Harga batu bara ambruk seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan melemahnya harga minyak.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 139,1 per ton atau melemah 4,6% pada perdagangan Rabu (1/4/2026). Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan melemahnya 6,6% dalam dua hari berturut-turut.
Harga batu bara ambruk sejalan dengan melemahnya harga energi global. Pada perdagangan kemarin, harga minyak melemah setelah komentar tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate turun 1,24% menjadi US$100,12 per barel, sementara minyak mentah Brent turun 2,7% menjadi US$101,16 per barel.
Harga gas Eropa juga jeblok 3,5%.
Harga batu bara sempat reli tiga hari pada akhir Maret dan menguat 8%.
Sepanjang Maret 2026, harga batu bara terbang 24,55%. Ini merupakan penguatan tertinggi sejak Mei 2022 di mana harganya terbang 37,2%.
Harga batu bara Afrika Selatan turun drastis ditekankan oleh pergeseran pengadaan domestik serta kedatangan kargo baru yang meningkatkan pasokan di pelabuhan. Namun, hilangkan stok lama juga menekan penawaran. Kenaikan harga besi sponsor mendukung sentimen pasar.
Dari China, pasar komoditas energi dan baja China kembali menunjukkan dinamika yang kontras. Di satu sisi, harga batu bara termal di pelabuhan utama China utara terus melemah akibat lemahnya permintaan. Namun di sisi lain, harga kokas justru mulai naik setelah sempat tertahan beberapa hari, menandakan terbatasnya perbaikan di sektor baja.
Harga batu bara termal di pelabuhan seperti Qinhuangdao dan Caofeidian dicatat melunak seiring dengan kombinasi faktor fundamental yang belum mendukung kenaikan harga.
Perbaikan dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) masih cenderung lemah. Utilitasnya tidak agresif karena konsumsi listrik belum menunjukkan gangguan yang signifikan. Kondisi ini diperparah dengan stok batu bara di pelabuhan yang masih relatif tinggi, sehingga kebutuhan pembelian tambahan menjadi terbatas.
Selain itu, penurunan harga batu bara di tingkat tambang (mulut tambang) turut menyeret harga di pelabuhan, mencerminkan tekanan berlapis dari sisi supply dan demand.
Di tengah pelemahan domestik, pasar batu bara impor justru menunjukkan kondisi yang terfragmentasi.
Dari sisi pembeli, utilitas dan pedagang China cenderung menahan pembelian karena harga batu bara global masih dianggap terlalu tinggi dibandingkan pasokan domestik. Mereka memilih menggunakan batu bara lokal yang lebih kompetitif.
Sementara itu, eksportir global termasuk dari Indonesia dan Australia terlibat dalam menurunkan harga terlalu dalam. Mereka masih menunggu pemulihan permintaan, khususnya dari negara-negara Asia lainnya. (mae/mae)
