Harga Batu Bara Bangkit Usai Ambruk 4 Hari, Berkah Gelombang Panas

  Harga batu bara acuan dunia terpantau mulai hijau lagi, setelah jatuh empat hari beruntun ke posisi terendah selama dua bulan     terakhir.

Melansir data Refinitiv, untuk perdagangan Senin kemarin (10/6/2024) harga batu bara acuan ICE Newcastle kontrak Juli berakhir di posisi US$ 133,70 per ton, dengan penguatan harian 0,53%.

Apresiasi ini kemudian mengakhiri tren pelemahan empat hari beruntun, yang telah mengakumulasi kejatuhan harga batu bara pada sepekan lalu mencapai lebih dari 5%.

Menurut Chem Analyst, harga Batubara di-perkirakan akan naik karena meningkatnya permintaan, khususnya oleh kuatnya aktivitas di kawasan Asia-Pasifik (APAC) yang meng-alami gelombang panas.

Sebagaimana diketahui, harga Batubara Australia juga melonjak karena meningkat-nya permintaan dari beberapa negara Asia, termasuk Thailand, Filipina, dan Vietnam, yang mengalami gelombang panas yang sangat tinggi.

Alhasil, konsumsi energi meningkat karena permintaan tinggi terhadap alat pendingin. Peningkatan permintaan juga datang dari Jepang, dimana Kansai Electric melaporkan pada tanggal 30 April bahwa mereka mem-perkirakan pembangkit listrik akan me-ningkat pada tahun fiskal berikutnya (April 2024-Maret 2025).

Demikian pula, Kyushu Electric memper-kirakan peningkatan impor Batubara karena tingkat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir yang lebih rendah, turun dari 90,8% menjadi 88,1%.

Di pasar Afrika Selatan, harga Batubara terpantau naik tipis sebesar 1%, didorong oleh rendahnya stok dan stabilnya permintaan dari India dan Asia Pasifik. Persediaan di Richards Bay Coal Terminal (RBCT) telah pulih dari posisi terendah sebelumnya, di-dukung oleh tingginya permintaan dari India dan kawasan Asia-Pasifik.

   Minggu lalu, juga terdapat aktivitas signifikan dari produsen besi spons dan semen India, serta para pedagang, yang semakin         mening-katkan pasar Batubara.

Sebagai informasi, gelombang panas yang terjadi di India mencetak rekor yang terpanjang dirasakan selama 24 hari di berbagai berbagai wilayah di negara tersebut, ungkap Kepala Departemen Meteorologi India (IMD), Mrutyunjay Mohapatra dalam wawancara dengan surat kabar harian Express.

Banyak pelaku pasar kini optimis terhadap kuotasi harga dalam jangka menengah, memperkirakan bahwa produksi di Tiongkok tidak akan meningkat secara signifikan, semen-tara permintaan akan terus melebihi pasokan karena tingginya pemanfaatan alat pendingin.

Meningkatnya permintaan selama musim panas, ditambah dengan penurunan produksi, kemungkinan besar akan menyebabkan kenaikan harga Batubara lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. CNBC INDONESIA RESEARCH (tsn/tsn)

 

Sumber : CNBC Indonesia.com, 11 Juni 2024

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top