Harga batu bara mayoritas menguat pada Rabu (21/1/2026), ditopang kenaikan harga di China dan Australia, meski pasar Eropa masih tertekan lonjakan stok dan biaya emisi.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2026 turun US$ 0,6% ke level US$ 109,35 per ton. Sedangkan Februari 2026 melesat US$ 0,8 menjadi US$ 113 per ton. Sementara itu, Maret 2026 terkerek US$ 0,4 menjadi US$ 112,7 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2026 meningkat US$ 0,9 menjadi US$ 98,75. Sedangkan, Februari 2026 terkerek US$ 2,35 menjadi US$ 99,35. Sedangkan pada Maret 2026 naik US$ 1,9 menjadi US$ 97,4.
Dikutip dari CoalHub, CCA Analysis dalam risetnya menjelaskan, dinamika pasar batu bara global menunjukkan pergerakan yang relatif positif. Harga batu bara di Eropa melemah, sementara di China dan Australia justru mengalami kenaikan, baik untuk batu bara termal maupun metalurgi.
Dalam sepekan terakhir, lanjut CCA Analysis, indeks batu bara termal Eropa di pasar spot terkoreksi ke bawah level US$ 98 per ton. Tekanan harga dipicu lonjakan signifikan stok batu bara di terminal ARA (Amsterdam–Rotterdam–Antwerp) serta kenaikan harga izin emisi CO₂. Di sisi lain, harga gas dan listrik di Eropa justru menguat akibat gangguan pembangkit nuklir di Prancis.
Harga gas di hub TTF melonjak ke US$ 387,23 per 1.000 meter kubik, naik US$ 45,33 secara mingguan. “Kenaikan ini dipicu prakiraan gelombang dingin ekstrem, penurunan cadangan gas, serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik terhadap pasokan LNG,” tulis CCA Analysis.
CCA Analysis menambahkan, persediaan gas bawah tanah (UGS) Eropa turun delapan poin persentase menjadi 53%. Sementara itu, stok batu bara di terminal ARA naik menjadi 3,65 juta ton, meningkat 11% dibanding pekan sebelumnya.
Di Afrika Selatan, harga batu bara High-CV 6.000 naik ke US$ 90 per ton. Penguatan ini ditopang meningkatnya aktivitas pasar spot serta permintaan dari India. Lonjakan harga sponge iron di India turut mendorong ekspektasi peningkatan permintaan batu bara asal Afrika Selatan.
Sepanjang 2025, ekspor batu bara melalui Richards Bay Coal Terminal (RBCT) tumbuh 10% secara tahunan menjadi 57,07 juta ton. India menjadi pasar ekspor terbesar dengan volume lebih dari 28 juta ton, naik sekitar 3 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Ekspor ke Eropa tercatat mendekati 5,55 juta ton.
Peningkatan kinerja RBCT ditopang membaiknya kapasitas jaringan kereta api Transnet, yang sebelumnya sempat terpuruk ke level terendah 30 tahun pada 2023 di kisaran 48 juta ton.
Di China, harga spot batu bara 5.500 NAR di pelabuhan Qinhuangdao naik menembus US$ 101,85 per ton. Pelaku pasar tetap moderat optimistis, dengan ekspektasi konsumen akhir kembali mengisi stok seiring potensi gelombang dingin baru dan mendekatnya libur Tahun Baru Imlek.
Suhu di China
Meski demikian, CCA Analysis mengatakan, suhu yang diperkirakan 4–6 derajat Celsius di atas normal musiman di wilayah tengah, timur, dan selatan China dalam beberapa hari ke depan berpotensi menekan konsumsi. Namun, gelombang dingin pada 17–20 Januari diperkirakan menurunkan suhu hingga 4–8 derajat Celsius secara nasional.
Stok batu bara di sembilan pelabuhan utama China naik menjadi 27,63 juta ton, sementara persediaan di enam pembangkit listrik pesisir utama turun menjadi 13,32 juta ton.
Untuk Indonesia, indeks batu bara 5.900 GAR naik melampaui US$ 81 per ton, sedangkan harga 4.200 GAR meningkat ke US$ 46,5 per ton. Kenaikan harga dipicu penguatan pasar China serta gangguan logistik akibat musim hujan, yang menyulitkan produksi di Kalimantan.
Selain itu, perusahaan tambang di Sumatra Selatan masih menghadapi pembatasan pengangkutan batu bara melalui Sungai Lalan dan jalur darat. Kebijakan larangan angkutan batu bara yang berlaku sejak 1 Januari 2026 berpotensi mengganggu produksi lebih dari 6 juta ton per bulan dan berdampak pada puluhan perusahaan, yang menyumbang sekitar 65% output regional.
Pemerintah daerah telah membentuk tim kerja untuk menilai kesiapan infrastruktur khusus batu bara serta kemungkinan pemberian pengecualian bagi produsen tertentu. Industri berharap relaksasi dapat berlaku mulai 1 Februari guna meredam gangguan logistik.
Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar akibat perbedaan sinyal dari pemerintah Indonesia terkait target produksi batu bara tahun ini serta rencana pengenaan bea ekspor, yang menyulitkan produsen dalam menetapkan harga kontrak.
Di Australia, harga batu bara High-CV 6.000 naik ke atas US$ 109 per ton, ditopang permintaan Asia dan terbatasnya pasokan akibat penghentian pengapalan di pelabuhan Queensland karena cuaca buruk imbas Siklon Koji. Gangguan ini diperkirakan berlangsung hingga 16 Januari. Meski demikian, prospek harga jangka menengah cenderung melemah, tercermin dari kurva forward yang relatif datar.
Sementara itu, indeks batu bara metalurgi hard coking coal (HCC) Australia melonjak di atas US$ 230 per ton. Permintaan yang melampaui pasokan terjadi setelah banjir akibat hujan lebat menghambat produksi. Sejumlah pemasok, termasuk Fitzroy dan Curragh Mammoth, telah menyatakan force majeure, dan produsen lain diperkirakan akan mengikuti. Editor: Indah Handayani
