HARGA batu bara menguat lagi pada Selasa (14/1/2025). Hal itu dipicu konflik Rusia-Ukraina yang memanas.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2025 melesat US$ 0,9 menjadi US$ 115,4 per ton. Sedangkan Februari 2025 terkerek US$ 0,8 menjadi US$ 116,3 per ton. Sementara itu, Maret 2025 melejit US$ 1,4 menjadi US$ 118,9 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2025 turun US$ 2,4 menjadi US$ 105,35. Sedangkan, Februari 2025 jatuh US$ 1,4 menjadi US$ 103,75. Sedangkan pada Maret 2025 melemah US$ 1,55 menjadi US$ 102,9.
Militer Ukraina mengklaim telah melancarkan serangan udara terbesar ke wilayah Rusia sejak awal perang hampir tiga tahun lalu. Serangan ini terjadi di tengah persiapan Donald Trump untuk kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Kementerian Pertahanan Rusia pada Selasa (14/1) mengancam akan melakukan serangan balasan atas serangan besar-besaran yang melibatkan rudal dan drone semalam. Rusia juga menuduh Ukraina menggunakan rudal yang dipasok oleh AS dan Inggris dalam serangan tersebut.
Hal itu memaksa produsen baja Ukraina, Metinvest, menghentikan operasi di satu-satunya tambang batu bara kokas negara itu yang terletak di wilayah timur. Penghentian ini dilakukan karena situasi keamanan yang semakin memburuk, demikian diumumkan Metinvest pada Selasa (14/1/2025).
Penutupan Tambang
Menurut laporan Reuters pada Senin (13/1/2025), tambang batu bara kokas di Pokrovsk, yang menjadi penopang utama industri baja Ukraina, terpaksa menghentikan produksinya akibat mendekatnya pasukan Rusia ke wilayah tersebut.
Tidak hanya itu, kenaikan harga juga ditopang oleh impor batu bara China meningkat 14,4% pada 2024 ke level tertinggi sepanjang sejarah, menurut data resmi yang dirilis pada Senin (13/1/2025). Kenaikan ini didorong oleh penurunan harga batu bara internasional yang mendorong pembeli untuk menggantikan pasokan domestik dengan impor.
Total impor batu bara sepanjang tahun mencapai 542,7 juta ton metrik, berdasarkan data dari Administrasi Umum Kepabeanan China, naik dari 474,42 juta ton pada 2023. Editor: Indah Handayani
Sumber: investor.id, 15 Januari 2025
