HARGA batu bara naik pada perdagangan akhir pekan lalu. Namun secara mingguan, harga masih turun.
Pada Jumat (15/11/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 141,75/ton. Naik 0,18% dibandingkan hari sebelumnya.
Namun sepanjang pekan lalu, harga si batu hitam masih turun 1,12%. Sepanjang 2024 (year-to-date), harga terpangkas lebih dari 3%.
Meski makin terjepit, tetapi batu bara sepertinya masih akan mendapat tempat. Apalagi di tengah pertumbuhan permintaan listrik akibat booming industri pusat data (data center), kecerdasan buatan, sampai kendaraan listrik.
“Akan ada tensi, karena banyaknya kesempatan. Apapun yang mendorong permintaan akan membuat menghentikan penggunaan energi fosil kian sulit,” tegas Bob Blue, CEO Dominion Energy Inc, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Lalu, bagaimana proyeksi harga batu bara pekan ini? Apakah bisa bangkit atau malah makin terhimpit?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih bertahan di zona bullish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 50,43.
RSI di atas 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI batu bara hanya tipis di atas 50, sehingga cenderung netral.
Adapun indikator Stochastic RSI berada di 13,26. Masih di bawah 20, yang artinya tergolong jenuh jual (oversold).
Pekan ini, sepertinya harga batu bara akan bergerak dalam rentang terbatas. Target support akan berada di rentang US$ 140-138/ton.
Sementara target resisten ada di kisaran US$ 143-147/ton. (aji)
Sumber: bloombergtechnoz.com, 18 November 2024
