Harga Energi hingga Regulasi jadi Sandungan Hilirisasi Mineral Kritis

Sejumlah kendala masih membayangi upaya Indonesia mempercepat pengembangan industri hilirisasi mineral kritis hingga ke tahap manufaktur lanjutan.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA) Rachmat Makkasau mengatakan, tantangan terbesar dalam proses hilirisasi mineral kritis saat ini masih berkaitan dengan kesiapan ekosistem industri.

Menurutnya, keterbatasan infrastruktur pendukung, mulai dari pelabuhan, kawasan industri, hingga konektivitas logistik, dinilai masih menjadi hambatan.

Di sisi lain, kepastian pasokan energi dengan harga kompetitif juga menjadi faktor krusial. Industri pengolahan dan pemurnian mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Tanpa dukungan energi yang stabil dan efisien, daya saing produk hilir Indonesia berpotensi tergerus.

“Selain itu, skala dan kesinambungan investasi di sektor manufaktur lanjutan juga masih perlu diperkuat,” katanya kepada Bisnis, dikutip Rabu (4/3/2026).

Dia menambahkan, aspek regulasi yang kompleks turut memengaruhi kecepatan realisasi proyek industri. Perizinan yang berlapis serta perubahan kebijakan yang dinamis dapat meningkatkan risiko usaha dan menahan ekspansi investasi.

Selain itu, kebutuhan teknologi tinggi serta pembiayaan jangka panjang menjadi tantangan tersendiri. Rachmat mengatakan, industrialisasi mineral penting, terutama yang terkait dengan bahan baku baterai dan energi baru terbarukan, memerlukan investasi besar dengan periode pengembalian yang relatif panjang.

Adapun, Rachmat menilai hilirisasi yang dijalankan pemerintah Indonesia tidak sekadar memindahkan bentuk ekspor dari bahan mentah menjadi setengah jadi. Menurutnya, pada sejumlah komoditas, kebijakan tersebut mulai menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta mendorong transfer pengetahuan dan teknologi.

“Kami memandang hilirisasi telah berhasil meletakkan fondasi penting bagi industrialisasi nasional, khususnya sebagai basis pengembangan industri manufaktur,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengingatkan nilai tambah optimal baru akan tercapai apabila Indonesia mampu memperkuat sisi hilir lanjutan. Artinya, kapasitas industri manufaktur domestik perlu ditingkatkan agar produk hasil hilirisasi dapat lebih banyak diserap pasar dalam negeri, bukan hanya diekspor dalam bentuk setengah jadi.

Menurutnya, tanpa penguatan industri lanjutan, risiko yang muncul adalah Indonesia hanya berpindah dari eksportir bahan mentah menjadi eksportir produk antara (intermediate goods), dengan nilai tambah yang belum maksimal.

Sementara itu, terkait ketergantungan terhadap teknologi dan modal asing, Rachmat menilai kolaborasi global merupakan hal yang wajar dalam fase akselerasi industrialisasi.

Dia mengatakan, hal yang perlu dipastikan adalah kemitraan tersebut menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kapasitas industri nasional dalam jangka panjang.

“Dalam fase akselerasi, kerja sama dengan mitra global adalah keniscayaan. Yang terpenting, harus ada proses pembelajaran dan alih teknologi agar Indonesia tidak selamanya bergantung,” ujarnya. Editor : Denis Riantiza Meilanova

Sumber:

– 04/03/2026

Temukan Informasi Terkini

Teken GSPA, MDKA dan EMAS Bakal Pasok 6 Ton Emas ke ANTM

baca selengkapnya

ESDM Kebut RKAB, Target Rampung Sebelum Relaksasi Usai 31 Maret

baca selengkapnya

Peluang Kala Koreksi, Emiten Saham EMAS Diprediksi Ubah Rugi Jadi Laba Di 2026

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top