HARGA nikel diprediksi panas lagi tahun 2025, setelah Indonesia, produsen terbesar di dunia, berniat membatasi kuota penambangan nikel.
Berdasarkan laporan carboncredits.com, dikutip Minggu (12/1/2025), Indonesia memasok 56% nikel dunia pada 2024. Tahun ini, produksi nikel Indonesia diproyeksikan naik 7,7% menjadi 2,4 juta ton.
Namun, angka itu bisa berubah, seiring rencana Indonesia mengurangi kuota penambangan nikel. Imbasnya, produksi bijih nikel bisa turun dari 272 juta ton pada 2024 menjadi 150 juta ton. Tak ayal lagi, pasokan nikel global bisa berkurang hingga 33%.
Bank investasi Australia, seperti dikutip Bloomberg, memprediksi hal itu bisa mendongkrak harga nikel.
Sejauh ini, langkah Indonesia membatasi kuota nikel memicu gangguan pasokan. Tahun 2024, banyak pemain mengambil bijih nikel dari Filipina.
Meski ada harapan harga naik, pasar masih melihat kelebihan pasokan menjadi ancaman harga. Ini dibarengi oleh lemahnya permintaan dari sektor baja nirkarat sekaligus baterai EV, dua industri yang banyak menyedot nikel.
Data Trading Economics menunjukkan, harga nikel naik 2,25% sepanjang 2025 menjadi 15.665 per ton. Harga nikel pernah menyentuh ATH di level US$ 54.050 per ton pada Mei 2007.
Harga Wajar 2025
Berdasarkan riset DBS Group Research, saham nikel sudah jenuh jual, sehingga valuasi berada di titik nadir. Padahal, harga nikel berpeluang bangkit mulai tahun ini, ditopang ekspektasi berkurangnya surplus.
Menurut DBS, surplus nikel diprediksi naik menjadi 376 ribu ton tahun 2025 dari estimasi 2024 sebanyak 268 ribu ton. Namun, pada 2026, surplus bakal menciut menjadi 298 ribu ton.
Penyebab lonjakan surplus nikel tahun ini adalah banjir pasokan nikel dari Indonesia, seiring masifnya agenda ekspansi. Tetapi, mulai 2026, pasokan nikel bakal berkurang, karena pemain yang tidak kompetitif bakal tumbang.
DBS menilai, harga nikel saat ini berada di bawah biaya kas. Ini akan menyulitkan para pemain yang tidak kompetitif untuk memacu produksi. Makanya, institusi keuangan ini memprediksi harga nikel naik 4,1% menjadi US$ 17.500 per ton pada 2025 dan menyentuh US$ 18.500 per ton pada 2026. Editor: Harso Kurniawan
Sumber: investor.id, 13 Januari 2025
