logam, dengan estimasi perubahan pendapatan dan laba bersih masing-masing +11% dan -21% qoq.

“Alhasil, kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 23% yoy selama Januari-September 2024, namun laba bersih turun 21%,” tulis Timothy dan Christian dalam risetnya.

Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas yakin bahwa estimasinya dan hasil konsensus tergolong konservatif, menghasilkan kinerja yang outperform sepanjang Januari-September 2024, dimana masing-masing mencapai 80%/80% dari perkiraan dan 79%/79% dari estimasi konsensus tahun ini.

Adapun Timah (TINS) dan Harita Nickel (NCKL) berpotensi membukukan laba yang lebih baik pada kuartal III-2024. Rata-rata harga timah LME pada kuartal III-2024 mencapai US$ 31.700/t atau turun 1,9% qoq. Volume penjualan TINS diperkirakan naik 5% qoq menjadi sekitar 5 kt, ditopang oleh peningkatan hasil produksi dan profitabilitas yang lebih kuat karena penurunan biaya tunai dari operasi TSL Ausmelt.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Di nikel, NCKL diprediksi mencetak laba yang solid sekitar Rp 1,7 triliun, turun 5% qoq. Meski sedikit turun, laba NCKL masih lebih baik dibandingkan rata-rata di sektornya, yang ditaksir anjlok 21% qoq. “Laba NCKL sepanjang Januari-September 2024 dapat mencapai Rp 4,5 triliun atau sekitar 86% dan 85% dari estimasi kami dan konsensus, yang bakal menjamin potensi peningkatan laba,” ungkap Timothy dan Christian.

Dengan berbagai pertimbangan, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor pertambangan logam. TINS dan NCKL tetap menjadi pilihan utama. Lebih rinci, urutan pemilihannya sebagai berikut: TINS, NCKL, ANTM, MBMA, MDKA, INCO.

“NCKL tetap menjadi pilihan utama dalam kategori nikel, karena kinerja operasional dan visibilitas pendapatannya kuat. Kami juga lebih menyukai TINS karena didukung oleh pengetatan pasokan global akibat penurunan ekspor bijih dari Myanmar ke China,” jelas Timothy dan Christian.

Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan peringkat saham Antam (ANTM) ke urutan atas, karena mengantisipasi kontribusi nikel yang lebih kuat pada kuartal IV-2024 berkat kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham Timah (TINS) dengan target harga Rp 1.400. Begitu juga dengan saham Harita Nickel (NCKL), rekomendasinya beli dan target harga Rp 1.300.

Saham Antam (ANTM), Merdeka Battery Materials (MBMA), Merdeka Copper Gold (MDKA), dan Vale Indonesia (INCO) juga direkomendasikan beli. Target harga saham ANTM sebesar Rp 2.000, MBMA Rp 650, MDKA Rp 3.000, dan INCO Rp 5.700. Editor: Jauhari Mahardhika

Sumber: investor.id, 21 Oktober 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top