Harga batu bara berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan ini. Pasar mencermati prospek permintaan dari China dan India, serta dinamika pasokan dari negara produsen utama, termasuk Indonesia dan Australia.
Berdasarkan data perdagangan Jumat (6/2/2026), harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,4% ke level US$ 115,6 per ton. Sedangkan Maret 2026 melemah US$ 0,35 menjadi US$ 117,25 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 0,25 menjadi US$ 117,4 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melejit US$ 2,35 menjadi US$ 102,85. Sedangkan, Maret 2026 melesat US$ 2,8 menjadi US$ 103,1. Sedangkan pada April 2026 naik US$ 2,65 menjadi US$ 102,55.
Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, dibandingkan awal pekan, harga batu bara belum mengalami perubahan signifikan. Meski demikian, secara tahunan kinerja batu bara masih mencatatkan penguatan yang solid.
“Secara year to date (ytd), harga batu bara sudah menguat hampir 9%, mencerminkan sentimen pasar yang relatif positif,” ujar Girta Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Untuk sepekan ini, Yoga menilai harga batu bara masih memiliki peluang melanjutkan tren bullish, meski pergerakannya tetap akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Dari sisi teknikal, level resistance diperkirakan berada di kisaran US$117,00–119,50 per ton.
“Namun, jika muncul katalis negatif, harga berpotensi terkoreksi ke area support di kisaran US$115,00–112,50 per ton,” jelasnya.
Menurut Yoga, beberapa indikator utama yang memengaruhi pergerakan harga batu bara pekan ini antara lain kondisi permintaan di China dan India, situasi pasokan global, perkembangan kebijakan energi bersih, serta dinamika di pasar gas alam.
Permintaan China
Dari sisi permintaan, China diperkirakan masih menjadi motor utama. Negeri Tirai Bambu tersebut berencana mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) sepanjang tahun ini, yang berpotensi mendorong kebutuhan batu bara.
“India juga menunjukkan sinyal peningkatan permintaan, terutama setelah tercapainya kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat,” tambah Yoga.
Sementara itu, dari sisi pasokan, kebijakan pemangkasan produksi batu bara di Indonesia dinilai memberi dampak positif terhadap harga global. Indonesia merupakan eksportir batu bara terbesar dunia, sehingga pengurangan pasokan berpotensi memperketat pasar.
“Dengan berkurangnya pasokan dari Indonesia, negara importir utama seperti China dan India perlu mencari alternatif dari negara eksportir lain, yang pada akhirnya bisa menopang harga,” ujarnya.
Untuk jangka menengah, Yoga memproyeksikan harga batu bara pada kuartal I-2026 akan bergerak dalam rentang US$108–118 per ton. Meski masih berpotensi menguat, pasar dinilai tetap akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan permintaan energi dan kebijakan global.
“Secara umum, sentimen batu bara masih cukup konstruktif, namun pelaku pasar tetap perlu mencermati faktor risiko eksternal,” pungkas Yoga. Editor: Indah Handayani
