Harga Nikel Dunia 6 November 2026 Melonjak 3,8%

Harga nikel dunia mencatat penguatan signifikan setelah kebijakan penertiban perdagangan bijih nikel di Indonesia memunculkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan global. Berdasarkan laporan Investor Daily, penguatan tersebut membawa harga nikel ke posisi tertinggi dalam lebih dari lima pekan pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Kontrak acuan nikel untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) ditutup pada US$ 16.375 per ton, meningkat 3,8% pada pukul 17.00 GMT. Dalam sesi perdagangan yang sama, harganya sempat mencapai US$ 16.415 per ton.

Pencapaian tersebut menjadi posisi tertinggi sejak 25 September. Pergerakan ini memperlihatkan respons pasar terhadap perkembangan kebijakan pertambangan Indonesia, mengingat negara tersebut merupakan produsen nikel terbesar di dunia.

Nikel memiliki peran penting dalam industri manufaktur, terutama sebagai bahan baku pembuatan baja tahan karat dan baterai isi ulang. Karena itu, perubahan kebijakan produksi maupun perdagangan dari Indonesia menjadi perhatian pelaku pasar internasional.

Penertiban tambang Indonesia memengaruhi sentimen pasar

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah langkah Satgas Penertiban Kawasan Hutan Indonesia terhadap perusahaan yang dimiliki atau memiliki keterkaitan dengan pengusaha Arif Kurniawan.

Perusahaan-perusahaan tersebut diduga menjalankan kegiatan tanpa kepatuhan terhadap ketentuan di kawasan hutan. Dugaan itu muncul setelah satgas menemukan indikasi ketidakwajaran dalam pengelolaan pertambangan, perizinan, serta mekanisme penerbitan izin.

Sejumlah pemberitaan media lokal menyebut Arif Kurniawan pernah berprofesi sebagai pedagang komoditas Glencore. Ia juga disebut mengendalikan bagian besar perdagangan bijih nikel Indonesia.

Informasi mengenai penertiban tersebut menimbulkan perhatian terhadap kemungkinan terganggunya distribusi bahan baku nikel. Kekhawatiran pasar terutama berkaitan dengan besarnya peran Indonesia dalam rantai pasokan komoditas tersebut.

Di sisi lain, industri nikel nasional juga menghadapi tekanan dari meningkatnya ongkos produksi. Pembatasan kuota pertambangan sepanjang 2026 turut menjadi faktor yang diperhitungkan oleh pelaku industri.

Perkembangan tersebut berlangsung menjelang penetapan kuota produksi bijih nikel untuk 2027. Keputusan mengenai kuota berikutnya menjadi salah satu hal yang dicermati pasar karena berkaitan dengan ketersediaan bahan baku.

Ekspor nikel Indonesia diperkirakan menyusut 6%

Tekanan terhadap pasokan juga tercermin dalam proyeksi perdagangan luar negeri. Analis Macquarie memperkirakan pengiriman nikel Indonesia beserta produk turunannya mengalami penurunan sekitar 6% sepanjang 2026.

Perkiraan tersebut lebih besar dibandingkan proyeksi yang sebelumnya dibuat pada awal tahun. Dengan demikian, perkembangan ekspor menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perubahan kondisi industri nikel nasional.

Dalam catatan analisis mengenai Indonesia, Macquarie menyampaikan,

“Untuk keseluruhan tahun ini, kami memperkirakan penurunan sekitar 6% pada total ekspor nikel dan produk-produknya, lebih besar dari perkiraan kami pada awal tahun,” tulis analis Macquarie.

Harga tembaga dan logam industri bergerak berbeda

Berbeda dengan nikel, sejumlah komoditas logam lainnya mengalami tekanan pada perdagangan di London Metal Exchange. Harga tembaga untuk pengiriman tiga bulan terkoreksi 1,3% menjadi US$ 13.828,50 per ton.

Sebelum berakhir pada level tersebut, tembaga sempat menyentuh US$ 13.768,50 per ton. Posisi itu merupakan titik terendah sejak 31 Juli.

Pelemahan tembaga berlangsung bersamaan dengan aksi jual tajam pada pasar saham Amerika Serikat (AS), khususnya saham perusahaan semikonduktor dan pusat data.

Investor turut memperhatikan kemungkinan pengawasan lebih ketat terhadap pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Perhatian tersebut muncul setelah Partai Demokrat memenangi pemilu paruh waktu AS pada Selasa (3/11/2026).

Selama ini, rencana pengembangan infrastruktur AI menjadi salah satu faktor yang menopang prospek permintaan tembaga dan timah. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan investasi teknologi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap sentimen perdagangan kedua logam.

Harga timah untuk kontrak tiga bulan di LME mengalami penurunan 1,9% menjadi US$ 46.100 per ton. Dalam perdagangan sebelumnya, komoditas ini sempat berada pada titik terendah sejak 2 April.

Sementara itu, indikator permintaan tembaga impor di China menunjukkan perkembangan berbeda. Premi Yangshan meningkat menjadi US$ 210 per ton, menyamai rekor tertinggi yang pernah dicapai pada 2013.

Kenaikan premi tersebut berlangsung ketika persediaan tembaga di luar AS berada dalam kondisi terbatas. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam memantau permintaan impor tembaga China.

Pergerakan logam lainnya juga menunjukkan variasi. Aluminium menguat 1% menjadi US$ 3.078,50 per ton, sedangkan seng melemah 0,3% menjadi US$ 3.793 per ton.

Adapun harga timbal mengalami kenaikan 0,6% ke posisi US$ 1.893 per ton. Perbedaan arah pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa masing-masing komoditas menghadapi faktor penentu harga yang berbeda di pasar global. Editors Team

 

Sumber:

– 06/11/2026

Temukan Informasi Terkini

Ditjen Minerba Beri 42 Penghargaan kepada Badan Usaha dan Tim ESDM

baca selengkapnya

Harga Timah Kerek Kinerja, TINS Bidik Laba Bersih Rp 5 Triliun hingga Akhir Tahun

baca selengkapnya

Kinerja AMMN Melonjak, Ramp Up Smelter Jadi Katalis Pertumbuhan Berikutnya

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top