Harga batu bara mayoritas menguat pada Kamis (5/2/2026), seiring pasar Asia bersiap menghadapi ketidakpastian pasokan dari Indonesia akibat kuota produksi yang lebih rendah. Sentimen ini mendorong aksi beli defensif, terutama untuk batu bara kalori rendah dan menengah.
Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,1% ke level US$ 116 per ton. Sedangkan Maret 2026 naik US$ 0,1 menjadi US$ 117,6 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 0,25 menjadi US$ 117,15 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melonjak US$ 1,2 menjadi US$ 100,2. Sedangkan, Marek 2026 melesat US$ 1,1 menjadi US$ 100,3. Sedangkan pada April 2026 melejit US$ 0,9 menjadi US$ 99,9.
Dikutip dari Bloomberg, importir batu bara China bersiap mencari pasokan alternatif jika kuota produksi Indonesia yang lebih rendah membatasi ekspor. Peralihan ini berpotensi melemahkan upaya pemerintah Jakarta untuk mendorong harga dan berisiko menjauhkan pembeli utama mereka.
Beberapa perusahaan tambang Indonesia dikabarkan menangguhkan penjualan spot ke pasar internasional setelah pemerintah memangkas kuota produksi tahun ini jauh di bawah level tahun lalu, menurut tiga pedagang yang berbasis di Indonesia. Langkah ini memicu spekulasi bahwa ekspor bisa mengetat dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, BigMint melaporkan, Pasar batu bara termal Asia menguat di segmen kalori rendah (low-CV) dan menengah (mid-CV), meski harga batu bara berkalori tinggi (high-CV) tetap bergerak terbatas. Harga fisik spot di Indonesia dan Australia sedikit naik, sementara kontrak finansial pulih di tengah pekan setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Ekspor batu bara termal Indonesia turun tajam sepanjang 2025, menurun 7,8% secara tahunan menjadi 364,6 juta ton. Ekspor ke China tercatat 77,7 juta ton (-9%), sedangkan ekspor ke India turun menjadi 99,7 juta ton (-7%). Meskipun ekspor Desember lebih tinggi dari perkiraan, proyeksi ekspor kuartal I 2026 melemah menjadi 108 juta ton, turun 15 juta ton dibanding periode sama tahun lalu.
Harga batu bara Indonesian low-CV 4.200 GAR naik ke US$ 48 per ton, sementara Newcastle 5.500 kcal/kg meningkat ke US$ 76 per ton. Sebaliknya, harga Newcastle 6.000 kcal/kg stagnan di US$ 113 per ton, terdorong oleh lemahnya permintaan di kawasan Atlantik.
Risiko Pasokan
Sentimen pasar mulai bergeser dari volatilitas jangka pendek ke risiko pasokan struktural di Indonesia. Meski pemerintah masih membahas potensi batas produksi 2026 sekitar 600 juta ton, ketidakpastian proses persetujuan RKAB telah memengaruhi perilaku pembeli.
Para produsen menolak pemangkasan output yang tajam, mengingat risiko penghentian operasi, pelanggaran kontrak, dan kerusakan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, importir semakin enggan menunda pembelian hingga paruh kedua 2026 karena ketersediaan ekspor Indonesia menurun dan pasokan low-CV alternatif terbatas. Kondisi ini mendorong aksi beli defensif lebih awal, terutama dari utilitas Asia yang mengandalkan batu bara Indonesia.
Harga batu bara high-CV masih didukung oleh permintaan di kawasan Pasifik, tetapi terbatas oleh kelebihan pasokan di Atlantik dan fundamental lemah di Eropa. Sebaliknya, harga low- dan mid-CV tetap menguat, terutama jika aliran ekspor Indonesia lebih rendah dari perkiraan di awal 2026.
Konfirmasi formal terkait batas produksi – meski bertahap atau direvisi di tengah tahun – berpotensi mempercepat aksi pre-buying dan menekan ketersediaan fisik.
Pasar batu bara Asia menunjukkan penguatan bertahap, bukan dramatis, dengan ketidakpastian pasokan Indonesia mulai membentuk strategi pengadaan, khususnya untuk batu bara low- dan mid-CV. Editor: Indah Handayani
