Harga batu bara melandai setelah terbang dua hari.
Merujuk Refinitv, harga batu bara pada perdagangan Senin (26/10/2026) ditutup di posisi US$ 153,6 per ton. Harganya melandai 0,9%.
Pelemahan ini memutus tren positifnya yang naik dua hari beruntun.
Pelemahan batu bara dipicu melemahnya harga minyak serta kabar dari China. Namun, persoalan pasokan di India Menahan pelemahan lebih jauh.
Sentimen pasar batu bara di China utara semakin pesimistis seiring potensi peningkatan pasokan.
Pemeliharaan musim gugur jalur kereta Daqin diperkirakan segera berakhir, sehingga pengiriman batu bara kembali normal. Pemulihan distribusi dalam kerangka kebijakan jaminan pasokan pemerintah juga menambah tekanan terhadap pasar.
Di sisi lain, harga batu bara termal di mulut tambang di sejumlah wilayah produsen utama China kembali turun.
Pelemahan ini dipicu oleh langkah perusahaan tambang besar yang memangkas harga jual, sementara pembeli menahan transaksi dan belum agresif mengisi kembali persediaan.
Kombinasi meningkatnya potensi pasokan dan lemahnya permintaan membuat pasar batu bara domestik China masih berada dalam tren melemah.
Ekspansi energi terbarukan China telah mendorong porsi pembangkit listrik berbasis batu bara turun di bawah 50% dari total produksi listrik negara tersebut untuk pertama kalinya. Pada saat yang sama, Beijing berupaya memperluas uji coba adaptasi perubahan iklim di 39 kota menjelang konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan depan.
Pembangkit listrik berbasis batu bara menyumbang 49,7% dari total produksi listrik China pada semester I-2026, menurut laporan tahunan Kementerian Ekologi dan Lingkungan China mengenai kebijakan iklim negara tersebut.
Hingga akhir Juli, kapasitas terpasang tenaga surya telah melampaui kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara. Dengan demikian, tenaga surya menjadi sumber energi dengan kapasitas pembangkit terpasang terbesar di China.
Listrik India Masih Kritis
Hampir separuh pembangkit India masih kekurangan stok batu bara. Sebanyak 85 dari 176 pembangkit listrik berbasis batu bara domestik di India masuk kategori stok kritis pada 25 Oktober 2026.
Persediaan batu bara juga dilaporkan terus menyusut. Stok di pembangkit berbasis batu bara domestik turun menjadi 17,67 juta ton pada Minggu pekan lalu, dari 18 juta ton pada 16 Oktober.
India juga melaporkan pembangkit berbasis batu bara impor juga terdampak. Sebanyak 7 dari 15 pembangkit berbasis batu bara impor mengalami stok kritis. Persediaannya turun menjadi 2,26 juta ton dari 2,42 juta ton.
Stok batu bara saat ini hanya cukup untuk sekitar enam hari kebutuhan per 10 Oktober, lebih rendah daripada standar persediaan sekitar 19-20 hari.
India tengah menggenjot pasokan untuk mengurangi kekurangan stok. Di tengah upaya menggenjot produksi, kecelakaan terjadi di tambang batu bara.
Operasi penyelamatan berlangsung di tambang batu bara bawah tanah Kumardihi A, Benggala Barat, India, setelah sejumlah pekerja terjebak di kedalaman sekitar 50 meter akibat gangguan teknis pada sistem pengangkat pada Senin kemarin.
Ketua sekaligus Direktur Utama Eastern Coalfields Ltd (ECL), Satish Jha, mengatakan tali pengangkat terlepas dari drum katrol sehingga menghentikan lift tambang. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dan para pekerja telah mendapat pasokan makanan serta air.
Komunikasi dengan pekerja terus dijaga dan ventilasi tambang dilaporkan berfungsi memadai. Tim ECL masih memperbaiki sistem pengangkat untuk mengevakuasi para pekerja dengan selamat, dengan dukungan kepolisian dan pejabat setempat. (mae/mae)
