Harga Batu Bara Rekor Tertinggi 3 Tahun, RI Jadi Penyelamat Dunia?

Harga batu bara terbang ke level tertinggi dalam tiga tahun. Persoalan pasokan membuat dunia cemas.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (19/10/2026) ditutup di posisi US$ 156,05 per ton. Harganya menguat 0,93%.

Kenaikan ini memperpanjang reli batu bara dengan terbang 2,8% dalam tiga hari beruntun.

Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 2 Oktober 2026 atau tiga tahun.

Produksi batu bara China merosot pada September 2026 di tengah pengetatan inspeksi keselamatan tambang. Di saat bersamaan, gangguan pasokan dari Indonesia turut membayangi pasar batu bara Asia dan menopang harga komoditas tersebut.

Mengutip data Biro Statistik Nasional China (NBS), produksi batu bara Negeri Tirai Bambu mencapai 385,13 juta ton pada September 2026, turun 6,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Meski demikian, angka tersebut naik dibandingkan produksi Agustus sebesar 361,82 juta ton.

Sepanjang Januari-September 2026, produksi batu bara China tercatat 3,45 miliar ton, terkoreksi 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan produksi terjadi setelah pemerintah memperketat inspeksi keselamatan menyusul kecelakaan tambang fatal di Hunan pada Agustus dan Shanxi pada Mei.

Menjelang musim dingin, otoritas China mulai mendorong tambang untuk kembali beroperasi dan memulihkan produksi ke tingkat normal.

Pasokan Indonesia Terganggu, Harga Batu Bara Asia Terangkat

Di tengah penurunan produksi China, pasokan batu bara Indonesia juga menghadapi sejumlah kendala, mulai dari ketidakpastian kuota produksi hingga gangguan logistik akibat kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Nino.

Fitch Ratings menilai harga batu bara termal Asia berpotensi bertahan tinggi dalam waktu dekat karena ketidakpastian pasokan Indonesia dan penurunan produksi China membatasi ketersediaan batu bara di pasar.

Data Reuters menunjukkan ekspor batu bara Indonesia tercatat turun 23,3% secara tahunan pada Agustus dan 18,1% pada September. Kondisi tersebut diperparah oleh terbatasnya transportasi sungai di sepanjang Sungai Barito akibat kekeringan.

Sejumlah produsen batu bara Indonesia bahkan menyatakan force majeure atas pengiriman karena kesulitan memperoleh kuota tambang dan menghadapi hambatan logistik.

Di sisi permintaan, konsumsi batu bara Asia masih ditopang negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pertumbuhan kebutuhan energi, rendahnya produksi listrik tenaga air, serta keterbatasan transmisi energi terbarukan mendorong kebutuhan impor batu bara, terutama di India dan Vietnam.

Harga Batu Bara Tinggi, tetapi Prospek Jangka Panjang Tertekan

Kenaikan harga batu bara berpotensi memperkuat pendapatan dan arus kas perusahaan tambang, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka membayar utang.

Fitch mencatat harga batu bara termal Qinhuangdao China dengan kalori 5.500 kcal/kg melampaui CNY 1.00 per ton pada awal Oktober, meskipun permintaan musiman masih lemah.

Namun, kenaikan harga belum tentu menghapus tekanan jangka panjang terhadap industri batu bara Indonesia.

Ketidakpastian kuota produksi 2027, kebijakan ekspor, kewajiban pasokan domestik (domestic market obligation/DMO), serta regulasi pertambangan masih membayangi operasional perusahaan.

Selain itu, pemulihan produksi China berpotensi menekan harga ketika pasokan kembali normal. Permintaan impor China dan India yang melemah serta transisi energi juga menjadi tantangan bagi prospek ekspor batu bara dalam jangka panjang.

Dengan demikian, meskipun gangguan pasokan berpotensi menopang harga dalam waktu dekat, arah pasar batu bara Asia tetap bergantung pada pemulihan produksi China, kelancaran ekspor Indonesia, dan perkembangan permintaan energi kawasan.

RI Relaksasi Produksi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan akan melakukan relaksasi produksi batu bara. Artinya produksi batu bara akan dilakukan dengan melebihi dari target yang ditetapkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang sekitar 600 juta ton.

Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara thermal di dunia sehingga kebijakannya akan sangat menentukan harga batu bara global.

Jika produksi RI bertambah ada potensi meninngkatnya pasokan dunia sehingga harga mungkin bisa diredam.

Bahlil menjelaskan relaksasi produksi batu bara ini diputuskan karena peningkatan harga harga batu bara yang naik mencapai US$154 dolar per ton, khususnya untuk tipe kalori 6.330 kcal/kg GAR.

“Dan sekarang ini mencapai US$154 per ton untuk kalori 633, dan harapan kita memang harganya bagus, produksinya kita naikkan, dan sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand,” kata Bahlil, usai rapat terbatas di Istana Negara, Senin (19/10/2026).

Bahlil menjelaskan pemerintah menginginkan adanya peningkatan devisa negara dari kondisi ini. (mae/mae)

Sumber:

– 20/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Bahlil Sebut RKAB Jadi Senjata RI Kendalikan Harga Batu Bara Dunia

baca selengkapnya

Alamtri (ADRO) Mulai Buyback Saham Hari Ini (20/10), Siapkan Dana Jumbo

baca selengkapnya

Harga Emas Antam Berpeluang Naik ke Rp 2,8 Juta per Gram, Cermati Rekomendasi Analis

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top