Harga Komoditas: Minyak Mentah Turun 1 Persen, Timah-Nikel Naik Tipis

HARGA komoditas terpantau menurun pada penutupan perdagangan Rabu (8/1). Minyak Mentah merosot lebih dari 1 persen, sementara batu bara kembali menurun di 0,7 persen.

Sedangkan harga nikel cenderung stabil, serta harga timah kembali merangkak naik menembus USD 30.000 per ton, pertama kalinya sejak 11 Desember 2024. Berikut rangkumannya dari berbagai sumber.

Minyak Mentah

Harga minyak mentah turun pada hari Rabu, karena dolar AS menguat dan peningkatan besar dalam persediaan bahan bakar AS minggu lalu menekan harga, membalikkan kenaikan sebelumnya yang didorong oleh pengetatan pasokan dari Rusia dan anggota OPEC lainnya.

Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent turun 1,16 persen menjadi USD 76,23 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,25 persen menjadi USD 73,32 per barel.

Stok bensin naik sebanyak 6,3 juta barel minggu lalu menjadi 237,7 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jejak pendapat Reuters untuk penambahan sebanyak 1,5 juta barel, menurut data yang dirilis pada hari Rabu dari Badan Informasi Energi AS.

Batu Bara

Sedangkan harga batu bara kembali menurun pada penutupan perdagangan Rabu. Harga batu bara berdasarkan tradingeconomics turun 0,72 persen dan menetap di USD 117.45 per ton.

Harga batu bara Newcastle turun karena pasokan yang melimpah, mengimbangi permintaan yang kuat dari konsumen utama. Data terbaru menunjukkan produksi batu bara China rata-rata 14,27 juta ton per hari pada November, mencetak rekor produksi batu bara tahun 2024 bagi produsen utama dunia.

Selain itu, permintaan semakin tertekan oleh curah hujan yang melimpah di pusat-pusat manufaktur utama China, yang memungkinkan tenaga hidroelektrik lebih disukai daripada tenaga batu bara.

CPO

Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) juga melemah pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan situs tradingeconomics, harga CPO turun tipis 0,39 persen menjadi MYR 4.356 per ton.

Harga CPO dipengaruhi permintaan yang lemah dan ekspor yang lesu. Impor minyak sawit India turun ke level terendah dalam sembilan bulan pada Desember karena harga melonjak ke level tertinggi dalam 2,5 tahun, yang mendorong penyuling beralih ke minyak kedelai yang lebih murah. Selain itu, pengiriman minyak sawit Malaysia turun 2,5 persen, menjadi 7,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menurut surveyor kargo.

Namun, optimisme atas permintaan China yang kuat menjelang Tahun Baru Imlek pada akhir Januari memberikan beberapa dukungan. Di produsen teratas Indonesia, otoritas mengalokasikan 15,6 juta kiloliter biodiesel untuk tahun 2025 Kebijakan ini mendukung penggunaan minyak sawit dalam negeri dan sejalan diversifikasi energi.

Nikel

Harga nikel terpantau cenderung stagnan pada penutupan perdagangan Rabu. Harga nikel berdasarkan tradingeconomics sedikit naik 0,1 persen menjadi USD 15.455 per ton.

Sepanjang tahun 2024, harga nikel melemah sekitar 6,35 persen. Pada 1 Januari 2024, harga nikel dijual dengan harga USD 16.055 per ton. Harganya terus menurun hingga berada di level USD 15.200 per ton, angka terendah dalam 4 tahun terakhir.

Harga nikel menembus angka terendah di tengah tekanan dari dolar yang lebih kuat, permintaan yang tidak pasti, dan pasokan yang melimpah terutama produksi yang tinggi dari Indonesia, pemasok utama dunia, bertahan hingga paruh kedua tahun 2024. Hal ini memperpanjang melonjaknya tingkat pasokan yang disebabkan oleh lonjakan proyek peleburan China di Indonesia setelah melarang ekspor bijih nikel pada tahun 2020.

Timah

Sementara itu, harga timah juga terpantau mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Rabu. Berdasarkan situs London Metal Exchange (LME), harga timah naik 0,45 persen menjadi USD 30.079 per ton.

Sepanjang tahun 2024, harga timah melesat 15,48 persen. Pada 1 Januari 2024, harga timah berada di level USD 24.585 per ton.

Harga timah bahkan sempat hampir menyentuh USD 35.000 per ton pada April 2024 lalu dan relatif stabil di beberapa bulan kemudian. Namun pada pertengahan November 2024, harganya kembali anjlok di kisaran USD 28.000 per ton.

Sumber: kumparan.com, 9 Januari 2025

Temukan Informasi Terkini

Berita Harian, Kamis, 02 April 2026

baca selengkapnya

Harga Batu Bara Acuan (HBA) April 2026, Kalori Tinggi Turun ke US$99,87 per Ton

baca selengkapnya

Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Rp2,93 Triliun pada 2025

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top