Harga Batu Bara Naik Tipis, Sentimen India vs China Bertabrakan

Harga batu bara menguat di tengah adu sentimen negatif dari China dan positif dari India.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (24/9/2026) ditutup di US$ 143,5 per ton. Harganya menguat 0,56%.

Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 0,9% pada Rabu.

Sentimen negatif datang dari China di mana aktivitas perdagangan batu bara termal di pelabuhan China Utara melambat menjelang libur. Pelaku pasar memilih menahan transaksi dan menunggu arah permintaan setelah libur.

Pasar impor kini mengandalkan potensi restocking pascalibur untuk menopang permintaan. Namun, tingginya stok domestik dan permintaan yang masih terbatas menjadi faktor yang dapat menahan penguatan harga.

Perdagangan thermal coal di pelabuhan China Utara melambat karena aktivitas pasar sepi selama periode libur.

Harga dan daya saing batu bara impor, termasuk dari Indonesia, kemungkinan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan.

Jika pembangkit kembali melakukan pembelian besar setelah libur, pasar impor berpotensi mendapat dukungan.

Sebaliknya, jika stok domestik masih tinggi dan konsumsi listrik belum meningkat signifikan, pemulihan harga bisa tertahan.

Sejumlah tambang di pusat produksi utama China juga mulai menurunkan harga, meski pergerakannya tidak seragam.

Permintaan dari pembangkit listrik dan pengguna akhir belum cukup kuat untuk menopang kenaikan harga lebih lanjut.

Menjelang libur, sebagian pembeli melakukan restocking, tetapi pembelian masih selektif karena konsumen menolak harga yang terlalu tinggi.

Di sisi pasokan, kebijakan pengawasan produksi dan pembatasan tambang yang melebihi kuota masih menjadi faktor pendukung harga.

India Masih Andalkan Batu Bara hingga 2035, Penuhi Separuh Listrik

Dari India dilaporkan India memperkirakan batu bara masih menyumbang sekitar 50% pembangkit listrik hingga 2035-2036, meski negara tersebut terus mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Kementerian Kelistrikan India menyebut lonjakan permintaan listrik membuat pembangkit termal tetap dibutuhkan untuk menjaga ketahanan, keterjangkauan, dan keandalan pasokan listrik.

Kapasitas PLTU batu bara India saat ini sekitar 224 GW dan ditargetkan meningkat menjadi 315 GW pada 2035-2036.

Sekitar 50 GW kapasitas PLTU sedang dibangun, sementara 15 GW lainnya telah mendapatkan persetujuan tetapi belum masuk tahap konstruksi. India juga masih perlu memberikan kontrak untuk tambahan 10-11 GW kapasitas.

Selain pembangkit listrik, India juga mulai mengembangkan gasifikasi batu bara untuk menghasilkan hidrokarbon dan mengurangi ketergantungan pada impor. (mae/mae)

Sumber:

– 25/09/2026

Temukan Informasi Terkini

Holding IDSurvey Tangkap Peluang Independent Assurance di Sektor Mineral dan Batu Bara

baca selengkapnya

Hartadinata (HRTA) Amankan Pasokan Emas Murni dari Freeport

baca selengkapnya

Perkuat Sektor Mineral, Danantara Dorong Kerjasama MIND ID-CITIC Group

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top