Harga Batu Bara Jatuh Hampir 9%, Ada Andil RI?

Harga batu bara masih dalam tren negatif dengan melemah selama empat hari beruntun.

Harga batu bara pada perdagangan Rabu (17/6/2026) ditutup di posisi US$ 135,35 per ton atau melemah 0,11%. Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang ambruk 8,9% dalam empat hari beruntun.

Selain karena pelemahan harga minyak, harga batu bara jatuh karena banyak kabar negatif.

Dari China dilaporkan harga batu bara China tertahan di level tinggi karena pasokan domestik masih ketat akibat inspeksi keselamatan tambang.

Namun, pembangkit listrik belum agresif membeli karena stok impor murah masih melimpah. Pasar kini menunggu datangnya puncak konsumsi listrik musim panas untuk menentukan arah harga berikutnya.

Di pasar kokas, harga masih menguat didorong oleh pasokan batu bara kokas (coking coal) yang masih ketat akibat inspeksi keselamatan tambang di Shanxi dan sejumlah wilayah produsen utama.

Namun, reli harga mulai menghadapi hambatan karena pabrik baja (steelmakers) semakin menolak kenaikan harga kokas.

Margin keuntungan pabrik baja menyusut seiring harga baja yang tidak naik secepat biaya bahan baku, sehingga ruang untuk menerima kenaikan harga kokas semakin terbatas.

Sejumlah pelaku pasar menilai kenaikan harga kokas berikutnya akan jauh lebih sulit dibanding putaran sebelumnya.

Dari pasar batu bara thermal, harga masih tertahan meski permintaan masih lemah. Pasar batu bara termal di pelabuhan-pelabuhan utama China cenderung stabil pada pertengahan pekan.

Harga penawaran tetap tinggi karena harga batu bara di mulut tambang (mine-mouth) masih bertahan tinggi akibat inspeksi keselamatan yang ketat dan pasokan yang terbatas.

Para trader enggan menurunkan harga karena biaya pengadaan batu bara dari tambang masih mahal.

Di sisi lain, pembeli, terutama pembangkit listrik, masih berhati-hati dalam melakukan pembelian karena musim puncak konsumsi listrik musim panas belum sepenuhnya dimulai.

Curah hujan di sejumlah wilayah China mengurangi kebutuhan pembangkit listrik berbasis batu bara.

Ketersediaan batu bara impor yang melimpah dengan harga lebih murah juga menekan minat membeli batu bara domestik.

Sementara itu, pemerintah Indonesia memberi sinyal pelonggaran produksi batu bara nasional pada 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kuota produksi tahun depan akan ditetapkan di atas 600 juta ton, sejalan dengan tingginya kebutuhan domestik dan tren kenaikan harga batu bara di pasar global.

Langkah ini dilakukan untuk menjamin kecukupan pasokan energi nasional, khususnya bagi sektor kelistrikan. Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik Perusahaan Listrik negara (PLN) pada 2026 diperkirakan mencapai 154 juta ton.

Namun hingga saat ini, pasokan yang telah terikat kontrak baru mencapai sekitar 134 juta ton. Artinya, masih terdapat kekurangan pasokan sekitar 20 juta ton yang tengah diupayakan pemerintah untuk dipenuhi melalui penyesuaian kebijakan produksi dan distribusi batu bara.

Kebijakan kuota di atas 600 juta ton tersebut menjadi indikasi bahwa pemerintah membuka ruang tambahan produksi guna menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengantisipasi meningkatnya permintaan pasar. (mae/mae)

Sumber:

– 18/06/2026

Temukan Informasi Terkini

HBA Naik ke 123,91 Dollar AS per Ton, Kuota Produksi Batu Bara Bisa Direlaksasi

baca selengkapnya

Bersiap PT Timah (TINS) Tebar Dividen Rp656,81 Miliar, Cek Jadwalnya di Sini

baca selengkapnya

Antam (ANTM) Diproyeksi Catat Kinerja Terkuat Kuartal III-2026, Didukung Emas & Nikel

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top