Harga Batu Bara Ambles 5 Hari Beruntun, Bantuan Jepang & China Sia-Sia

Harga batu bara belum juga bangkit setelah lima hari ambruk.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (25/2/2026) ada di posisi US$ 117,25 atau turun 0,64%.

Penurunan tersebut memperpanjang derita harga batu bara dengan ambruk 4% dalam lima hari beruntun.

Harga batu bara belum juga membaik meski ada kabar positif dari Jepang hingga India.

Data awal dari Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan Jepang mengimpor sekitar 15,70 juta ton batu bara pada Januari, naik 2% dibanding Januari tahun lalu. Nilai impor batu bara tersebut mencapai sekitar JPY 334,09 miliar (sekitar US$2,14 miliar), turun sekitar 13,2% secara tahunan.

Impor dari AS melonjak sekitar 49,4% menjadi sekitar 911.000 ton, dengan nilai naik sekitar 9,3%. Impor dari Rusia meningkat tajam 258,6%, sekitar 92.000 ton, dengan nilai naik 294,7%.

Jepang juga mengimpor batu bara dari negara Asia lainnya sekitar 2,66 juta ton, naik 7,3% secara tahunan.

Meningkatnya volume impor dari beberapa negara sumber menunjukkan Jepang masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan batu bara, meski nilai totalnya turun karena harga lebih rendah atau perubahan komposisi impor.

Tren ini mencerminkan pergeseran pola pasokan dan permintaan batu bara di Jepang pada awal 2026.

Dari India dilaporkan permintaan batu bara mereka diperkirakan akan terus meningkat, terutama karena kebutuhan listrik yang tumbuh pesat.

Pertumbuhan ekonomi, ekspansi industri, dan kenaikan konsumsi listrik rumah tangga menjadi pendorong utama lonjakan kebutuhan energi berbasis batu bara.

Batu bara masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik India, menyumbang mayoritas produksi listrik nasional, sehingga kenaikan permintaan listrik langsung meningkatkan konsumsi batu bara.

Produksi domestik India juga terus meningkat, tetapi tidak selalu cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan, sehingga impor tetap menjadi faktor penting dalam pasokan energi negara tersebut.

Permintaan listrik meningkat seiring urbanisasi, pertumbuhan populasi, dan kebutuhan pendinginan (AC) yang lebih tinggi, terutama saat suhu ekstrem.

Kabar positif juga dilaporkan China. Sentimen pasar batu bara termal di wilayah tambang utama China membaik pada 25 Februari, didorong oleh pemulihan permintaan secara bertahap setelah libur panjang serta harga batu bara di pelabuhan yang tetap kuat.

Permintaan dari pengguna akhir mulai kembali meningkat, sehingga harga batu bara di mulut tambang (mine-mouth) di beberapa daerah penghasil utama mengalami kenaikan atau tren menguat.

Aktivitas produksi tambang dan perdagangan juga mulai pulih seiring normalisasi operasional setelah periode libur, yang ikut memperbaiki sentimen pasar domestik. Kenaikan harga di pelabuhan juga memberi dukungan tambahan pada harga di area tambang, karena pelaku pasar melihat peluang margin lebih baik.

Namun, pasar batu bara kokas relatif stabil, dengan harga yang sebagian besar tidak berubah dalam penilaian terbaru pasar. Pelaku pasar bersikap hati-hati dan banyak memilih menunggu perkembangan berikutnya.

Kekhawatiran utama berasal dari pelemahan harga baja, yang menekan profitabilitas pabrik baja dan meningkatkan kemungkinan mereka menekan harga bahan baku, termasuk coke.

Karena tekanan dari sektor hilir tersebut, potensi pemotongan harga coke mulai diperhitungkan oleh pasar, meskipun belum terjadi secara langsung. (mae/mae)

Sumber:

– 26/02/2026

Temukan Informasi Terkini

Petrosea (PTRO) Caplok 55 Persen Saham Vista Maritim Asia

baca selengkapnya

Indo Tambangraya (ITMG) Raih Laba US$190,94 Juta pada 2025, Turun 48,96%

baca selengkapnya

KLH Bekukan 80 Izin Lingkungan Tambang Batu Bara-Nikel Usai Evaluasi

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top