RESEARCH and Development ICDX Girta Yoga memprediksi, harga batu bara masih tertekan pada pekan ini. Hal itu karena bejibun sentimen negatif, mulai dari kondisi permintaan di negara China dan India hingga situasi di pasar gas alam.
Yoga mengatakan, harga batu bara tertekan kebijakan pemerintah India yang menargetkan produksi batu bara sebesar 1,080 juta ton hingga 2025. Sedangkan konsumsi batu bara di China yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2025.
Tidak hanya itu, lanjut Yoga, kondisi pasokan terutama di Indonesia dan Australia, perkembangan kebijakan energi bersih, dan situasi di pasar gas alam yang juga melemah akan menekan harga batu bara pada pekan ini.
“Harga batu bara pekan ini akan bergerak menemui level resistance di kisaran harga US$ 135,5-137,5 per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga US$ 130,5-128 per ton,” ungkap Yoga, belum lama ini.
Sedangkan sepanjang Desember ini, Yoga memprediksi harga batu bara hingga akhir Desember diperkirakan akan menemui level resistance di kisaran harga US$ 135-138 per ton. Apabila mendapat katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju level support di kisaran harga US$ 129,5-127 per ton.
Menurut Yoga, selama pekan pertama Desember, harga batu bara telah mengalami penurunan sebesar 2,5%. “Namun, jika dilihat secara year to date (ytd), harga batu bara tercatat bergerak bullish dengan penguatan sebesar 0,53%,” tutup Yoga. Editor: Indah Handayani
Sumber: investor.id, 9 Desember 2024
