Chicago, Beritasatu.com – Harga emas bertahan mendekati level terendah 3 minggu pada Kamis (14/9/2023) setelah indeks harga produsen dan data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) lebih tinggi dari perkiraan sehingga menimbulkan kekhawatiran suku bunga AS akan tetap lebih tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini membuat dolar menguat dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertambah.
Harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi US$ 1.909,05 per ons terendah sejak 23 Agustus. Sementara harga emas berjangka AS ditutup pada US$ 1.932,80.
“Kami melihat beberapa data inflasi utama lebih tinggi dari perkiraan, dampaknya imbal hasil obligasi AS kembali naik dan terus menekan pasar emas,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.
Data menunjukkan harga produsen AS meningkat 0,7% pada Agustus, terbesar dalam lebih setahun. Sementara penjualan ritel AS meningkat sebesar 0,6% dibandingkan ekspektasi Reuters sebesar 0,2% dibanding periode yang sama tahun lalu
Indeks dolar AS melonjak 0,6% ke level tertinggi 6 bulan, mengurangi daya tarik emas bagi investor luar AS. Sementara imbal hasil obligasi tenor 10 tahun juga bertambah.
“Ada kekhawatiran bahwa The Fed kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga dan imbal hasil terus meningkat, ini memberikan tekanan pada pasar emas,” kata Meger.
Suku bunga tinggi mengurangi daya tarik emas batangan, yang tidak memberikan bunga.
Bank Sentral Eropa (European Centrak Bank/ECB) menaikkan suku bunga ke rekor tertinggi menjadi 4% pada Kamis, tetapi mengisyaratkan tren kenaikan segera berakhir.
Sementara harga perak turun 0,8% menjadi US$ 22,66 per ons setelah mencapai level terendah 4 minggu. Sementara platinum naik 0,6% menjadi US$ 905,87.
Adapun paladium turun 1% menjadi US$ 1.246.10, setelah menyentuh posisi tertinggi 3 minggu.
Sumber : www.beritasatu.com, 15 September 2023
