Harga batu bara kembali melemah meski banyak ditopang sentiment positif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (28/7/2026) ditutup di US$ 130,85 per ton, Harganya jatuh 1,25%.
Harga ini adalah yang terendah dalam tujuh hari terakhir.
Pelemahan kemarin juga memperpanjang derita batu bara yang jatuh 3,4% dalam dua hari terakhir.
Harga batu bara melemah meski banyak ditopang banyak kabar baik, termasuk masih tingginya permintaan. Namun, ambruknya harga minyak menjadi pemberat utama.
Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Pada Selasa, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4% menjadi US$79,26 per barel, sedangkan Brent melemah 4,8% menjadi US$84,09 per barel.
Permintaan Batu Bara Masih Tinggi
Impor batu bara termal Asia diperkirakan kembali meningkat pada Juli 2026. Ini menandai kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, didorong permintaan dari importir utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik pada musim panas.
Menurut analis DBX Commodities, impor batu bara termal kawasan diperkirakan mencapai 73,16 juta ton pada Juli, naik dari 70,31 juta ton pada Juni 2026 dan 71,04 juta ton pada Juli 2025.
Batu bara termal sebagian besar digunakan untuk pembangkit listrik. Permintaan di Asia meningkat karena batu bara kini lebih kompetitif dibandingkan gas alam cair (LNG).
Perang dengan Iran telah mengganggu pasokan LNG dari Qatar, salah satu pemasok utama dunia, sehingga mendorong kenaikan harga gas global.
China, importir batu bara terbesar di dunia, memimpin lonjakan permintaan tersebut. Impor batu bara termal negara itu diperkirakan mencapai 28,14 juta ton pada Juli 2026.
Ini merupakan level tertinggi sepanjang tahun. Angka ini meningkat dari 25,67 juta ton pada Juni dan 24,1 juta ton pada Juli 2025.
Kenaikan impor China bukan dipicu persaingan antara gas dan batu bara, melainkan karena produksi domestik yang terbatas serta meningkatnya kebutuhan listrik.
Pada Juni 2026, produksi batu bara China turun 9,7% secara tahunan menjadi 380,88 juta ton setelah pemeriksaan keselamatan pasca kecelakaan tambang di Provinsi Shanxi pada 22 Mei, yang menjadi tragedi pertambangan terburuk dalam 17 tahun terakhir.
Data resmi menunjukkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di China mencatat kenaikan produksi listrik sebesar 0,5% pada Juni dan 2,9% sepanjang semester I-2026.
Meski produksi domestik diperkirakan mulai pulih, impor diprediksi tetap tinggi seiring proyeksi pertumbuhan permintaan listrik sekitar 5% sepanjang 2026.
Jepang dan Korea Selatan Tingkatkan Pembelian
Jepang, importir batu bara terbesar ketiga di dunia, diperkirakan mengimpor sekitar 10,46 juta ton pada Juli, naik dari 7,51 juta ton pada Juni. Angka tersebut menjadi volume bulanan tertinggi sejak awal tahun.
Sementara itu, Korea Selatan, importir terbesar keempat, diperkirakan mengimpor 8,54 juta ton pada Juli, meningkat dari 6,08 juta ton pada Juni dan menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Meningkatnya permintaan turut menopang harga. Indeks mingguan batu bara termal Australia dengan nilai kalor 6.000 kcal/kg di Pelabuhan Newcastle naik ke level tertinggi dalam empat pekan, yakni sekitar US$132,76 per ton pada pekan yang berakhir 24 Juli.
Batu Bara RI Masih Jadi Pilihan
Jenis batu bara ini banyak dibeli Jepang dan Korea Selatan, sedangkan China lebih memilih batu bara yang lebih murah dari Indonesia, Rusia, dan Australia.
Di sisi lain, kontrak batu bara Indonesia dengan nilai kalor 4.200 kcal/kg di Singapore Exchange ditutup pada US$61,97 per ton pada Senin. Meski demikian, harganya masih lebih tinggi dibanding awal tahun berkat permintaan regional yang tetap kuat.
India, importir batu bara terbesar kedua di dunia, diperkirakan mengimpor 10,88 juta ton batu bara termal pada Juli, turun dari 12,3 juta ton pada Juni. Ini menjadi level terendah sejak Agustus tahun lalu.
India diperkirakan akan meningkatkan impor jika harga batu bara turun, terutama karena kebutuhan listrik meningkat di tengah musim hujan (monsun) yang lebih lemah dari biasanya.
Sejak pertengahan Juli, cadangan batu bara di PLTU India menyusut hingga hanya cukup untuk sekitar 14 hari operasi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap pasar domestik.
Penurunan harga batu bara Indonesia dapat mendorong permintaan dalam jangka pendek, namun kenaikan impor yang signifikan diperkirakan baru terjadi jika harga terus melemah dalam periode yang lebih panjang.
Secara keseluruhan, tren di Asia menunjukkan permintaan batu bara termal mulai pulih setelah sempat melemah.
China, Jepang, dan Korea Selatan meningkatkan pembelian, sementara India mencatat penurunan impor pada Juli akibat faktor domestik dan tingginya harga. Meski demikian, laju impor kawasan masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga batu bara serta kondisi musim hujan.
PLTU Jerman Masih Aman
Operator pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Jerman memastikan pasokan batu bara masih aman meski debit air Sungai Rhein terus menyusut hingga mendekati rekor terendah akibat gelombang panas dan kekeringan.
Operator menyatakan telah menyiapkan stok batu bara yang memadai serta jalur pasokan alternatif melalui kereta api dan truk untuk mengantisipasi gangguan distribusi.
Langkah ini membuat risiko gangguan operasi pembangkit dinilai masih terbatas.
Surutnya Sungai Rhein, jalur utama pengangkutan batu bara dari pelabuhan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) ke Jerman, membuat tongkang tidak dapat berlayar dengan muatan penuh. Kondisi tersebut meningkatkan biaya logistik dan menyebabkan keterlambatan sebagian pengiriman batu bara di pasar spot.
Meski demikian, situasi saat ini dinilai lebih terkendali dibanding beberapa tahun lalu karena operator telah memperbesar cadangan batu bara dan memperkuat opsi distribusi. Dengan demikian, pasokan listrik di Jerman diperkirakan tetap terjaga meski distribusi batu bara melalui Sungai Rhein terganggu. (mae/mae)
