Harga Batu Bara Tertekan, Permintaan Lemah dan Stok India Jadi Beban

Harga batu bara tertekan pada Rabu (15/4/2026). Pelemahan ini dipicu lemahnya permintaan global dan dinamika stok di India yang masih tinggi meski mulai terkoreksi.

Harga batu bara Newcastle untuk April 2026 anjlok US$ 1,2 ke level US$ 133,75 per ton. Sedangkan Mei 2026 terpangkas US$ 3,3 menjadi US$ 124,95 per ton. Sementara itu, Juni 2026 jatuh US$ 3,2 menjadi US$ 125,45 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk April 2026 turun US$ 0,85 menjadi US$ 103,15 per ton. Sedangkan, Mei 2026 jatuh US$ 1,35 menjadi US$ 103,2 per ton. Sedangkan pada Juni 2026 terkoreksi US$ 1,4 menjadi US$ 106 per ton.

Dikutip dari BigMint, Persediaan batu bara termal di pelabuhan India menurun secara mingguan (week-on-week) pada pekan ke-15, turun 1,5% menjadi 13,33 juta ton dari 13,53 juta ton pada pekan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan koreksi ringan setelah kenaikan stok dalam beberapa pekan sebelumnya.

Penurunan stok terutama disebabkan oleh melambatnya kedatangan kargo serta berlanjutnya distribusi (evakuasi) di sejumlah pelabuhan.

Secara regional, tren pergerakan stok bervariasi. Beberapa pelabuhan mencatat kenaikan persediaan berkat arus masuk yang stabil, sementara sejumlah lokasi utama mengalami penurunan stok akibat konsumsi yang terus berjalan dan terbatasnya pasokan baru. Pelaku pasar menilai pergerakan stok masih dinamis, mencerminkan keseimbangan antara pasokan masuk dan distribusi keluar.

Kepemilikan stok di kalangan trader utama dan konsumen industri hanya mengalami perubahan tipis, dengan pelaku besar tetap menjaga tingkat persediaan yang memadai. Pembeli cenderung berhati-hati, dengan fokus pada pengelolaan stok secara efisien ketimbang menambah posisi baru secara agresif.

Preferensi untuk menjaga stok pada level optimal mencerminkan ketidakpastian harga batu bara impor serta lemahnya permintaan dari sektor hilir, khususnya industri besi spons dan sektor manufaktur.

Kondisi Pasar Batu Bara Impor

Sentimen pasar batu bara impor masih lemah sepanjang pekan. Harga batu bara asal Afrika Selatan terus melemah seiring permintaan yang lesu dan meningkatnya persaingan dari batu bara domestik.

Sementara itu, harga batu bara Indonesia relatif stabil karena keterbatasan pasokan, meskipun minat beli tetap terbatas. Harga batu bara asal Amerika Serikat juga berada di bawah tekanan akibat penumpukan stok dan lemahnya permintaan industri.

Secara keseluruhan, pembeli di India masih cenderung memilih batu bara domestik karena lebih kompetitif dari sisi harga serta adanya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi rantai pasok batu bara impor.

Penurunan persediaan di pelabuhan mengindikasikan fase koreksi bertahap setelah periode akumulasi stok sebelumnya. Sejumlah pembeli, seperti sektor semen, mulai mengalihkan pembelian ke pasar domestik akibat tekanan biaya.

Namun demikian, sentimen pasar secara umum masih cenderung lemah, dengan permintaan yang belum pulih dan perilaku pembelian yang tetap hati-hati. Tanpa adanya peningkatan permintaan, pasar batu bara impor diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan dalam jangka pendek. Editor: Indah Handayani

Sumber:

– 16/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Kala Purbaya Yakinkan Investor Global dan IMF: Pertumbuhan Bisa Digenjot Tanpa Korbankan Fiskal

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode II April 2026 Naik, Tertinggi US$103,43 per Ton

baca selengkapnya

IMA : Wacana Penghentian Restitusi Pajak Agar Ditinjau Kembali

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top